Kenapa Kita Lebih Berani Mengungkapkan Perasaan Lewat Chat?

Mahasiswi Sastra Indonesia Universitas Pamulang
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari octavia wahyu nengsih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah tidak, ada sesuatu yang sebenarnya ingin disampaikan kepada seseorang, tetapi begitu bertemu langsung justru tidak tahu harus mulai dari mana? Anehnya, ketika sudah membuka WhatsApp dan mulai mengetik, kata-kata yang sebelumnya sulit keluar tiba-tiba terasa lebih mudah.
Misalnya, kita ingin mengatakan kepada teman bahwa perkataannya kemarin membuat kita tersinggung. Saat bertemu, kita malah memilih diam karena takut suasananya menjadi canggung. Namun, ketika sudah sampai rumah, tangan justru mulai mengetik, “sebenarnya aku mau ngomong sesuatu, tapi tadi nggak tahu harus bilang bagaimana.”
Hal sederhana seperti ini mungkin pernah dialami banyak orang.
Mengungkapkan perasaan melalui chat terkadang terasa lebih nyaman dibandingkan berbicara secara langsung. Bukan karena kita tidak punya keberanian, tetapi karena komunikasi melalui layar memberikan jarak yang membuat kita merasa lebih aman.
Lewat chat, kita punya waktu untuk memikirkan apa yang ingin disampaikan. Kalimat yang terasa terlalu emosional bisa dihapus. Kata-kata yang kurang tepat dapat diganti. Bahkan sebelum menekan tombol kirim, pesan bisa dibaca berulang kali untuk memastikan tidak ada bagian yang terdengar salah.
Hal seperti ini sulit dilakukan ketika berbicara secara langsung. Dalam percakapan tatap muka, semuanya berlangsung pada saat itu juga. Kita harus merespons pertanyaan, ekspresi wajah, dan reaksi lawan bicara tanpa memiliki banyak waktu untuk menyusun ulang perkataan.
Layar Memberikan Jarak
Salah satu alasan chat terasa lebih nyaman adalah adanya jarak antara pengirim dan penerima pesan.
Ketika berbicara secara langsung, kita dapat melihat ekspresi orang lain. Tatapan, nada suara, bahkan gerakan tubuh bisa membuat seseorang merasa gugup. Ketika membicarakan sesuatu yang sensitif, reaksi tersebut terkadang membuat kita kehilangan keberanian untuk melanjutkan pembicaraan.
Berbeda dengan chat. Kita hanya berhadapan dengan layar dan tulisan.
Jarak tersebut membuat seseorang memiliki ruang untuk mengatur emosinya sendiri. Tidak ada tatapan yang harus dihadapi secara langsung dan tidak ada keharusan untuk segera menjawab.
Bagi sebagian orang, kondisi tersebut membuat komunikasi menjadi lebih mudah.
Bayangkan seseorang yang ingin meminta maaf kepada sahabatnya setelah terjadi kesalahpahaman. Saat bertemu, mungkin ia hanya mampu berkata, “yaudah, maaf.” Padahal ada banyak hal yang sebenarnya ingin dijelaskan.
Sesampainya di rumah, ia kemudian mengirim pesan panjang. Ia menjelaskan apa yang terjadi, mengakui kesalahannya, dan mengatakan bahwa ia tidak ingin hubungan pertemanan mereka berubah hanya karena sebuah masalah.
Bukan berarti orang tersebut lebih peduli ketika mengetik. Bisa jadi, ia hanya membutuhkan jarak untuk menemukan kata-kata yang tepat.
Bisa Mengatur Kata-Kata
Mengungkapkan perasaan bukan hanya tentang keberanian, tetapi juga tentang bagaimana menyusun kata-kata.
Ada kalanya kita tahu apa yang dirasakan, tetapi kesulitan menjelaskannya. Perasaan kecewa, marah, takut, atau sedih bisa bercampur menjadi satu sehingga sulit disampaikan secara lisan.
Chat memberikan kesempatan untuk berhenti sejenak.
Kita bisa mengetik, membaca kembali, menghapus, lalu menulis ulang. Proses sederhana ini membuat seseorang merasa memiliki kendali atas apa yang ingin disampaikan.
Misalnya ketika ingin mengatakan kepada teman bahwa kita merasa kecewa. Saat berbicara langsung, kalimat yang keluar mungkin terdengar lebih keras daripada yang sebenarnya dimaksudkan. Dalam chat, kita dapat membaca kembali pesan tersebut sebelum dikirim dan mempertimbangkan apakah pilihan katanya sudah sesuai.
Tidak jarang seseorang bahkan mengetik pesan berkali-kali sebelum akhirnya mengirimkannya.
“Kayaknya jangan terlalu panjang.”
“Hapus yang ini, deh.”
“Kalau ngomong begini nanti dia tersinggung nggak?”
Akhirnya, satu pesan yang terkirim bisa merupakan hasil dari beberapa kali revisi.
Karena itu, chat sering menjadi tempat untuk menyampaikan sesuatu yang sulit diucapkan secara langsung.
Takut Melihat Reaksi Orang Lain
Ada satu hal yang sering membuat orang menahan diri ketika ingin berbicara secara langsung: reaksi lawan bicara.
Kita mungkin sudah menyiapkan banyak hal untuk dikatakan, tetapi tiba-tiba mengurungkan niat setelah melihat wajah orang tersebut. Takut dianggap berlebihan, takut ditolak, takut membuat suasana menjadi canggung, atau sekadar takut tidak mendapatkan respons seperti yang diharapkan.
Dalam chat, reaksi tersebut tidak muncul secara bersamaan.
Setelah mengirim pesan, kita memang masih bisa merasa cemas menunggu balasan. Namun, setidaknya kita tidak harus melihat reaksi orang tersebut pada detik yang sama ketika mengungkapkan perasaan.
Ada jeda.
Dan terkadang, jeda kecil itu cukup untuk membuat seseorang berani mengatakan sesuatu yang sebelumnya hanya disimpan sendiri.
Chat Bukan Berarti Komunikasi yang Lebih Mudah
Meski terasa lebih nyaman, berkomunikasi lewat chat juga memiliki kekurangan.
Tulisan tidak selalu mampu menunjukkan nada suara dan ekspresi dengan jelas. Kalimat yang sebenarnya biasa saja bisa dibaca dengan nada berbeda oleh penerimanya.
Satu kata seperti “oke” saja bisa memiliki banyak tafsir. Bagi pengirim mungkin hanya berarti setuju, tetapi bagi penerima bisa saja terdengar dingin atau menunjukkan kemarahan.
Hal yang sama berlaku ketika seseorang sedang mengungkapkan perasaan. Maksud yang ingin disampaikan bisa saja berbeda dengan apa yang dipahami oleh orang yang membaca.
Misalnya seseorang menulis, “aku cuma lagi butuh waktu sendiri.”
Bagi pengirim, kalimat itu mungkin berarti ia ingin menenangkan diri. Namun, bagi penerima, kalimat tersebut bisa saja dipahami sebagai tanda bahwa hubungan mereka sedang bermasalah.
Karena itu, chat memang memberikan ruang untuk berpikir, tetapi bukan berarti bebas dari kesalahpahaman.
Mengapa Setelah Chat Kita Malah Menunggu Balasan?
Ada bagian lain yang mungkin lebih familiar: setelah berani mengirim pesan panjang, kita justru terus melihat layar.
Sudah dibaca atau belum?
Sudah online, tetapi belum membalas.
Apakah pesannya terlalu panjang?
Apakah ada kata-kata yang salah?
Apakah seharusnya tadi tidak dikirim?
Pada akhirnya, keberanian mengirim pesan sering diikuti dengan fase menunggu. Jarak yang sebelumnya membuat kita merasa aman perlahan berubah menjadi rasa penasaran.
Kadang kita membuka aplikasi hanya untuk memastikan apakah pesan sudah dibaca. Beberapa menit kemudian mengeceknya lagi. Tidak ada balasan. Lima menit kemudian dicek lagi.
Padahal mungkin orang yang menerima pesan sedang kuliah, bekerja, tidur, atau memang belum tahu harus menjawab apa.
Di sinilah chat menjadi unik. Ia membuat seseorang lebih berani mengungkapkan perasaan, tetapi sekaligus membuat seseorang harus belajar menunggu respons.
Tidak Semua Hal Harus Disampaikan Lewat Chat
Chat memang bisa menjadi pilihan ketika seseorang kesulitan berbicara langsung. Namun, ada beberapa pembicaraan yang mungkin lebih baik dilanjutkan secara langsung, terutama jika membutuhkan penjelasan panjang atau berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.
Yang terpenting bukan apakah perasaan disampaikan melalui chat atau secara langsung, tetapi apakah pesan tersebut disampaikan dengan jujur dan tetap menghargai orang yang menerimanya.
Chat bisa menjadi awal sebuah percakapan, bukan selalu menjadi tempat terakhir untuk menyelesaikannya.
Pada akhirnya, teknologi hanya mengubah cara kita berkomunikasi. Perasaan yang ingin disampaikan tetap berasal dari manusia di balik layar.
Mungkin itu sebabnya sebuah pesan sederhana terkadang membutuhkan keberanian yang tidak sederhana untuk dikirim.
Karena di balik kalimat “aku mau cerita sesuatu” atau “sebenarnya aku merasa...”, bisa saja ada perasaan yang sudah lama disimpan dan baru menemukan keberanian untuk keluar melalui sebuah layar.
