Konten dari Pengguna

7 Kata Bermakna Sama dalam Bahasa Jawa dan Palembang

Suzan Lesmana

Suzan Lesmana

Pranata Humas, ASN BRIN, ASNation

·waktu baca 4 menit

comment
18
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Suzan Lesmana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Bahasa. Sumber: freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Bahasa. Sumber: freepik.com

Sudah bukan hal yang aneh jika seorang lelaki dewasa pergi merantau ke luar daerahnya dengan beragam tujuan. Akibat merantau, banyak yang akhirnya menemukan jodohnya dan menikah dengan gadis pujaan hati di tanah perantauan. Begitu pula ibu saya yang mempunyai bapak berasal dari Jawa dan ibu asli dari Palembang. Dan cucunyalah yang sedang menuliskan kisahnya kembali.

Usut punya usut, ternyata kata bahasa Jawa banyak yang bermakna sama dengan bahasa Palembang. Tak heran memang jika menelusuri jejak historisnya dalam literatur, imbas masuknya para bangsawan yang berasal dari Demak, Jawa Tengah ke Palembang sekitar abad 14, akibatnya orang (uwong) Palembang yang tadinya berbahasa Melayu Palembang, menjadi memiliki bahasa bercorak Jawa yang disebut Palembang alus akibat menyerap bahasa Jawa dalam keseharian.

Dan meskipun “lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya” antara bahasa Jawa dan bahasa Palembang, seperti intonasi dan artikulasi saat bercakap dalam keseharian sungguh berbeda, namun sepertinya bahasa menyatukan ikatan emosional batiniah Jawa dan Palembang. Kita tahu bahasa Jawa khususnya Jawa Tengah mempunyai intonasi dan artikulasi yang lembut meski ngoko—apalagi yang krama inggil sementara bahasa Palembang intonasinya keras bahkan mirip orang ngegass.

Untuk membuktikannya, saya akan paparkan contoh kata-kata dalam bahasa Jawa dan Palembang yang mempunyai makna yang sama. Sebagai panduan perlu saya cantumkan 3 jenis pelafalan huruf, yakni ê = e pepet (lemah), seperti: ênam dan e taling (jelas), yang terbagi lagi menjadi é taling terbuka seperti: lélé dan è taling tertutup, seperti: lèlèt yang sering ditemukan dalam dialog kedua bahasa.

#1 Air = Banyu

Unsur “air” dalam bahasa Indonesia, memiliki kata yang sama dalam bahasa Jawa dan Palembang, yakni “banyu”.

Jawa: “Lek jukuk banyu teko sendang drajat, drajate bakalan duwur”!” (Arti: Kalau ngambil air dari sendang drajat, drajatnya akan naik)

Palembang: “Jangan maen banyu bae, gek masuk angin baru tau raso” (Arti: Jangan main air saja, nanti masuk angin baru tahu rasa)

#2 Merah = Abang

Warna “merah” dalam bahasa Indonesia, mempunyai kata yang sama dalam bahasa Jawa dan Palembang, yakni “abang”.

Jawa: “Kulo nganggo klambi werno abang” (Arti: Aku pakai klambi warna merah)

Palembang: “Payo melok aku beli telok abang ke Simpang Kayu Agung” (Arti: Ayo ikut saya beli telor (warna) merah di Simpang Kayu Agung)

#3 Keluar = Metu

Kata “keluar” dalam bahasa Indonesia, memiliki kata yang sama dalam bahasa Jawa dan Palembang, yakni “metu”.

Jawa: “Wis metu, gajimu, Le?” (Arti: Udah keluar, gajimu, Nak?)

Palembang: “Lah sudah metu belom budaknyo dari rumah?” (Arti: Sudah keluar belum anaknya dari rumah?)

#4 Libur = Prei

Kata “libur” dalam bahasa Indonesia, mempunyai kata yang sama dalam bahasa Jawa dan Palembang, yakni “prei”.

Jawa: “Laah sampeyan iki, piye toh? Jukuk prei wae, yen loro awakmu" (Arti: Kamu ini gimana, sih? Ambil libur aja kalau sakit badannya?)

Palembang: “’Kagek kiyai maen ke rumah ombay kalu sudah prei?” (Arti: Nanti kakak main ke rumah nenek kalau sudah libur )

#5 Muka/Wajah = Rai

“Muka” atau “wajah” dalam bahasa Indonesia, memiliki kata yang sama dalam bahasa Jawa dan Palembang.

Jawa: “Dasar rai gedhèg!” (Arti: Dasar muka tembok/tak tahu malu)

Palembang: “Rai kau tuh ketutup areng galo” (Arti: Mukamu itu tertutup arang semua)

#6 Orang = wong

Kata “orang” dalam bahasa Indonesia, mempunyai kata yang sama dalam bahasa Jawa dan Palembang, yakni “wong”.

Jawa: “Kowe wong ndi?” (Arti: Kamu orang mana?)

Palembang: “Wong mano kau aslinyo” (Arti: Orang mana kamu aslinya?)

#7 Sendiri =dewe

Kata “sendiri” dalam bahasa Indonesia, mempunyai kata yang sama dalam bahasa Jawa dan Palembang, yakni “dewe”. Hanya pelafalannya saja yang sedikit beda. Kalau dewe bahasa Jawa menggunakan é taling terbuka menjadi déwé. Sementara dewe bahasa Palembang menggunakan è taling tertutup menjadi dèwè.

Jawa: “Sakkarepmu dewe wae, urip-uripmu dewe, monggo” (Arti: Semaumu sendiri saja, hidup-hidupmu sendiri, silakan)

Palembang: “Memangnyo kau berani pegi dewean?” (Arti: Memangnyo kau berani pergi sendirian?)

Itu baru tujuh contoh yang saya bahas. Silakan menambahkannya lagi di kolom komentar jika Saudara tahu dan berkenan. Teruslah berbuat baik karena kebaikan itu menular, termasuk berbagi kebaikan dalam berbagi pengetahuan kekayaan bahasa-bahasa Nusantara termasuk Jawa dan Palembang. Terima Kasih.

***

Suzan Lesmana - Pranata Humas BRIN