Berburu Berkah dan Nasi Kebuli Maulid Nabi di Jakarta

Pranata Humas, ASN BRIN, ASNation
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Suzan Lesmana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siapa yang tak tahu nasi kebuli? Saya fikir Saudara pasti sudah pada tahu, ya? Bahkan saya yakin sudah pernah menyipinya, terutama saat singgah di Jakarta. Memang, hidangan nasi khas para keturunan Rasulullah dari Hadhramaut, Yaman ini telah menjadi bagian budaya suku Betawi di Jakarta. Meskipun banyak jenis nasi lainnya, seperti nasi briyani, nasi mandhi, nasi kabsah, nasi maqlub, dan nasi hadramaut, namun sepertinya nasi kebuli telah menjadi menu sajian favorit berbagi kebaikan untuk para tamu dari para habaib yang menghelat acara rutin tahunan, Maulid Nabi Muhammad SAW di bulan Rabi’ul Awwal hingga Jumadil Akhir.
Nasi yang berasal dari beras basmati ini diolah bersama kaldu daging kambing, susu kambing, minyak samin, dan beragam rempah seperti kayu manis, cengkeh, pala, dan kapulaga. Nasi Kebuli lebih nikmat ditambah daging kambing goreng yang disajikan bertabur kismis dan kacang mete. Untuk menghilangkan efek prengus dan eneg, disajikan pula pelengkapnya asinan nanas.
Campuran berbagai rempah-rempah dalam nasi kebuli, selain membuat rasanya lezat dan harum beraroma, menurut pakar nutrisi memiliki senyawa atsiri. Senyawa atsiri mengandung antibakteri alami sehingga bakteri jahat yang akan menyerang tubuh dapat ditangkal. Ya, semacam imun perisai tubuh. Ajiib, khan?
Sewaktu saya masih tinggal di Condet, Jakarta, bulan Maulid adalah waktunya berburu keberkahan dari para dzurriyah Nabi dan nasi kebuli gratis, hehehe. Apalagi saya selalu diajak guru saya, Ustadz H. Maqbulullah kemana pun beliau ngisi acara Maulid. Menu nasi kebuli pasti menjadi hidangan penutup. Tak hanya makan di tempat, pulang pun masih dapat bekal. Maklumlah, selain Ustaz, “pengawal-pengawalnya” seperti saya ini juga dapat jatah, hahaha. Bahkan hampir setiap malam saya nggak pernah makan malam masakan isteri di rumah. Tak terasa bobot badan pun bertambah dengan sukses karena pasokan nasi kebuli gratis, hehehe.
Padahal tadinya saya fikir dengan makan nasi kebuli jadi penambah stimulus hubungan suami isteri dengan sugesti aphrodisiac dari daging kambing. Ternyata nggak juga. Karena kebanyakan nasi daripada daging kambingnya, nafsu nggak, ngantuk iya kebanyakan nasi, walhasil balik ke rumah malah bablas tidur sampe besoknya, wkwkwk.
Kebiasaan menyajikan menu nasi kebuli pada setiap acara Maulid ini, telah menjadi budaya yang melekat bagi warga Jakarta khususnya suku Betawi yang memang dipengaruhi para habaib keturunan Arab yang memang sudah lazim menyajikan nasi kebuli. Kalau Sodara pernah hadir di acara Maulid Akbar di Jakarta rerata dihelat oleh para keturunan Habaib Sepuh Jakarta, seperti Maulid Al Hawi, Maulid Kramat Luar Batang, Maulid Gubah Al Haddad, Maulid Habib Kuncung Kalibata, dan banyak lagi lainnya. Dan semuanya pasti menyajikan nasi kebuli yang disajikan dalam nampan bulat besar. Para jama’ah yang hadir semua kebagian, meski satu nampan disantap empat hingga enam orang. “Ambil berkahnye,” kata sohib saya Bang Oji, begitu dia akrab saya panggil, pemuda Betawi asli Condet. Nama aslinya sih, Ahmad Fauzi.
Begitulah atmosfir suasana Maulid di Jakarta yang berlangsung dari awal bulan Rabi’ul Awwal hingga akhir Jumadil Akhir. Sudah rindu rasanya merasakannya lagi berkumpul, bertatap muka dan bersalaman satu sama lain sesama muhibbin. Berburu berkah dan nasi kebuli sungguh nikmat yang tak terperi, meski mampu kita mampu membeli. Suasana kekeluargaan dan persatuan meski berbeda majelis taklim berkumpul dalam majelis habaib adalah bentuk keberkahan tersendiri. Saat ini, teruslah berbuat baik karena kebaikan itu menular seperti adab dan kebaikan para habaib yang berbagi rezeki hidangan nasi kebuli saat acara Maulid digelar. Mudah-mudahan dengan banyaknya kebaikan yang menular saat pandemi ini, virus Corona segera sirna dari muka bumi—supaya suasana Maulid Nabi kembali menghiasi Jakarta dan seluruh negeri. Aamiin.
***
Suzan Lesmana – Pranata Humas BRIN
