Konten dari Pengguna

Adakah Chrisye dalam Film Chrisye?

Ochi Amanaturrosyidah

Ochi Amanaturrosyidahverified-green

Asisten Editor di kumparan

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ochi Amanaturrosyidah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Vino G Bastian (Foto: youtube)
zoom-in-whitePerbesar
Vino G Bastian (Foto: youtube)

Hai gengs, ini dia yang selama ini gue tunggu-tunggu: nonton film gratis sebelum tayang! Gue selalu menunggu momen ini agar review gue jadi lebih "mahal" muahahaha.

Film yang akan gue review kali ini adalah film biopik karya Rizal Mantovani. Nama Rizal sendiri sudah menelurkan berbagai karya best seller, sebut saja salah satunya, "5 cm" yang sampai sekarang masih dijadikan film wajib tayang setiap Agustusan dan sukses bikin orang tiba-tiba jadi hobi naik gunung. Dari segi sutradara, udah oke banget nih.

Adakah Chrisye dalam Film Chrisye? (1)
zoom-in-whitePerbesar

Damayanti - maafin aku nyomot foto dari kantor.

Dari segi cerita, film ini mengambil fokus sosok Chrisye dari sudut pandang sang istri, Damayanti Noor. Tidak tanggung-tanggung, skenarionya ditulis sendiri oleh Damayanti. Dari segi jalan cerita, jangan ditanya lagi feelnya.

Salah satu yang bikin gue semangat 45 saat ditawari undangan premiernya, tak lain dan tak bukan adalah aktor yang dipilih sebagai pemeran utama: Vino G Bastian. Idola gue tuh waktu masih remaja (sekarang juga masih remaja sih, remaja tua). Gue inget banget tiap hari nonton "Catatan Akhir Sekolah" dan "Realita Cinta dan Rock n Rol" sampai apal dialognya. Bisa lah kalau direkrut jadi figuran meski cuma keliatan punggung tangannya aja #kodekeras.

Seperti biasa, kemampuan akting Vino memang tidak perlu diragukan lagi. Sejujurnya, gue "sebagai generasi millenial yang lahir di era 90-an" jelas tidak mengikuti perjalanan Chrisye dari awal. Chrisye mengawali karir sebagai penyanyi solo (sebelumnya doi bassist band Gipsy) di tahun 1977 dengan lagu Lilin Lilin Kecil.

Lagunya sih gue tahu, tapi ingatan soal bagaimana lagu itu pertama kali dipopulerkan jelas tidak ada. Boro-boro lahir, orangtua gue aja mungkin masih main tarik-tarikan tali di abang sewa gameboy depan sekolahan di tahun segitu.

Yah, dan Vino dengan kemampuan akting yang baik, bisa memberikan gambaran soal masa-masa awal karir Chrisye. Pembawaannya secara visual ya ini benar-benar mirip. Apalagi, di adegan dia menangis ketakutan ketika (akan) menyanyikan lagu "Ketika Tangan dan Kaki Berkata," sumpah, itu mirip banget!

Setidaknya, mirip banget dengan sosok Chrisye secara visual dalam ingatan gue.

Sayangnya, dengan durasi sekitar 90 menit (gue lupa durasi pastinya, so sad), menurut gue terlalu banyak adegan kalau menurut istilah gue quilting harajuku. Menjahit banyak kisah menjadi satu, seperti quilting, tapi eksekusinya kayak harajuku, tabrak-tabrakan. Gue banyak terkejut nontonnya.

Adakah Chrisye dalam Film Chrisye? (2)
zoom-in-whitePerbesar

Ini lho yang namanya quilting.

Perpindahan antara satu masa dengan masa lainnya kurang smooth, dan terlalu cepat seolah ingin menceritakan banyak hal tapi terpaksa dipangkas sana-sini karena durasi terbatas. Gue sedih jadinya. Pasalnya, gue ulangi lagi, gue tahu lagu-lagu Chrisye (karena memang se-legend itu), tapi gue enggak tahu sosok Chrisye.

Gue cuma tahu beliau penyanyi legendaris, lagu-lagunya bagus, beliau pernah duet dengan Ungu di album religinya (dan kayaknya itu yang terakhir ya?), dan ketika beliau meninggal, semua media memberitakan cukup lama.

Sisanya? Chrisye bukan penyanyi yang tumbuh besar di generasi gue. Jadi, sayang banget, harusnya gue bisa lebih menghayati dan menikmati, tapi ternyata kepentok dengan quilting harajuku. It's okay, tetep menikmati kok.

Kritik lainnya mungkin soal casting. Vino oke, Velove Vexia (pemeran Damayanti) boleh lah meski gue ngerasa akhir-akhir ini film isinya dia terus haha. Ada beberapa yang pas, tapi ada beberapa yang agak maksa.

Misalnya pemeran Addie MS, Irsyadillah. Iya, gue mengakui Addie MS emang ganteng. Bahkan setelah usianya sudah menginjak 58 tahun, beliau tetap tampan dan sudah gue buktikan sendiri karena tadi Addie MS juga hadir di Gala Premiere. Masalahnya, Isyadillah tetep kegantengan. Meski asli orang Indonesia, tapi dengan wajah ke-bule-bule-an, Isyadillah fix kurang cocok karena kegantengan.

Adakah Chrisye dalam Film Chrisye? (3)
zoom-in-whitePerbesar

Bahkan lebih ganteng di film ini daripada di foto.

Dwi Sasono yang memerankan Guruh Soekarnoputra juga terlalu, hmmm, apa ya kata tepatnya. Macho? Maksud gue, Guruh kan putih, Dwi Sasono kecoklat-coklatan. Bingung gak tuh?

Awalnya, gue enggak bisa mengenali Andy Arsyil di film ini. Mungkin karena fokus gue justru ke rambut sosok Erwin Gutawa yang ia perankan. Di bagian awal memang kurang pas, tapi saat adegan di atas panggung waktu konser tunggal Chrisye, keliatan mirip sih. Boleh lah.

Yang jadi Jay Subiakto, cocok banget! Luar biasa sekali Roby Tremonti! Yah, Oom Jay memang sosok yang punya ciri khas, dan Roby berhasil "mencuri" hal tersebut.

Tetangga gue di kampung, Tria Changcut, muncul sebagai kameo. Doi meranin Eddy Sud dong! Pengen komentar, tapi munculnya cuma sekian detik haha. Personil The Changcuters lainnya juga ada, tapi perannya lebih dikit lagi. Yah, lumayan lah mengobati rasa rindu.

Eddy Sud (Foto: youtube)
zoom-in-whitePerbesar
Eddy Sud (Foto: youtube)

Ini lho Pak Eddy Sud.

Kalau diperhatikan, salah satu ciri-ciri film Quilting Harajuku adalah pemerannya yang banyak, dekat dengan pemeran utama, tapi munculnya kayak angin. Bentar banget, adegannya dikit-dikit.

Tapi gue cukup menikmati film ini kok. Meski humornya sedikit, sedihnya nanggung. Tapi namanya juga biopik, yang dicari bukan lucunya, tapi seberapa memberikan gambarannya tentang peristiwa atau tokoh yang diangkat. Jadi kalau dibilang bagus, ya bagus.

Dengan catatan, niatnya memang mau nonton biopik lho ya. Mungkin bagi generasi-generasi terdahulu, yang sudah hidup di masa Chrisye memulai karir, mungkin bahkan saat masih bergabung dengan Gipsy, film ini menarik dan bisa membangkitkan kenangan, nostalgia. Tapi buat gue, yang lahir belakangan, masih ada gap yang cukup besar.

Untungnya gue lahir tahun 90-an, masih mengalami jamannya Chrisye. Lah kalau anak tahun 2000-an? Pasti bingung nonton film ini, kecuali kalau emang fansnya dan emang udah tau banget biografinya Chrisye.

Chrisye (Foto: youtube)
zoom-in-whitePerbesar
Chrisye (Foto: youtube)

Chrisye, yang gue ingat.

Adegan yang bikin gue ngerasa, "gue ngetiin Chrisye banget nih", adalah ketika dia galau akan kesuksesannya.

"Aku ngerasa semuanya berjalan mulus, Tuhan begitu baik padaku. Aku ingin punya anak laki-laki, diberi dua sekaligus. Aku ingin berhenti bermusik, tiba-tiba lihat kemarin kan konser tunggal. Tapi aku merasa kosong."

Gue Banget! Eh, maksud gue, karena gue ngerasa 'gue banget' makanya jadi bisa mikir 'gue ngertiin banget nih posisinya Chisye'.

"Saya bahkan enggak bisa menyanyikan lagu ini sampai selesai. Setiap kali saya mencoba, bukan suara saya yang keluar, tapi air mata yang terus mengucur," ujar Chrisye saat curhat ke penulis lirik Ketika Tangan dan Kaki Berkata, Taufik Ismail yang diperankan Fuad Idris.

Gue juga enggak pernah bisa berani dengerin lagu ini sampai selesai. Merinding cuy! Di film ini mungkin gue aja kali ya, gue baru tahu kalau liriknya merupakan terjemahan Ayat Kursi.

Pantesan!

Dan gue baru tahu dong lirik utuhnya lagu ini. (TTwTT), ngeri emang. Pantes aja kalau denger bawaannya pengen tobat mulu.

Taufiq Ismail (Foto: youtube)
zoom-in-whitePerbesar
Taufiq Ismail (Foto: youtube)

Makasih Pak Taufik, lirik lagunya mantap!

Q n A:

Apakah film ini cukup menggambarkan sosok Chrisye?

Bisa iya, bisa enggak. Ini tergantung seberapa kita (penonton) mengenal sosok Chrisye sebelum nonton film ini. Karena pada dasarnya, film ini terkesan hanya sebagai 'pematik' memori saja, bukan sebagai pemberi memori baru.

Film ini cocok untuk?

Fansnya Chrisye, atau paling enggak, memang pernah mengalami era akhir 70-an atau sekitar 80-an. Kalau anak kemarin sore, jangan deh, nanti bingung.

Tingkat kepuasan?

Nano-nano nih. Karena menurut gue, film ini segmented banget.

Visual?

Boleh lah. Tidak mengecewakan.

Suara?

Top markotop lah! Gue suka banget waktu di bagian credit, ditayangkan atau diperdengarkan ya rekaman suara Chrisye untuk para sahabat dan penggemarnya yang setia memberikan dukungan untuk kesembuhannya. Meskipun, pada akhirnya, Tuhan tetap punya rencana lain. Gue suka banget nih, bikin makin menghayati.

Jalan cerita?

Selain masalah Quiliting Harajuku tadi, gue enggak puas dengan endingnya. Terlalu dadakan dan terkesan enggak ada penjelasan sama sekali. Coba kalau ada penjelasan alasan beliau meninggal kenapa, kan lebih oke. Lah abis konser, tau-tau adegannya udah meninggal aja. Ada apa? Untung gue tahu meninggalnya kenapa. Inilah kenapa gue bilang, segmented banget. Kalau lu enggak tahu Chrisye, lu bakal pulang dengan penuh tanya.

Bakal nonton lagi?

Nope. Pada dasarnya gue enggak pernah nonton film yang sama dua kali, apalagi kalau pakai bayar sendiri. Tapi enggak nolak kalau ada yang mau bayarin lagi.

And then, skornya?

Hmm, saya enggak tegaan nih orangnya. Masalah skor ini sesuai selera masing-masing ya. Tapi buat gue, mungkin 6,3/10. Lumayan lah, setidaknya, ini lebih bagus daripada film lain yang sebelumnya gue tonton.

Adakah Chrisye dalam Film Chrisye? (7)
zoom-in-whitePerbesar

Muka seneng bisa nonton gratis akhir pekan.

Dari film ini, gue justru berpendapat, Chrisye ini begitu disayang oleh Tuhan. Terlepas dari segala bakat dan kesuksesannya, tapi tidak semua manusia diberi kesempatan untuk 'menemukan Tuhan' semasa hidupnya. Menurutku, Chrisye termasuk orang yang beruntung, bukan hanya hingga akhir hayatnya, tapi hingga kini, sebelas tahun setelah ia meninggal.

Yah, semoga film ini bisa menjadi obat mujarab bagi mereka yang merindukan suara khas dan sosok legendaris Chrisye. Selamat buat Vito Global Visi dan MNC Pictures, serta ibu Damayanti beserta keluarga. Semoga film yang akan mulai ditayang di bioskop-bioskop kesayangan anda (nah, mulai iklan), bisa sukses dan sesuai target yang diinginkan. Cheers!