Kolaborasi atau Kompetisi Jalan Tengah Ekonomi Mikro di Era Super-app

Mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Cornelia benga tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah percepatan digitalisasi ekonomi nasional, pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) menggagas inisiatif besar yang disebut Super App UMKM. Diluncurkan pada Juni 2025, platform ini dirancang untuk menjadi pusat layanan digital terpadu bagi jutaan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia.
Platform ini sementara dinamai SAPA UMKM (Sentra Aplikasi Pelayanan UMKM) dan dirancang untuk menghimpun berbagai layanan pelaku usaha dalam satu sistem: mulai dari pengurusan legalitas, akses pembiayaan, pelatihan, pemasaran digital, hingga proses sertifikasi produk.
Dengan demikian, proses yang selama ini tersebar di berbagai platform dan lembaga bisa dipusatkan dalam satu aplikasi yang efisien dan mudah digunakan.
SAPA UMKM juga akan didukung oleh teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan machine learning. Teknologi ini memungkinkan sistem memberikan rekomendasi layanan secara personal dan berbasis data, sesuai karakteristik serta kebutuhan masing-masing pelaku usaha. Pemerintah menargetkan aplikasi ini dapat menjangkau 30 hingga 40 juta UMKM secara aktif dalam beberapa tahun mendatang.
Untuk membangun ekosistem digital yang berkelanjutan, kolaborasi lintas sektor menjadi hal yang tidak terelakkan. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti Telkom Indonesia akan berperan sebagai penyedia infrastruktur teknologi dan penyimpanan data.
Di sektor keuangan, bank-bank seperti BRI dan BNI telah menyatakan dukungan terhadap integrasi sistem pembiayaan digital, termasuk pengembangan credit scoring yang lebih inklusif.
Sementara itu, perusahaan teknologi seperti Tokopedia, GoTo, dan berbagai startup di sektor pertanian, kelautan, serta makanan-minuman menunjukkan antusiasme untuk berkontribusi melalui penyediaan Application Programming Interface (API) maupun kolaborasi fitur.
Dengan dukungan data yang terstruktur dan terintegrasi, SAPA UMKM diharapkan dapat menjadi basis bagi kebijakan publik yang lebih presisi. Pemerintah memperkirakan tingkat digitalisasi UMKM akan meningkat dari 25% menjadi lebih dari 60%.
Akses terhadap pembiayaan juga diproyeksikan naik dari 20% menjadi di atas 35%, dan jumlah UMKM yang mampu menembus pasar ekspor ditargetkan melonjak dari 0,8% menjadi 3–5%.
Tak hanya itu, proses perizinan dan sertifikasi seperti halal, izin edar, dan keamanan produk diharapkan menjadi lebih sederhana dan cepat, sehingga meningkatkan daya saing UMKM di pasar domestik maupun global.
Meski begitu, sejumlah tantangan perlu diantisipasi. Rendahnya literasi digital sebagian pelaku UMKM, tumpang tindih regulasi antar instansi, serta kekhawatiran terhadap perlindungan data dan privasi pengguna menjadi isu yang harus diselesaikan secara serius.
Karena itu, strategi pendampingan berbasis komunitas, pelatihan berkelanjutan, serta penguatan tata kelola teknologi yang transparan dan akuntabel menjadi elemen penting dalam pembangunan ekosistem ini.
Super App UMKM bukan sekadar proyek teknologi, melainkan simbol transformasi ekonomi kerakyatan yang inklusif dan adaptif terhadap era digital. Jika dijalankan dengan pendekatan partisipatif dan berpijak pada kebutuhan riil di lapangan, aplikasi ini berpotensi menjadi warisan digital nasional yang memperkuat posisi UMKM sebagai tulang punggung ekonomi Indonesia.
Tidak dapat dipungkiri, layanan seperti Gojek dan Grab bisa menjadi top of mind dan mendapatkan awareness tinggi di antara pengguna karena fleksibilitas dan kemudahan yang ditawarkan dalam satu platform. Masing-masing platform mengklaim menjadi super app, tak hanya sekadar layanan ride hailing, dan sudah mengakomodasi berbagai layanan di satu aplikasi.
Dalam sebuah wawancara, Co-Founder Gojek Nadiem Makarim, yang kini menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, menyebutkan, aplikasi yang bisa menjadi layanan untuk semua memiliki potensi sangat besar dikembangkan di Indonesia.
“Ketika Anda mendigitalkan pergerakan manusia, barang, dan melacak semua transaksi, Anda membuat lapisan visibilitas baru dan mengetahui dengan jelas cara masing-masing kota beroperasi,” kata Nadiem.
Hal senada disampaikan CEO Grab Anthony Tan. Menurutnya, makin besarnya pertumbuhan pengguna dari kalangan muda telah mengubah kebiasaan dan gaya hidup menjadi lebih digital. Melalui smartphone dan aplikasi, data yang masuk bisa dimanfaatkan untuk pengembangan layanan.
Di era digital yang penuh perubahan, strategi keberlanjutanbagi UMKM menjadi semakin penting untuk menghadapi persaingan dan memenuhi kebutuhan pasar yang dinamis. Inovasi, adaptasi terhadap teknologi, dan pemahaman terhadap kebutuhan pelanggan adalah fondasi penting dalam membangun bisnis yang berkelanjutan. Dengan memanfaatkan teknologi digital, UMKM dapat meningkatkan efisiensi operasional, memperluas jangkauan pemasaran, dan memberikan layanan yang lebih responsif kepadapelanggan.
Strategi keberlanjutan juga mencakup pendekatan yanglebih ramah lingkungan dan fleksibilitas dalam model bisnis, yang memungkinkan UMKM untuk merespons perubahan dengan cepat.Keberlanjutan UMKM tidak hanya memberikan manfaat bagipelaku usaha tetapi juga berkontribusi pada stabilitas ekonominasional.
Dengan menyerap sebagian besar tenaga kerja UMKM yangberadaptasi dengan teknologi akan mendorong inovasi, meningkatkan daya saing global, dan menciptakan dampak sosial yangpositif. Transformasi digital dan keberlanjutan menjadi alat untuk menghadapi tantangan global seperti disrupsi teknologi, perubahanpreferensi konsumen, dan krisis ekonomi.
UMKM yang mengintegrasikan inovasi dan keberlanjutan mampu bertahan dan menjadi pelaku ekonomi utama di masa depan.
