Konten dari Pengguna

Tangan Besar di Balik Propaganda Ponpes Al-Zaytun

Rosa Dina

Rosa Dina

Mahasiswi semester 2 program studi Perbankan Syariah di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

·waktu baca 5 menit

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rosa Dina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Al-Zaytun menempati lahan 2.000 hektare lebih. Foto: Subhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Al-Zaytun menempati lahan 2.000 hektare lebih. Foto: Subhan/kumparan

Pondok Pesantren Al-Zaytun selama satu bulan ini bisa dibilang memantik reaksi dari masyarakat Indonesia. Pernyataan dari pimpinan Al-Zaytun, Panji Gumilang, yang meragukan Al-Quran membuat geram kelompok umat muslim di Indonesia.

Tak hanya itu, sebuah video yang sudah viral menayangkan saf salat Idul Fitri 1444 Hijriah di mana saf antara perempuan dan laki-laki sejajar. Hal ini kemudian diperparah tatkala Panji Gumilang memimpin forum dengan nyanyian lagu Yahudi.

Kejadian ini menuai desakan dari banyak masyarakat terutama masyarakat Indramayu untuk segera menutup Pondok Pesantren Al Zaytun serta menangkap Panji Gumilang.

Ken Setiawan, pendiri NIII Crisis Center, mengatakan bahwa pesantren tersebut menggunakan kurikulum dua struktur, yakni struktur teritorial yang berbentuk negara walaupun hanya negara bayangan.

Di dalamnya terdapat RT/RW, lurah, camat, bupati, gubernur, bahkan sampai presiden. Struktur yang kedua yakni struktur fungsional yang dijadikannya kamuflase untuk beroperasi sebagai lembaga pendidikan.

Majelis Ulama Indonesia sebenarnya turut menangani kasus kontroversial Al-Zaytun. Pada tahun 2002 terdapat dua kali penelitian yang menyatakan ada tiga hubungan masalah kepemimpinan, pendanaan dan historis bahwa pimpinan NII dan pimpinan Al-Zaytun adalah orang yang sama. Sayangnya sampai sekarang hasil penelitian itu belum diungkap secara umum sehingga tidak bisa ditindaklanjuti.

Masalah ini kalau tidak selesaikan akan menjadi volume berkelanjutan dan memperburuk citra pesantren seolah pesantren itu identik dengan radikal. Meskipun desakan dari masyarakat, ormas, dan MUI sudah digaungkan hingga saat ini belum ada kepastian dari pemerintah secara spesifik dan jelas mengenai tindakan ini.

Asrama Al-Zaytun. Foto: al-zaytun.sch.id

Pondok Pesantren Al-Zaytun jelas telah melakukan penyimpangan terutama dengan mengubah rukun Islam.

  1. Syahadat yang diajarkan “bukan tiada Tuhan selain Allah” tapi “tiada negara kecuali Negara Islam”. Barang siapa bernegara selain negara Islam maka dia kafir. Mereka menganggap Indonesia masih jahiliyah. Kemudian “Muhammad Rasulullah” diganti dengan meyakini bahwa Panji Gemilang adalah nabi baru setelah Nabi Muhammad SAW.

  2. Salat tidak diwajibkan karena Indonesia belum tegak hukum Islam. Mereka dilarang salat memakai sarung dan dididik menjadi seorang negarawan atau calon-calon pemimpin negara.

  3. Zakatnya diubah memakai kurma.

  4. Puasa Ramadhan puasa diartikan bahwa ini menahan menahan dari negara Islam menang jadi mereka harus totalitas memberikan semua yang dimiliki untuk perjuangan.

  5. Ibadah haji tidak perlu ke Makkah. Cukup datang ke Al Zaytun setiap tahun sekali pada tanggal satu muharram (Musyafa, Ramadhani, Fahmi, 2023).

Menurut fakta di atas sudah sangat jelas bahwa Pondok Pesantren Al-Zaytun memiliki ajaran sesat. Bahkan Panji Gumilang sudah mempropagandakan ajaran-ajarannya ke publik. Propaganda yang meluas dan tidak terjamah ini perlu campur tangan pemerintah untuk menindaklanjutinya.

Pemerintah perlu mengevaluasi lembaga-lembaga ini tidak cukup hanya memenuhi unsur formal tetapi harus diperiksa langsung praktik di lapangannya.

Pondok Al-Zaytun dianggap bagian dari kamuflase baru atau rebranding organisasi dari NII. NII bermetamorfosis karena pemberontakan atau upaya mendirikan Negara Islam Indonesia melalui jalur persenjataan gagal pada tahun 1962.

Akan tetapi, di sisi lain alumni pondok pesantren Al-Zaytun yang sudah enam tahun di sana tidak menerima tuduhan tersebut. Mereka juga merasa dirugikan. Karena satu-satunya yang legal atau formal terlihat di masyarakat adalah mereka yang notabenenya alumni pondok pesantren tersebut.

Mereka tidak membantah apa yang terjadi di video viral saat ini. Seperti muazin yang mengumandangkan azan bukan menghadap ke kiblat tapi ke para santri serta terdapat imam perempuan. Pada tahun 2019 mereka juga merasakan kejanggalan karena tersebarnya video pengurus petinggi di sana berjoget dan menyanyikan lagu Yahudi.

Salat Idul Fitri di Masjid Al-Zaytun. Foto: Instagram @kepanitiaanalzaytun

Teori Panji Gumilang menyatakan bahwa harta orang di luar kelompok termasuk orang tua yang belum berbaiat itu kafir. Jadi boleh dicuri.

Alumni pondok pesantren mengatakan memang banyak orang tua teman-temannya yang terafiliasi dengan NII. Akan tetapi, tidak ada pelajaran menyimpang yang demikian. Mungkin itu hanya salah satu cabang dari NII yang ekstrem.

Imam Baim mengungkap bahwa terdapat sosok berpengaruh di balik kekuatan Panji Gumilang. Ia mempunyai posisi yang sangat menentukan di pemerintahan.

Disebutkan, dia masih membangga-banggakan dan membuka akses kapanpun Panji Gumilang perlu bantuan ke Polres, Polda, maupun Mabes Polri. Hal ini diperkuat dengan adanya 1.500 polisi yang siap siaga ketika terjadi demo desakan oleh masyarakat Indramayu beberapa waktu lalu.

Panji Gumilang juga mengeklaim bahwa dia memiliki intel andalan yakni MYR Agung Sedayu yang merupakan Adik Panji Gumilang sendiri. Dia menjabat sebagai agen interpol di BIN (Badan Intelijen Negara).

Korelasi antara sosok kuat di pemerintahan tersebut dengan Agung Sedayu disebut-sebut menjadi tameng bagi Al-Zaytun untuk membuka akses kapanpun. Kekuatan seperti inilah yang menyebabkan dia berani speak up tentang ajarannya tanpa takut ditangkap .

Sementara itu, Wagub Jawa Barat menegaskan bahwa dia membuat tim yang membuat simpul-simpul keagamaan untuk meminta penjelasan kepada Panji Gumilang tentang apa yang sekarang ramai di media sosial.

Namun di sisi lain, Panji Gemilang dituding sangat dekat dengan Pak Wagub sehingga tarik-ulurnya begitu alot untuk segera menginvestigasi Ponpes Al-Zaytun. Karena sampai hari ini baru pembuatan tim belum ada action yang nyata untuk mengusut tuntas Ponpes Al-Zaytun ini.

Panji Gumilang, pemimpin Al-Zaytun. Foto: Instagram/@kepanitiaanalzaytun

Founder Indonesian Crymne Analyst Forum bapa Mustofa mengungkap bahwa Ponpes A-Zaytun telanjur banyak terjamah oleh tangan-tangan misterius, sehingga menurutnya sudah terlambat kalau baru dibahas sekarang.

“Tahun 2002, Pak Kapolri Pak Bahtiar itu sudah melabeli al-Zaytun sebagai kelompok sesat dan teroris ekstrimisme. Akan tetapi, Panji Gumilang membantah. Karena bukti-bukti pun tidak kuat dan masyarakat tidak memantau berita saat itu jadi selama 20 tahun ini tidak ada update hasil pekerjaan pemerintah dalam menangani Al Zaytun,” ujarnya di salah satu siaran televisi.

Lantas, akankah Panji Gumilang ditangkap dengan dakwaan penistaan agama? Dan, akan bagaimanakah nasib Ponpes Al-Zaytun ke depannya?