Konten dari Pengguna

Keutamaan Ngaji (2): Menjaga Silaturahmi

Suzan Lesmana

Suzan Lesmana

Pranata Humas, ASN BRIN, ASNation

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Suzan Lesmana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Musyafahah (Bersalaman) simbol Silaturahmi. Sumber: freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Musyafahah (Bersalaman) simbol Silaturahmi. Sumber: freepik.com

Menjaga Silaturahmi adalah keutamaan Ngaji lainnya selain seribu pahala seperti dikupas dalam artikel sebelumnya. Mengapa dengan Ngaji, Silaturahmi jadi terjaga? Bagaimana tidak terjaga, saat Ngaji kita dapat bermuwajahah (tatap muka) dan bermusyafahah (bersalaman), bertemu dengan saudara, sahabat, tetangga dan teman-teman kita yang biasa Ngaji bersama.

Berbagai kesibukan yang selalu mengiringi dalam proses menjalani kehidupan, mau tak mau menjadikan satu sama lain jadi jarang bertemu, larut dalam kesibukan masing-masing. Ketemunya kapan? Yaa..pas Ngaji. Pendeknya saat Ngaji, yang jauh mendekat, yang dekat merapat mencari kehangatan dalam cahaya ilmu di pengajian.

Makna Silaturahmi

Kata silaturahmi dalam KBBI bermakna tali persahabatan (persaudaraan). Sementara secara etimologis, kata silaturahmi berasal dari bahasa Arab, Sillah Ar-Rahim” (Shillah), artinya hubungan atau tali, kemudian Ar-Rahim adalah rahim. Jika disambungkan menjadi hubungan Rahim. Jadi, kata silaturahim memiliki makna yang erat kaitannya dengan hubungan kekeluargaan yang memilki hubungan darah atau satu Rahim (kandung). Sementara kata Ar-Rahm, dalam Bahasa Indonesia dibaca rahmi memiliki arti kasih sayang. Jadi Silaturahmi memiliki arti kasih sayang terhadap sesama.

Nabi Muhammad SAW menyatakan dalam haditsnya tentang silaturahmi. Sabdanya: “Man sarrohu ayyubsato lahu fii rizqihi wa ayyunsa’a lahu fii atsarihii fal yasil rohimahu”, yang artinya “Barang siapa yang dingin dikekalkan dalam rezekinya dan ingin dipanjangkan umurnya maka supaya menyambung famili (silaturrohim)”. (HR. Bukhari).

Silaturahmi Memudahkan Rezeki

Dengan silaturahmi dalam pengajian, peluang rezeki pun mudah. Biasanya sehabis pengajian, jama’ah akan berbincang satu sama lainnya diselingi dengan seruputan kopi ditemani dengan kudapan khas pengajian seperti gorengan dan kue-kue manis lainnya.

Dalam perbincangan tersebut akan muncul peluang usaha, lowongan kerja, dan kesempatan-kesempatan yang baik lainnya mengingat latar belakang jama’ah pengajian beragam dari pedagang asongan hingga kontraktor bangunan.

Setelah selesai pengajian, buah tangan, besek, nasi kotak, buah akan nyangkut di tangan jadi tentengan pulang. Belum lagi ustadznya, beseknya dua plus bisyarah salam tempel. Rezeki itu namanya.

Studi tentang korelasi silaturahmi dan penarik rezeki telah dilakukan Boxman, De Graaf, Flap, Putnam, Fukuyama dan banyak peneliti dunia lainnya yang dalam kajian ilmu sosial dikenal dengan modal sosial (social capital) yang merujuk sosiolog Coleman (1987) dan Bordieu (1986), semakin menguatkan dan membuktikan signifikansi silaturahmi sebagaimana Nabi SAW sabdakan.

Silaturahmi Memperpanjang Umur

Makanya orang tua kita zaman dahulu rajin silaturahmi. Selain murah rezeki juga bikin panjang umur. Energi positif yang menular tidak hanya keberkahan ngajinya namun senyum dan tawa canda jama’ah saat perbincangan selesai pengajian menjadi imunitas dan psikologis jama’ah pun meningkat , terlepas batas usia yang memang sudah ditetapkanNya.

Dalam sebuah riset Berkman dan Shyme (1979) menghasilkan kesimpulan bahwa pribadi yang rajin bersilaturahmi yang dikuantifikasi dengan luasnya jejaring berkecenderungan hidup lebih lama, karena interaksi, komunikasi dan dukungan sosial mampu menambah kebahagian dan kesehatan

Tak heran kalau kita perhatikan kakek nenek kita zaman dahulu, usianya panjang-panjang karena silaturahminya rajin, tidak putus. Selain itu orang zaman dulu makanan dan minumannya masih asli-asli, natural tidak ada zat kimianya. Contohnya: orang dulu minum air sawah, tidak mati. Padahal airnya bekas tepakan kerbau. Tapi memang airnya bening sekali sawahnya. Minumnya pakai gogolio.

Makanan Dulu dan Kini

Belum lagi makanan orang dulu masih buatan tangan. Ada wajit, dodol, uli, rengginang, renggining, kue cerorot, obyo, cucur, gemblong, akar kelapa, geplak, ongol-ongol, ganasturi, sagon, yang makannya harus hati-hati, nyembur soalnya.

Jangan lupa pula, makanan-makanan tersebut diolah nenek kita sambil shalawatan dan kerudung masih nempel di kepala. Makanya tidak ada itu pas makan ongol-ongol anak cucunya keselek rambut panjang dalam ongol-ongol.

Kalau kita lihat makanan sekarang, macam-macam jenisnya, plus bahan pengawet dicampurkan agar makanan yang dijual tidak cepat rusak dan berbau. Akibatnya banyak ditemui orang keracunan makanan atau terdeteksi sakit pencernaan yang merupakan akumulasi konsumsi makanan dalam waktu lama.

Dokter banyak, rumah sakit pun banyak. Namun penyakit juga tak mau kalah. Aneh-aneh namanya. Ada asem urat, sakit kuning, hepatitis B, Covid-19, stroke. Stroke itu berat. Segerobak aja berat, apalagi se-Truk. Masih muda punya pabrik gula alias kencing manis. Cincin yang harusnya dipake di jari sekarang di jantung (jantung koroner).

Lah coba orang dulu, paling sakit gudik, gidu. Tidak pakai berobat. Dia cari tiker pandan kering, dia bikin tabunan, dia garang pantatnya, sembuh!

Ngaji Ajang Silaturahmi

Meskipun sudah jelas keutamaan Ngaji dalam artikel ini yakni Menjaga Silaturahmi, namun masih banyak pula yang tak mengetahuinya karena belum Ngaji. Banyak kita temui orang-orang yang malah memutus silaturahmi karena berbagai sebab. Padahal Rasulullah SAW telah mengingatkan bagi orang yang memutus silaturahmi akan berdampak terhalangnya ia masuk ke Surganya Allah SWT. Dari Jubair bin Muth’in Nabi SAW bersabda: “Laa yadkhulil jannata qothi’u, ya’ni qothi’a rohimin” (H.R. Bukhari Muslim).

Mari kita manfaatkan medium Ngaji sebagai ajang menjaga silaturahmi, baik saudara, sahabat, tetangga, teman yang jauh maupun yang dekat agar kita dipanjangkan umur dan mempermudah lancarnya rezeki. Jika tidak ada waktu khusus silaturahmi dalam arti bertamu, beranjangsana satu sama lain, maka kita manfaatkan sebaik-baiknya saat Ngaji sebagai washilah atau mediumnya.