Niatnya Nulis Skripsi, Eh Malah Jadi Ken Dedes

Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret yang tertarik pada bidang media, komunikasi publik, dan pembuatan konten.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nasywa Yasmin Nur Ameylia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dedes
Penulis dan ilustrator: Egestigi
Penerbit: Akad Media Cakrawala
Genre: Fiksi sejarah, roman fantasi
Jumlah halaman: sekitar 420 halaman (ditambah 80 halaman ilustrasi)
Bahasa: Indonesia
Bayangkan kamu sedang kelelahan menyusun tugas akhir tentang sejarah Singasari, lalu tiba-tiba terbangun bukan di kamar kos, melainkan di dalam tubuh Ken Dedes. Dari situlah novel komik Dedes bermula, mengangkat tiga nama besar dalam sejarah Jawa kuno yaitu Dedes, Arok, dan Tunggul Ametung, lalu membungkusnya dalam balutan fiksi yang terasa dekat dan personal. Buku ini merupakan versi novel dari webtoon yang sudah lebih dulu mencuri perhatian banyak pembaca, lengkap dengan ilustrasi yang diambil dan digambar ulang dari versi aslinya.
Mita adalah mahasiswi yang sedang berjuang menyelesaikan tugas akhirnya tentang sejarah kerajaan Singasari. Di tengah keputusasaan karena menemukan banyak kejanggalan dalam catatan sejarah yang ia pelajari, ia terbangun sebagai Ken Dedes, perempuan yang kelak dikenal sebagai ibu dari raja-raja Jawa. Dari sana, Mita tidak lagi hanya membaca sejarah, tetapi benar-benar menjalaninya. Ia harus menghadapi Tunggul Ametung, Akuwu Tumapel yang kejam namun setia, serta Arok, prajurit ambisius yang menyimpan banyak rahasia. Di tengah jalinan cinta, dusta, manipulasi, dan pengkhianatan, Mita dihadapkan pada pilihan yang berat, yaitu menyelamatkan diri atau justru ikut menentukan takdirnya sendiri sebagai sang ratu.
Kekuatan utama Dedes terletak pada caranya menghidupkan sejarah yang selama ini terasa jauh dan kaku menjadi sesuatu yang personal dan emosional. Lewat sudut pandang Mita, pembaca diajak ikut merasakan kebingungan, ketakutan, sekaligus rasa penasaran terhadap kebenaran sejarah yang selama ini dipelajari di bangku sekolah. Premis tubuh yang tertukar dengan tokoh sejarah ini membuat cerita terasa segar dan tidak sekadar menceritakan ulang kisah lama. Ilustrasi yang disertakan juga menjadi nilai tambah besar, karena membantu pembaca membayangkan suasana kerajaan Tumapel dengan lebih hidup, sementara gaya penceritaannya yang mengalir membuat buku ini terasa seperti menonton webtoon dalam bentuk kata-kata. Satu-satunya catatan adalah alurnya yang belum memberikan penyelesaian penuh karena ceritanya masih berlanjut, dan pembaca perlu mengingat bahwa ini adalah fiksi yang mengambil kebebasan kreatif dari sejarah aslinya, meski hal itu tidak banyak mengurangi keseruan membacanya.
Pada akhirnya, Dedes berhasil mengemas sejarah Singasari menjadi kisah yang hangat, dramatis, dan mudah dicerna, terutama bagi pembaca muda yang ingin mengenal sejarah lewat cara yang lebih menyenangkan. Buku ini sangat direkomendasikan bagi penggemar roman fantasi sejarah, pembaca webtoon Dedes yang ingin merasakan pengalaman membaca dalam format baru, maupun siapa pun yang penasaran dengan kisah cinta dan intrik di balik berdirinya kerajaan Singasari.
