Kesaktian Satu Suro dan Kebudayaan Jawa

Asisten Editor di kumparan
Tulisan dari Ochi Amanaturrosyidah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagai orang yang lahir dan besar di Jawa gue sering mendengar kisah-kisah mengenai malam 1 Suro. Malam 1 Suro, bagian tradisi Jawa memang memiliki beragam kisah 'mistis' dan pantangan yang sampai hari ini --yang notabene bisa dibilang sudah modern-- masih terus dilakukan.
Konon katanya, malam 1 Suro adalah awal dari bulan penuh kesialan. Agar terbebas dari hal-hal buruk, pada pembuka bulan Suro, kita pantang bepergian dan disarankan untuk 'semedi', berdiam diri sambil berdoa dan mendekatkan diri pada Tuhan YME, meminta perlindungan.
Tadinya gue enggak percaya, hingga suatu hari, gue kehilangan salah seorang kenalan dalam sebuah kecelakaan. Banyak yang kemudian menghubungkan kejadian tersebut dengan ritual malam 1 Suro.
Kejadian sejenis terjadi tidak hanya sekali, kawan. Meski tidak selalu, tapi cukuplah untuk membuat gue, yang berusaha rasional, jadi keder.
Karena dipercaya sebagai bulan yang "kurang baik", maka tidak heran jika di bulan ini jarang ada orang Jawa yang melaksanakan kenduri. Jangan harap kamu nerima undangan kawinan dari orang Jawa di bulan Suro, guys! Pamali!

Selain karena kesialannya, malam 1 Suro dipercaya sebagai malam dimana para makhluk halus berlebaran. Seperti kamu-kamu waktu lebaran, para makhluk halus ini akan berkeliaran dan mungkin jika beruntung, menyambangimu, dan meminta angpao.
Bagi masyarakat Jawa, khususnya penganut Islam Kejawen, malam ini dianggap sebagai malam yang sakral karena dipercaya pada malam tersebut arwah leluhur akan menyambangi keturunannya. Ya, jangan kaget. Namanya juga lebaran. Kalau dipikir-pikir, daripada kamu yang disuruh menyambangi mereka ke alam lain, mendingan mereka yang menyambangimu lah.
Jika leluhur yang datang sih, boleh lah. Namun, akan jadi mengerikan jika yang datang adalah arwah dari korban tumbal pasugihan! Gengs, kami orang Jawa percaya bahwa di malam 1 Suro, para arwah ini akan diberi kebebasan sebagai hadiah pengabdiannya selama satu tahun penuh.

Ngomong-ngomong soal pasugihan, kemarin waktu gue ke Imogiri, di tengah perjalanan menuju Makam Raja-Raja, tiba-tiba gue nemu papan iklan jasa pasang pasugihan. Enggak cuma itu, di makam keramat tersebut, tiba-tiba gue dipanggil oleh seorang kakek-kakek misterius berpakaian ala abdi dalem dan beliau selain menyarankan gue buat "Jangan pulang hari Sabtu" juga bilang ada kayu buat gue yang bisa bikin gue enteng jodoh. Wah, kan...
Tapi dengan syarat, gue harus datang ke gentong keramat tempat mandi Sultan Agung, besoknya. Di situ, udah ada satu kayu khusus buat gue yang mengambang dan perlu gue ambil. Selain bikin enteng jodoh, enteng rejeki dan "sakti", katanya.
Tapi gue enggak dateng lagi...

Di kampung halaman gue sendiri, di Temanggung, Jawa Tengah, ketika malam 1 Suro, beberapa orang kawan akan mengajak melakukan ritual kungkum alias berendam di sungai. Dan enggak pernah gue lakukan karena dinginnya pasti kayak mandi di dalem kulkas. Ritual ini ditujukan untuk membuang sial dan mengharapkan berkah.

Di Yogyakarta, ada sebuah tradisi yang disebut Mubeng Beteng dimana kita harus berjalan dalam diam dari Halaman Keraton menuju Alun-Alun Utara, kemudian ke Barat melalui Jalan Kauman hingga Pojok Beteng Lor. Dari situ, perjalanan dilanjutkan ke arah kiri menuju Pojok Beteng Kulon sebelum menuju ke Pojok Beteng Wetan dan kembali lagi ke titik start.

Sementara di Keraton Surakarta, malam 1 Suro disambut dengan Kirab Kebo Bule. Kebo Bule ini adalah kerbau yang dikeramatkan dan namanya gue yakin lebih "ningrat" daripada nama elu, Kyai Slamet.
Ada pula ritual tirakatan, bersih-bersih dan berdoa serta bancakan di tempat-tempat yang "disakralkan" seperti makam. Lalu, ada pula Kirab Budaya, pertunjukan wayang kulit semalam suntuk --karena pertunjukkan wayang juga termasuk dalam ritual doa--, ruwatan masal dan tapa bisu.
Meski sudah menetap di Ibu Kota dan ternyata kemampuan gue berbahasa Jawa menurun drastis --terbukti dari wawancara dengan simbah di Imogiri yang ternyata gue belepotan banget ngomongnya--, tapi gue masih ngerasa "Jawa banget". Meski banyak yang menganggap mitos dan tradisi-tradisi tersebut sebagai hal yang minor, non-sense dan musrik --nah ini sih bisa jadi--, cuma intinya di sini adalah seninya, budayanya.
Dalam rangka menghargai budaya dan tradisi, maka gue bakal nyoba tapa bisu seharian. Tapa bisu enggak buka sosmed dan enggak jalan-jalan karena besok gue libur :').
Selamat libur panjang gengs! Selamat tahun baru Islam dan Jawa!
