Konten dari Pengguna

Denting Besi Pecalongan: KKN 142 UINSA Angkat Tradisi dan UMKM Pandai Besi

Proses Pandai Besi
zoom-in-whitePerbesar
Proses Pandai Besi

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Kelompok 142 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya yang bertugas di Desa Pecalongan, Kecamatan Sukosari, Kabupaten Bondowoso. Menyuarakan eksistensi tradisi Pandai Besi melalui rangkaian program kerja berbasis pemberdayaan UMKM, di antaranya pemasangan plang usaha, penandaan titik lokasi di Google Maps, dan pembuatan video branding untuk memperkuat identitas serta memperluas jangkauan usaha secara digital.

Perkembangan zaman melaju tanpa jeda, ketika digitalisasi menguasai nyawa setiap hari kita, masih terdengar denting logam dipukul disudut perkarangan desa. Bukan sekadar lantunan suara, tetapi gema dari masa lalu yang belum sudi hengkang. Gema dentingan itu bukan hanya tentang produksi. Ia adalah denyut warisan, jejak kehidupan yang tidak pernah dibukukan, tetap bertahan dalam ingatan dan tindakan.

Rangkaian kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN), bersama rekan Kelompok KKN 142 UINSA, menyusuri desa berkunjung pada setiap rumah warga yang memiliki segudang harapan melalui Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Salah satu UMKM yang kami temukan adalah Kelompok Pandai Besi, produksi rumahan yang dikelolah turun temurun hingga tiga generasi. Kelompok Pandai Besi ini terdiri dari dua tim yang beranggotakan tiga orang pada setiap timnya.

Mereka bekerja di pekarangan rumah, ruang sederhana yang dialihfungsikan menjadi mata pencaharian. Menggunakan peralatan yang tampak lawas: blower, palu, arang, dan tekad diwariskan turun-temurun. Tangan menghitam karena bara, mereka berjuang membentuk sabit dan arit, peralatan yang berguna dan bermakna untuk siluet ekonomi desa, tersebar hingga ke pelosok Madura dan Blitar. Pengerjaan Pandai Besi dihalaman rumah pekarangan rumah). Tiga orang terlibat dalam pembuatan dengan cara pembagian tugas pada setiap hari pengerjaanya.

Tekniknya masih tradisional, tapi hasilnya bisa mencapai 20 alat dalam empat hari. Produk dipesan melalui telepon, bahkan bisa request bentuk sesuai kebutuhan petani. Saat saya menanyakan bantuan apa yang pernah diterima dari pemerintah, salah satu dari mereka menjawab singkat,

“Pernah dikirimi alat, tapi gak cocok sama ukuran lubang apinya dek. Akhirnya ya gak dipakai.”

Jawaban yang disampaikan mengisyaratkan persoalan yang mendalam, bantuan yang tidak didasari survei kebutuhan sering kali justru menjadi beban, menjadi barang yang tidak berguna. Disisi lain, saya berbincang dengan Pak Jamaludin sebagai pengelola usaha bersama empat orang. Empat orang tersebut masih ada hubungan saudara dan tetangga dengan Pak Jamaludin. Ia menjelaskan bahwa modal awal yang digunakan sebesar satu juta. Hasil dari produksi tersebut bisa mencukupi untuk membeli besi rosokan, arang, dan alat penyalur api.

“Kalau sudah cocok, orang pesan lagi. Ada juga yang datang belajar langsung ke sini,” katanya Pak Jamaludin.

Tempatnya kini bukan sekadar tempat produksi, tapi juga ruang belajar bagi warga dari desa lain (termasuk pendatang dari luar kota). Mereka tawarkan bukan hanya barang, melainkan hasil tangan yang penuh cerita dan keterampilan yang diwariskan sejak kakek mereka masih muda. Sayangnya, semua itu tak pernah terdokumentasi secara resmi. Ia hidup dalam diam, berpindah dari tangan ke tangan, dari mata ke mata.

Sebagai mahasiswa Sastra Indonesia, saya melihat ini bukan semata aktivitas ekonomi, tetapi juga teks budaya yang layak dibaca. Pandai besi adalah puisi kerja, prosa kehidupan. Di dalamnya ada narasi tentang manusia dan alat, tentang warisan dan keberlanjutan. Ini bukan soal apa yang mereka hasilkan, tapi apa yang mereka wakili: daya tahan, ketekunan, dan keterikatan manusia pada tanahnya sendiri.

Sayangnya, narasi semacam ini terlalu sering dibisukan. Di tengah gemerlap budaya instan dan jagat digital yang bising, kita lupa bahwa desa menyimpan narasi yang tidak viral, tapi vital. Narasi yang tumbuh dalam sunyi, tapi akarnya menancap mendalam.

Pandai Besi adalah simbol. Ia merupakan identitas bagi desa pecalonga. Pemerintah, akademisi, dan masyarakat harus hadir bukan sekadar membawa alat, tapi membuka ruang. Ruang untuk pelatihan, dokumentasi, dan promosi yang sesuai dengan ritme desa. Bukan hanya membantu menjual produk, tapi mendampingi mereka menyuarakan kisah.

Sebab masih ada besi yang dipanaskan dan dipukul pada pekarangan rumah mereka, selama itu pula desa berbicara. Dengan denting yang tak perlu lantang, tapi cukup menggetarkan. Sebab tradisi tidak harus keras untuk bertahan. Ia hanya perlu dimaknai dan diteruskan.

Sebagai bentuk dukungan nyata dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN), kami mencoba menghadirkan langkah kecil yang bermakna besar: membuat plang usaha pandai besi dan menandai lokasinya di Google Maps. Ini bukan sekadar proyek teknis, tapi bagian dari upaya memberi identitas pada sebuah tradisi yang selama ini tersembunyi. Sebab sebuah usaha yang tak terlihat, perlahan bisa tergeser.

Memberi nama dan titik pada peta adalah cara kami menjaga agar tradisi ini tidak hanya hidup dalam ingatan, tapi juga hadir dalam pencarian dan kunjungan. Ini adalah bentuk sederhana dari pengakuan bahwa pandai besi bukan bayang-bayang masa lalu, melainkan bagian sah dari masa kini yang layak diberi ruang dan arah. Pembuatan video branding menjadi upaya agar Kelompok UMKM Pandai Besi terdengar oleh zaman dan peradaban.

Kontak Media:

Posko KKN 142 Bondowoso

Instagram kkn142_pecalongan

Tiktok kkn142_pecalongan