Konten dari Pengguna

Ketika Setan Belek dan Setan Engklek Masuk YouTube

Suzan Lesmana

Suzan Lesmana

Pranata Humas, ASN BRIN, ASNation

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Suzan Lesmana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Live Streaming Akun YouTube Kang Ujang Busthomi cirebon saat "menghajar" dukun santet. Foto: Tangkapan Layar Youtube.com
zoom-in-whitePerbesar
Live Streaming Akun YouTube Kang Ujang Busthomi cirebon saat "menghajar" dukun santet. Foto: Tangkapan Layar Youtube.com

Seorang pria berpeci hitam tinggi, baju koko hitam bersarung merah terlihat berlari mengejar pria berambut gondrong dalam kegelapan malam. Akhirnya sang pria berambut gondrong tersudut di sebuah gubuk dalam hutan. Sang pria berpeci memintanya bertobat dari profesinya sebagai dukun santet. Namun perlawanan yang diterima. Tak ayal “pertarungan” tenaga dalam pun terjadi. Akhirnya sang pria berpeci pun memenangkannya disertai ucapan “ampuun Ustadz” dan Syahadat dari sang dukun, ditutup ucapan “setan belek setan engklek, paak…kepret bae” dari sang pria berpeci.

Deskripsi kejadian tersebut adalah isi salah satu konten video milik Kang Ujang Busthomi bertajuk "Hajar Lagi Antek 10 Dukun Santet Bareng Master Limbad" yang ditayangkan secara live streaming dari kanal YouTube “Kang Ujang Busthomi Cirebon” pada Minggu 4/10/2020. Tercatat sejak akun YouTubenya dibuat 12 Januari 2020, Kang Ujang telah memiliki 4 juta lebih subscriber, 265 video yang sudah ditonton 477.680.696 kali saat artikel ini ditulis.

Magnet sang pemilik jargon “kepret bae setan belek, setan engklek” ini, rupanya telah menarik artis-artis layar kaca yang sudah terkenal lebih dulu darinya. Tak ayal Master Limbad, penyanyi dangdut Endang Kurnia dan Pelukis Gaib Sholeh Pati mengunjunginya di Padepokan Anti Galau-nya di Cirebon, merapat bergabung dalam perburuannya mengejar dukun-dukun santet.

Kang Ujang Busthomi adalah salah seorang dari sekian banyak youtuber yang memanfaatkan kondisi Pandemi COVID-19. Ia membuat konten-konten video kreatif yang sangat diminati para sakreber dan shockbreker (istilah khusus yang disematkan Kang Ujang untuk para penikmat konten videonya, plesetan dari Subscriber). Para sakreber begitu betah dan ikut “hadir” dalam setiap aksi Kang Ujang.

Efek “hadir” yang dirasakan penonton sehingga tercipta emosional batiniah, menurut penulis adalah karena fasilitas fitur “Live Streaming”. Menurut Tamburaka (2013), Live Streaming adalah fitur internet bagi pemilik konten ataupun pengguna yang sudah memiliki akun YouTube. Asalkan terhubung dengan koneksi internet ataupun memiliki kuota yang memadai, semua dapat menyiarkan video yang sedang berlangsung saat itu juga.

Teori Uses and Gratification

Fenomena khalayak yang memilih akun YouTube Kang Ujang Busthomi, menurut penulis selaras dengan teori “Uses and Gratification” yang dikemukakan pertama kali oleh Herbett Blummer dan Ellihu Katz (1974). Teori ini mengatakan bahwa pengguna media memainkan peran lebih aktif untuk memilih media tersebut. Pengguna merupakan pihak yang aktif dalam usaha memuaskan kebutuhannya.

Khalayak dalam hal ini khalayak penonton akun YouTube Kang Ujang Busthomi adalah khalayak yang secara aktif menggunakan media untuk memenuhi kebutuhannya (uses) dan mendapatkan pemenuhan atas keingintahuan atau rasa penasaran (gratification) dari kelanjutan perburuan Ujang Busthomi terhadap para dukun santet.

Sementara teorisi media lainnya, Dennis McQuail (2003), mengkategorikan motif dari penggunaan media salah satunya sebagai pencarian informasi. Untuk konteks khalayak penonton akun Youtube Kang Ujang Busthomi, mereka mendapatkan informasi tidak hanya apa yang akan dilakukan Kang Ujang Busthomi namun menjawab curiousity atau keingintahuan khalayak akan hal-hal Ghaib.

Ghaib Bagian dari Masyarakat Indonesia

Hakiki dan Muttaqien (2019) dalam risetnya mengungkap bahwa dalam literatur Islam, ”ghaib” adalah sesuatu yang di luar tangkapan pancaindra, yang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah, beyond the reach of human perception ulas Muhammad Asad dalam bukunya ”The Message of the Qur'an”. Dalam agama Islam sendiri, mempercayai akan fenomena yang ghaib adalah sesuatu yang diajarkan, bahkan hal ini sangat prinsipil, hal tersebut dilihat dari kepercayaan terhadap yang ghaib dimasukkan dalam salah satu rukun iman yang enam dan wajib dipercayai. Karena itu, tak aneh jika masyarakat Indonesia menggemari tayangan berbau ghaib yang disajikan oleh media karena merupakan bagian dari agamanya.

Masih ingat kiranya kita saat media televisi marak dengan dunia gaib dan para “lelembut” yang dihadirkan program televisi sebut saja “Dunia Lain”, “Dua Dunia” atau “Gentayangan”, bahkan ada yang lebih interaktif adalah program “Pemburu Hantu”. Saat itu, stasiun televisi seakan-akan berkompetisi meraih rating dengan memikat pemirsa melalui tayangan senada yang disiarkan live dan interaktif. Pemirsa pun merasa dilibatkan, “seolah-olah” hadir dalam program tersebut bahkan dapat ambil bagian dengan menjadi pesertanya.

Santet dan Shalawat

Kembali ke fenomena Kang Ujang Busthomi, dimana dalam tayangannya Kang Ujang mengatakan jika apa yang dilakukannya itu adalah untuk syiar dakwah sekaligus menyadarkan orang-orang yang tersesat bahkan musyrik. Ia juga memberi nasihat agar setiap orang beriman tak perlu takut dengan santet atau ilmu hitam lainnya.

Hal tersebut sangat positif menurut penulis. Ada pesan agama dan moral dalam setiap tayangan videonya. Pesan edukasi dimana selama ini santet adalah sesuatu yang “untouchable” yang sangat menakutkan di masyarakat sementara Kang Ujang memberikan pelajaran sebagai orang yang beriman harus memiliki kekuatan iman dan takwa kepada Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, berani melawan santet dan kemusyrikan lainnya.

Dan, satu lagi yang sangat khas adalah lantunan Shalawatnya yang khas sebelum dan setelah “beraksi”. Secara tidak langsung ia mendakwahkan Shalawat Nabi kepada khalayaknya agar mencintai shalawat dan membacanya setiap saat selain yang utama tentunya menegakkan Shalat agar selamat dunia dan akhirat.