Meningkatkan Psychological Well Being pada Guru
Tulisan dari Sofia Nurvita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa waktu terakhir, kita sering mendengar berita mengenai stres kerja yang dialami oleh guru. Penyebabnya bermacam-macam, diantaranya ada yang disebabkan oleh tugas yang terlalu berat, ketidakmampuan beradaptasi dengan teknologi, maupun hal lainnya. Bahkan, pada Tahun 2022, Presiden Joko Widodo pernah menyebutkan dalam pidatonya bahwa tingkat stres guru lebih tinggi dibandingkan dengan pekerjaan lainnya.
Stres yang dialami oleh guru seringkali juga dikaitkan dengan ketidakmampuannya dalam menjaga kesejahteraan psikologis (psychological well being) agar tetap baik. Psychological Well Being sendiri dapat diartikan sebagai keadaan diri seseorang yang dapat merasakan kebahagiaan, mampu mengoptimalkan kelebihan pada dirinya serta merasakan hidup yang penuh makna.
Dalam menjalankan pekerjaannya, seorang guru diharapkan memiliki psychological well being yang baik karena hal tersebut berpengaruh terhadap kondisinya saat bekerja. Guru yang memiliki psychological well being yang baik, dinilai dapat melakukan tugas pengajaran dan mendidik muridnya dengan lebih baik karena ia dianggap "telah selesai dengan dirinya sendiri".
Untuk meningkatkan psychological well being, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan:
1. Merawat Diri Sendiri (Self Care)
Self care dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya:
Menjaga kebersihan diri dan lingkungan
Melakukan olah raga rutin
Menjaga pola makan
Meningkatkan ibadah
Meluangkan waktu untuk diri sendiri (me time)
2. Membangun Hubungan Sosial yang Kuat
Dalam membangun hubungan sosial dengan orang lain, perlu dilakukan beberapa upaya, antara lain:
Meluangkan waktu untuk bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang terdekat
Memfokuskan pikiran untuk berada di waktu dan tempat yang sama (here and now)
Menyimak dengan menggunakan empati
Bersifat terbuka (komunikasi dua arah)
Menghindar dari hubungan sosial yang tidak sehat (red flag)
3. Mengembangkan Coping Strategies
Terdapat dua bentuk coping strategies yang perlu dikembangkan, yaitu:
Problem-Focused Coping: negosiasi, coaching
Emotion-Focused Coping: self care, olahraga, curhat, journaling, butterfly hug
4. Menetapkan Tujuan yang Realistis
Tentukan goal yang jelas dan terukur: SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, dan Time-Bound). Tulislah semua tujuan yang ingin dicapai. Selanjutnya mintalah feedback pada orang lain untuk mengetahui apakah tujuan yang ditulis telah memenuhi kriteria dalam SMART.
5. Melatih Berpikir Positif
Melatih diri untuk dapat selalu berpikir positif dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:
Berlatih untuk selalu bersyukur
Kelilingi diri dengan hal-hal dan lingkungan yang positif
Mengurangi pikiran negatif
6. Mencari Dukungan atau Bantuan Profesional
Dukungan sosial dapat diperoleh dari keluarga, sahabat, teman kerja dan komunitas. Sedangkan bantuan profesional dapat diperoleh dari konselor, psikolog, psikiater dan dokter.
7. Mempraktekkan "Mindfulness"
Mindfulness merupakan upaya untuk melatih kembali pikiran secara perlahan untuk fokus pada momen saat ini. Hal ini juga mengembangkan kemampuan untuk sadar dan memberi perhatian penuh pada momen saat ini daripada berkutat pada masa lalu atau mengkhawatirkan masa depan. Dalam melatih mindfulness, dapat dilakukan dengan cara:
Meditasi duduk: Duduklah dengan nyaman di lantai atau di kursi dengan sandaran lurus, fokus pada napas dan sadarilah sensasi di sekitar, terutama naik dan turunnya dada, kapan pun merasa terganggu, cukup kembalikan perhatian pada napas.
Panca indra: Sadarilah 5 hal yang Anda dapat lakukan: melihat, meraba, mendengar, membau, dan mengecap
Latihan dilakukan setidaknya 3 hingga 4 kali seminggu selama 10 hingga 15 menit per hari.
Upaya peningkatan psychological well being ini diharapkan dapat diusahakan secara masif oleh guru yang bersangkutan, pihak sekolah maupun Dinas Pendidikan setempat. Dengan meningkatnya psychological well being guru, diharapkan dapat meningkatkan kinerjanya yang berdampak pada peningkatan mutu pendidikan siswa.

