Konten dari Pengguna

Kedermawanan Publik dan Celah Skandal Laporan Keuangan: Darurat Transparansi

Siti Nurul Fathimah

Siti Nurul Fathimah

Dosen Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Siti Nurul Fathimah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Kedermawanan Jadi Celah Skandal: Generated Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Kedermawanan Jadi Celah Skandal: Generated Gemini AI

Sebagai warga negara yang tinggal di wilayah paling rawan bencana, kedermawanan publik adalah refleks alami orang Indonesia. Namun, refleks mulia ini kerap ternoda oleh celah skandal akibat lemahnya tata kelola. Di tengah darurat transparansi filantropi, institusi pengelola dana darurat dituntut untuk menyajikan laporan keuangan yang akuntabel, mirip dengan standar yang dibahas dalam kajian transparansi lembaga amal.

Namun, refleks mulia ini perlahan diwarnai trauma komunal. Skandal demi skandal penyelewengan dana umat menyadarkan kita pada satu realitas pahit: kedermawanan publik tanpa dibentengi tata kelola yang ketat, hanyalah ladang subur bagi para pemburu rente. Baca juga: https://www.antaranews.com/berita/5355553/bukan-sekadar-niat-baik-lembaga-filantropi-wajib-transparan?page=all

Ironisnya, literasi filantropi kita sering kali berhenti sampai pada tahap "menyerahkan donasi", dan abai pada proses "mempertanyakan laporan keuangannya". Di sinilah kita berhadapan dengan sebuah ilusi kepercayaan.

Dalam dunia bisnis profesional, setiap rupiah yang keluar-masuk diukur dengan standar Good Corporate Governance (GCG) yang ketat. Ada pemisahan fungsi, audit independen, dan pengungkapan (disclosure) publik. Anehnya, ketika berbicara tentang dana kemanusiaan yang menampung miliaran uang masyarakat, standar tata kelola ini sering kali melonggar, bersembunyi di balik tameng "niat baik" dan "kepercayaan".

Padahal, ketiadaan GCG di lembaga pengelola dana kemanusiaan baik NGO, yayasan, maupun platform urun dana bukan lagi sekadar kelemahan administratif. Itu adalah celah sistemik. Ketika fungsi penerimaan uang, penyaluran, dan pencatatan dilakukan oleh pihak yang sama tanpa pengawasan berlapis (internal control), peluang terjadinya manajemen laba atau penyimpangan dana (secara sengaja maupun tidak) menjadi sangat besar.

Sangat janggal rasanya ketika di tingkat akar rumput, para pelaku usaha mikro dan warung kelontong didorong mati-matian untuk melek literasi keuangan dan menerapkan standar pembukuan agar "naik kelas". Namun di sisi lain, lembaga-lembaga pengumpul dana raksasa justru gagap menyajikan laporan keuangan yang transparan dan mudah diaudit kepada publik.

Sudah saatnya kita mengadopsi apa yang disebut sebagai Humanitarian Accounting (Akuntansi Kemanusiaan). Dalam konsep ini, akuntansi tidak ditempatkan sekadar sebagai pencatatan debit-kredit atau urusan kepatuhan pajak semata. Lebih dari itu, akuntansi adalah instrumen moral.

Humanitarian Accounting menuntut adanya rekam jejak yang jelas (traceability). Publik berhak tahu persis, dari Rp100.000 yang didonasikan, berapa persen yang benar-benar tersalurkan kepada korban, dan berapa porsi yang terpotong untuk biaya operasional atau gaji pengurus. Sayangnya, rasio beban operasional ini sering kali disamarkan dalam laporan keuangan yang dibuat terlalu agregat (digabung-gabung), sehingga publik dibiarkan buta arah atas perputaran uang mereka.

Memasuki bulan-bulan rawan krisis dan anomali cuaca seperti saat ini, mitigasi bencana harus dibarengi dengan mitigasi kejahatan finansial. Mengelola dana umat membutuhkan lebih dari sekadar spanduk heroik dan foto-foto penyerahan bantuan. Ia menuntut infrastruktur transparansi seketat perusahaan publik di bursa saham.

Pada akhirnya, pelaporan keuangan yang akuntabel bukanlah beban birokrasi bagi lembaga amal. Menyajikan pembukuan yang bersih, diaudit, dan dapat diakses kapan saja oleh publik adalah bentuk penghormatan tertinggi kepada dua pihak sekaligus: mereka yang telah berkorban menyisihkan hartanya, dan mereka yang sedang menderita menunggu bantuan tersebut.

Kedermawanan memang lahir dari hati, tetapi ia hanya bisa dijaga dengan akuntansi.