Konten dari Pengguna

Maaf, Mas, Kata Hakim Itu, Kita Nggak Bisa Nikah

Nyengir

Nyengirverified-green

Sebab hydup sesungguhnya adalah layf ~

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nyengir tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Si Mbakyu (Foto: Rondell Melling)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Si Mbakyu (Foto: Rondell Melling)

Dear Masku,

Sudah kelewat percaya diri aku menanti saat-saat itu; saat-saat Mas akan meminangku jadi istri. Kepalaku mengandai-andai akan seperti apa pernikahan kita kelak, Mas. Apa lagi yang kita tunggu? Kita berdua sudah saling menjajaki keberduaan satu sama lain, sudah punya bekal pendidikan yang matang, dan niat ini sudah kita rajut sedemikian lamanya.

Kini harapan itu pupus ketika pagi ini aku membaca salah satu postingan di portal online. Salah satu hakim pintar nan cendekia di tanah air ini menulis pernyataan yang tak mampu kujangkau dengan nalar sendiri. Bukan, bukan karena ia teralu ngawur. Mungkin aku yang kelewat bodoh, Mas. Dia begitu intelektuil dan bertitel tinggi, mana mungkin bisa kuragukan dengan mudah?

Begini yang media itu kutip, Mas:

Untuk itu, harus ada tes keperawanan," kata Binsar dalam halaman 194.

Jika ternyata sudah tidak perawan lagi, maka perlu tindakan preventif dan represif dari pemerintah. Barangkalai, kata Binsar' pernikahan bisa ditunda dulu.

Mas, jika memang hal itu kejadian, apa yang nanti bakal mereka lakukan kepadaku sebelum kita lamaran? Aku akan digondol orang tua ke rumah sakit. Dipaksa masuk bangsal. Para perawat itu mempersilakan aku berbaring di ranjang. Ia genggam tangan dan kedua kakiku. Ia buka lebar selangkanganku.

Aku tidak tahu pasti apa yang akan mereka lakukan padaku selanjutnya, Mas. Mungkin seorang dokter akan memasukkan benda asing ke dalam kemaluanku, jika bukan mengoyak-ngoyak leher rahimku, hanya untuk mengetahui apakah selaput daraku masih ada di sana.

Mas, bahkan aku tak tahu seperti apa bentuk selaput daraku sendiri. Aku belum pernah melihat bercak darah itu keluar melalui selangkanganku. Aku tak kenal, dewa suci nan luhur macam apakah ia, sampai-sampai ia sedigdaya itu menentukan kepantasanku untuk membangun rumah tangga denganmu. Secantik apa si selaput dara ini berupa, sampai-sampai ia disetujui oleh masyarakat sebagai ukuran moralitasku secara sosial, Mas.

Kukira aku akan dipandang berdasarkan hasil kerjaku sebagai seorang yang berhasil mengejar gelar dari hasil keringat sendiri. Aku senang dan puas dengan pekerjaanku. Aku tak pernah jahat sama orang. Tetapi, semua rusak sepenuhnya ketika mereka memandangku hanya dari gumpalan darah di ujung leher rahim, yang aku sendiri tak tahu apakah ia nyata, atau ia bersifat khayali.

Siapa tahu orang-orang di luar sana bersekongkol untuk menciptakan ide "selaput dara" itu pada benak kami, para perempuan, agar ia tertanam di batok kepala kami: "itulah ukuran harga dirimu, Nona!"

Mas, apakah artinya gerakan feminisme yang sampai turun ke jalanan itu? Patriarki adalah setan kebal yang tak bisa diruntuhkan, sebab orang-orang di dalamnya mengamini kehadiran setan itu. Ah, atau jangan-jangan, Mas juga sama seperti mereka? Seksis, dan mengurusi ranah per-selangkangan-an saja? Ah, kalau memang Mas juga tipikal yang seperti itu, aku mundur saja, Mas. Biar melajang sampai wafat.

Maaf jika aku terlalu paranoid menanggapi isu tes keperawanan sebelum menikah ini, Mas. Aku cemas ini semua bakal kejadian. Soalnya, yang mengeluarkan pernyataan itu titelnya Doktor, Mas.

Love you,

Si Mbakyu yang Kamu Cintai