Jempol yang Ringan, Beban yang Panjang: Merawat Kesehatan Mental di Ruang Digital
Tulisan dari Nurul Yulianti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Oleh: Nurul Yulianti
(Mahasiswa Program Doktor Manajemen Berkelanjutan, Perbanas Institute)
Wakil Kepala Divisi Hubungan Kelembagaan, PT. Permodalan Nasional Madani (Persero)
Bayangkan seseorang mengunggah foto setelah menyelesaikan hari yang melelahkan. Ia tidak sedang meminta penilaian atas seluruh hidupnya. Namun, beberapa menit kemudian, komentar tentang tubuh, pekerjaan, dan keluarganya bermunculan. Bagi penulis komentar, semuanya mungkin selesai setelah menekan tombol kirim. Bagi penerimanya, percakapan itu bisa terus berlangsung di kepala, bahkan setelah layar dipadamkan.
Di situlah ketimpangan ruang digital terlihat: mengirim kata membutuhkan beberapa detik, sedangkan menghadapi akibatnya bisa jauh lebih lama. Kita membangun teknologi yang membuat komunikasi semakin mudah, tetapi belum selalu membangun kebiasaan yang membuatnya semakin manusiawi. Persoalannya bukan sekadar berapa banyak media sosial yang kita gunakan, melainkan bagaimana kita memperlakukan manusia di dalamnya.
Ketika layar mengaburkan manusia
Psikolog John Suler, dalam artikel The Online Disinhibition Effect yang terbit pada 2004, menjelaskan fenomena mengapa sebagian orang lebih lepas mengekspresikan diri di internet dibandingkan dalam pertemuan langsung. Anonimitas, tidak terlihatnya lawan bicara, dan komunikasi yang tidak berlangsung serentak dapat melemahkan hambatan perilaku seseorang.
Penjelasan ini bukan pembenaran atas kekasaran. Ia membantu kita memahami bagaimana jarak digital dapat mengendurkan rem sosial. Kita tidak selalu melihat wajah yang berubah murung atau mendengar suara yang bergetar. Akibatnya, orang lain mudah diperlakukan sebagai akun, bukan manusia dengan kehidupan dan batas kemampuan menghadapi tekanan.
Namun, keterbukaan daring juga dapat menghasilkan dukungan dan keberanian meminta pertolongan. Karena itu, persoalannya bukan bahwa manusia pasti menjadi kejam ketika menggunakan media sosial. Tantangannya adalah memastikan kebebasan tersebut tidak berubah menjadi izin untuk melukai.
Kritik bukan penghinaan
Kita perlu membedakan komentar yang tidak menyenangkan dari serangan yang merendahkan. Kritik dapat terasa tajam, tetapi tetap berfokus pada gagasan, tindakan, atau kebijakan. Penghinaan menyerang martabat: bentuk tubuh, latar belakang keluarga, identitas, atau hal pribadi yang tidak relevan. Ketidaksetujuan adalah bagian dari percakapan publik; mempermalukan orang bukan syarat agar percakapan menjadi bermutu.
Kalimat “argumen ini belum didukung data” membuka ruang perbaikan. Kalimat “orang seperti kamu memang bodoh” menutupnya. Meminta komunikasi yang beradab bukan berarti menuntut semua orang selalu sepakat. Justru dengan memisahkan kritik dari penghinaan, kita dapat mempertahankan perdebatan tanpa menjadikan kesehatan mental seseorang sebagai ongkosnya.
Dalam penjelasan UNICEF UK yang dipublikasikan pada 2026, perundungan siber mencakup perilaku menyakiti secara sengaja dan berulang melalui teknologi digital. Jadi, tidak setiap komentar negatif otomatis merupakan perundungan. Meski demikian, satu ancaman serius tetap perlu ditanggapi; keselamatan tidak harus menunggu serangan berikutnya.
Membaca data dengan hati-hati
WHO Eropa, dalam laporan yang diumumkan pada September 2024, menemukan bahwa 11% remaja menunjukkan tanda penggunaan media sosial bermasalah, meningkat dari 7% pada 2018. Temuan tersebut bersumber dari survei 2022 terhadap hampir 280.000 remaja usia 11, 13, dan 15 tahun di 44 negara dan wilayah di Eropa, Asia Tengah, serta Kanada. Angka ini bukan prevalensi Indonesia.
Istilah “bermasalah” juga tidak sama dengan sekadar sering membuka aplikasi. WHO menjelaskan pola seperti kesulitan mengendalikan penggunaan, mengabaikan kegiatan lain, dan mengalami konsekuensi negatif dalam keseharian. Artinya, durasi bukan satu-satunya ukuran. Isi interaksi serta dampaknya terhadap kehidupan juga perlu diperhatikan.who
Kehati-hatian diperlukan ketika membicarakan sebab. Dalam laporan yang dirilis pada Desember 2023, National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine menyatakan bahwa bukti yang ditelaah belum mendukung kesimpulan bahwa media sosial menyebabkan perubahan kesehatan remaja pada tingkat populasi. Hubungannya kompleks dan dapat berlangsung dua arah.
Kesimpulan itu bukan alasan mengabaikan korban. Ia mengingatkan kita agar tidak menyebut seluruh kecemasan sebagai akibat media sosial, sekaligus tidak meremehkan pengalaman yang merugikan. Pernyataan ilmiah yang hati-hati justru membantu perlindungan dibangun di atas bukti, bukan kepanikan.
Bukti Indonesia: lebih dekat dengan keseharian
Penelitian Desi dan Ema Tri Laetare yang terbit dalam Jurnal Kesehatan Manarang pada April 2025 memberikan gambaran lokal. Penelitian terhadap 151 remaja di Salatiga, dengan pengumpulan data pada Januari 2024, menemukan hubungan bermakna antara pengalaman perundungan siber dan tingkat gejala depresi, kecemasan, serta stres.
Penelitian tersebut menggunakan pendekatan korelasional dan kuesioner, termasuk Depression, Anxiety, Stress Scale atau DASS-42. Temuannya mendukung perlunya perhatian terhadap pengalaman korban, tetapi tidak membuktikan bahwa perundungan siber merupakan satu-satunya penyebab gejala tersebut. Hasil pada satu kelompok di Salatiga juga tidak otomatis mewakili seluruh remaja Indonesia.
Bukti lain datang dari Purwo Setiyo Nugroho dan kolega melalui artikel dalam Acta Psychologica pada Oktober 2025. Survei terhadap 700 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur menemukan hubungan antara pengalaman perundungan siber dan kesejahteraan psikologis yang lebih rendah. Penelitian ini juga menelaah keterkaitannya dengan perilaku sedentari atau aktivitas yang banyak dilakukan sambil duduk.pubmed.ncbi.nlm.nih
Karena menggunakan desain potong lintang, penelitian itu tidak dapat memastikan urutan sebab-akibat. Namun, temuan tersebut memperluas perhatian kita: persoalan ini tidak berhenti pada remaja sekolah, tetapi juga relevan bagi mahasiswa. Kampus perlu menyediakan lingkungan dan dukungan yang memperhatikan pengalaman digital mahasiswanya.
Untuk konteks nasional, Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan menerbitkan lembar fakta Depresi pada Anak Muda di Indonesia pada 2024, berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023. Prevalensi depresi pada kelompok usia 15–24 tahun tercatat 2 persen, lebih tinggi daripada angka nasional 1,4 persen pada penduduk usia 15 tahun ke atas.
Pada 9 Oktober 2026, Kementerian Kesehatan kembali menyoroti kesenjangan pengobatan: berdasarkan SKI 2023, baru 12,7 persen penduduk dengan depresi mendapatkan pengobatan. Penting ditegaskan, 2026 adalah tahun penyampaian informasi tersebut, bukan tahun surveinya. Data ini juga tidak mengukur berapa banyak depresi yang disebabkan media sosial.
Berhenti meminta korban menjadi kebal
Respons “jangan terlalu baper” terdengar sederhana karena memindahkan seluruh pekerjaan kepada orang yang terluka. Ia diminta menenangkan diri, menjauh dari layar, dan melupakan serangan, sementara perilaku penyerangnya luput dibicarakan. Ketahanan pribadi penting, tetapi tidak patut menjadi alasan membiarkan lingkungan tetap kasar.
Menyuruh seseorang meninggalkan media sosial juga tidak selalu menjawab persoalan. Bagi sebagian orang, ruang digital adalah tempat bekerja, belajar, dan menemukan komunitas. Menutup akun dapat berarti kehilangan kesempatan. Kita perlu menawarkan perlindungan tanpa menyiratkan bahwa korban harus menghilang agar orang lain bebas menyerang.
Pendampingan dapat dimulai dengan mendengarkan tanpa menyalahkan. Pertanyaan “apa yang kamu butuhkan agar merasa lebih aman?” lebih membantu daripada “mengapa kamu mengunggah itu?”. Bantuan sebaiknya ditawarkan, bukan dipaksakan. Jangan mengumumkan pengalaman korban atau menyebarkan tangkapan layar tanpa mempertimbangkan persetujuan dan keamanannya.
Batas digital juga dapat dipandang sebagai perawatan diri, bukan kekalahan. Kita dapat mengatur siapa yang boleh berinteraksi dan percakapan mana yang tidak perlu dilanjutkan. Namun, pembatasan akses bukan pengganti pertolongan profesional ketika tekanan terasa berat atau mengganggu keseharian. Meminta bantuan tidak perlu menunggu keadaan menjadi sangat buruk.
Keberlanjutan juga menyangkut ruang digital
Dalam perspektif manajemen berkelanjutan, pertanyaannya bukan hanya apakah sebuah platform terus tumbuh, melainkan apakah pertumbuhan itu menjaga kesejahteraan orang yang menghidupinya. Ukuran keberhasilan yang berhenti pada jumlah pengguna dan interaksi terlalu sempit untuk menilai kualitas kehidupan digital. Ramainya percakapan belum tentu berarti sehatnya hubungan.
Karena itu, saya memandang kesehatan mental sebagai bagian dari tanggung jawab pengelolaan ruang digital. Platform perlu menyediakan pelaporan yang mudah, penanganan pelecehan yang transparan, dan perlindungan yang dapat digunakan tanpa prosedur membingungkan. Rekomendasi National Academies juga menekankan perlindungan terhadap pelecehan serta tanggung jawab industri, bukan semata urusan ketahanan pengguna.
Sekolah, kampus, perusahaan, dan pengelola komunitas dapat mengambil bagian. Literasi digital sebaiknya tidak berhenti pada kemampuan membuat konten atau mengenali informasi palsu. Ia perlu mencakup cara berbeda pendapat, mendampingi korban, dan menolak penyebaran penghinaan. Akun resmi organisasi pun perlu memiliki aturan moderasi yang jelas.
Aturan tersebut harus membedakan kritik sah dari serangan personal. Moderasi tidak boleh menjadi alasan menghapus keluhan yang memalukan organisasi. Melindungi martabat pengguna dan menerima kritik adalah dua kewajiban yang dapat berjalan bersama. Ruang digital yang sehat membutuhkan keduanya, bukan ketertiban semu yang dibangun dengan membungkam ketidaksetujuan.
Perlindungan juga berarti tidak menyerahkan seluruh serangan kepada pegawai pengelola akun. Mereka memerlukan dukungan atasan dan pembagian tanggung jawab yang jelas. Ini merupakan usulan tata kelola: pekerjaan menghadapi publik tidak semestinya dimaknai sebagai kewajiban menerima segala bentuk pelecehan.
Sebagai penonton, kita pun memiliki pilihan. Tidak ikut menghina adalah awal. Tidak menyebarkan ulang materi yang mempermalukan korban merupakan langkah berikutnya. Dukungan dapat diberikan tanpa menjadikan pengalaman seseorang sebagai tontonan baru. Niat membantu perlu disertai pertimbangan tentang akibatnya.
Jeda sebelum mengirim
Pada tingkat paling sederhana, perubahan dapat dimulai dari satu jeda. Sebelum berkomentar, tanyakan: apakah informasi ini benar, apakah relevan dengan persoalan, dan apakah cara saya menyampaikannya merendahkan seseorang? Jika kalimat yang sama terasa tidak pantas diucapkan di hadapannya, kita perlu memeriksa kembali alasan menuliskannya.
Jeda itu tidak akan menyelesaikan seluruh persoalan kesehatan mental atau menghapus perundungan. Namun, ia menolak anggapan bahwa kecepatan harus mengalahkan pertimbangan. Kebebasan berbicara akan lebih bermakna ketika berjalan bersama kesediaan memikirkan akibat. Kita tetap dapat tegas tanpa kejam, kritis tanpa menghina, dan berbeda tanpa saling menghancurkan.
Ruang digital yang layak dihuni bukan ruang tanpa perdebatan. Ia adalah ruang tempat manusia tidak harus kehilangan martabat agar percakapan tetap hidup. Teknologi telah mendekatkan jari kita kepada kehidupan orang lain. Sekarang, tanggung jawab kita adalah memastikan kedekatan itu tidak membuat empati justru semakin jauh.

