Konten dari Pengguna

Jadi ASN di Era Reformasi Birokrasi: antara Mohon Maaf dan Siap, Kami Bantu

Kalau ada yang bertanya, “Kerja jadi ASN itu seperti apa?”, jawaban saya biasanya sambil tersenyum: “Campur-campur, Bang. Ada capeknya, ada lucunya, ada bangganya.”

Dan kalau ditanya soal reformasi birokrasi, saya jawab jujur: istilahnya terdengar berat, padahal intinya sederhana. Kita sedang belajar menjadi pelayan publik yang lebih baik. Pelan-pelan, sambil sesekali tersandung.

Mari kita akui dulu: citra birokrasi memang belum sepenuhnya manis. Bayangan soal antrean panjang, berkas yang harus difotokopi tiga rangkap, dan jawaban “Bapak balik lagi besok ya” masih hidup di kepala banyak orang.

Dok: AI

Sebagian memang benar adanya. Tapi sebagian lagi sudah mulai berubah. Layanan yang dulu harus datang langsung kini banyak yang bisa diurus lewat aplikasi. Prosedur yang dulu berbelit mulai disederhanakan. Perubahannya mungkin tidak heboh, tetapi nyata.

Bayangkan seorang ibu datang ke kantor pemerintah. Ia membawa map lusuh dan wajah bingung, tidak tahu harus ke mana. Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi.

Kemungkinan pertama: petugas menjawab singkat, menunjuk ke arah pojok, lalu kembali menatap layar. Ibu itu pergi dengan perasaan makin bingung.

Kemungkinan kedua: petugas berdiri, menyapa, menanyakan keperluannya, lalu mengantar sampai ke meja yang tepat.

Perbedaannya tidak terletak pada anggaran atau aplikasi. Hanya pada sikap, dan sering kali di situlah reformasi birokrasi yang sesungguhnya terjadi.

Di balik layar, ada satu prinsip yang menurut saya penting sekali bagi ASN, yaitu sistem merit. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang Aparatur Sipil Negara menegaskan bahwa pengelolaan ASN didasarkan pada kualifikasi, kompetensi, dan kinerja.

Bahasa santainya begini: yang bekerja baik layak dihargai, yang mau belajar layak diberi kesempatan. Rasanya adil, kan? Dan jujur saja, prinsip ini membuat kita semua lebih bersemangat. Siapa yang tidak termotivasi kalau tahu kerja kerasnya dihitung?

ASN punya nilai dasar BerAKHLAK. Singkatannya mudah dihafal dan sering terpampang di mana-mana. Tapi ujian sebenarnya ada di hal-hal kecil, misalnya:

  • tetap ramah saat jam makan siang sudah dekat;

  • mau belajar aplikasi baru meski awalnya bikin pusing;

  • mau kerja sama dengan bidang lain tanpa saling lempar “itu bukan tugas saya”.

Kedengarannya memang sepele. Tapi kalau dilakukan bersama-sama, efeknya bisa terasa sangat besar.

Saya tidak mau pura-pura semuanya sudah sempurna. Masih ada keterbatasan anggaran, ada pegawai yang butuh waktu beradaptasi dengan teknologi, dan ada kebiasaan lama yang sulit pamit. Reformasi memang bukan tombol yang ditekan lalu semua berubah.

Tetapi menurut saya, selama kita mau mengakui kekurangan dan terus memperbaiki, itu sudah langkah yang benar.

Jadi, apa makna reformasi birokrasi bagi seorang ASN biasa seperti saya? Bukan sekadar program atau laporan, melainkan pilihan harian: mau menjawab “mohon maaf, bukan wewenang kami”, atau “siap, kami bantu carikan solusinya”.

Pilihan kedua memang lebih menuntut tenaga. Tapi di situlah kepercayaan masyarakat dibangun, satu pelayanan dalam satu waktu.