Konten dari Pengguna

Jauh dari Sorotan, Dekat dengan Kenyataan: Potret Kehidupan di Pelosok Negeri

Cornelia benga

Cornelia benga

Mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Cornelia benga tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://pixabay.com/id/
zoom-in-whitePerbesar
https://pixabay.com/id/

Ketika anak-anak kota pergi ke sekolah dengan seragam bersih dan tas berisi buku baru, di pelosok sana, ada anak-anak yang harus berjalan kaki berjam-jam, menyebrangi sungai, bahkan meminjam sandal agar bisa ikut belajar. Indonesia yang megah tak selalu tampak megah di setiap sudutnya.

Di banyak daerah terpencil—entah di perbukitan Papua, pesisir Nusa Tenggara Timur, atau pedalaman Kalimantan—pendidikan masih menjadi perjuangan. Sekolah berdinding kayu, guru yang datang hanya seminggu sekali, atau bangku yang harus bergantian digunakan. Tapi semangat anak-anak itu justru luar biasa: mereka tetap datang, meski perut kosong, meski hujan deras, meski buku mereka hanya satu untuk semua mata pelajaran.

Hal yang sama terjadi pada kehidupan ekonomi. Di kota, kita bicara soal saham dan startup. Tapi di pelosok, ekonomi berarti: berapa ekor ayam yang bisa dijual untuk beli beras, atau apakah hasil panen bisa cukup untuk bayar seragam sekolah. Akses ke pasar sulit, harga pupuk tinggi, dan pembeli datang hanya sesekali. Masyarakat bertahan bukan karena punya banyak, tapi karena terbiasa cukup dengan sedikit.

Sayangnya, suara mereka jarang terdengar. Sinyal ponsel sering hilang, apalagi perhatian dari pengambil kebijakan. Padahal, Indonesia bukan hanya Jakarta, Bandung, atau Surabaya. Indonesia juga ada di dusun yang belum dialiri listrik, di sekolah yang belum punya toilet, di ibu-ibu yang harus memikul air dari mata air sejauh dua kilometer.

Tapi meski hidup keras, mereka tidak menyerah. Mereka tetap menanam, tetap mengajar, tetap berharap. Karena di balik keterbatasan, mereka percaya bahwa masa depan tetap bisa diperjuangkan—asal tidak dilupakan.

Indonesia tak akan benar-benar maju kalau kemajuan hanya dirasakan sebagian. Pembangunan bukan sekadar soal infrastruktur besar, tapi soal kehadiran yang adil. Karena suara dari pelosok pun punya arti—jika kita mau mendengar.

Artikel ini ditulis untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan, dosen pengampu Mawardi Nurullah, S.Pd., M.Pd.

Cornelia Benga Asan – Mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Pamulang