Konten dari Pengguna

Kisah si Kunyit, Anjing Kampung Sahabatku Saat SMP

Suzan Lesmana

Suzan Lesmana

Pranata Humas, ASN BRIN, ASNation

·waktu baca 4 menit

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Suzan Lesmana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Anjing. Sumber: freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Anjing. Sumber: freepik.com

Berbuat kebaikan dapat dilakukan kepada siapa saja, tak hanya kepada sesama manusia. Berbuat baik kepada hewan pun termasuk wujud kebaikan kepada mahluk Tuhan—termasuk kepada seekor anjing. Namun tak semua orang suka memelihara anjing, termasuk bapakku. Namun pendirian bapakku akhirnya goyah setelah aku membawa seekor anjing kampung selepas pulang sekolah. Rengekan dan janjiku untuk memelihara dan menjaganya sebaik mungkin akhirnya membuahkan hasil. Hati bapakku luluh. Sayang kebersamaan dengan anjingku harus berakhir gara-gara ia punya hobi baru. Ya, gigit sendal adalah hobinya yang membuat kami harus berpisah.

***

Sedari kecil aku sangat senang memelihara hewan. Mulai dari ayam, kucing, hingga anjing. Bapakku sengaja membuatkan kandang ayam yang kokoh dari bahan kayu peti kemas. Kalau memelihara anjing, dimulai sejak aku duduk di bangku SMP saat di Plaju, Palembang. Ceritanya aku menemukan anjing kampung berkeliaran di jalan sepulang sekolah. Sisa makanan pun aku bagi buatnya. Lantas sang anjing mengikutiku sampai ke rumah. Sampai rumah aku beri makan lagi. Ikan goreng besar masakan ibu.

Karena sering dikasih makan, lama-kelamaan si anjing sepertinya telah menetapkan hatinya untuk tinggal bersamaku. Tatapan matanya yang polos, disertai juluran lidah dan gerakan khas menggoyang-goyang ekor, membuatku susah untuk mengusirnya jauh dari rumah. Aku pun merengek kepada bapak untuk memeliharanya.

“Pak, bolehkah melihara anjing?”

“Memangnya anjing siapa itu?” tanya bapak.

“Nggak ada yang punya, Pak. Ucan janji memelihara dan menjaganya baik-baik, nggak ganggu tetangga,” ujarku meyakinkan.

Ya, sudah kalau memang begitu. Asal ayam-ayammu jangan sampai nggak keurus,” tegas bapak.

Syukurlah bapak merestui dan resmilah si anjing menjadi bagian dari keluarga kami. Selanjutnya tinggal mencari nama yang sesuai. Mempunyai bulu berwarna kuning, membuat si anjing mirip kunyit besar. Aku pun menamainya si Kunyit. Kunyit sengaja tak diikat karena ia begitu jinak dan akrab pun dengan tetangga. Kunyit menempati garasi samping rumah.

Hari-hariku pun begitu berwarna dengan kehadiran si Kunyit. Kehadirannya bukan lagi sekedar peliharaan, tapi sudah mewujud sebagai sahabat yang kusayang. Waktu pun berjalan cepat, tak terasa 1 tahun sudah si Kunyit menjadi sahabatku. Setiap aku main, Kunyit selalu membersamai. Sampai suatu saat aku terpaksa bertikai dengan anak laki-laki satu kompleks selepas main bola. Entah karena takut sama si Kunyit, anak tersebut panik dan ketakutan.

“Anjing-anjing!” sambil tangannya menunjuk-nunjuk si Kunyit. Anak tersebut akhirnya lari tunggang langgang. Aku pun ikut pulang—bersama Kunyit bak Shaggy dan Scooby-Doo. Namun tak lama orang tua si anak datang ke rumah—tak terima ke bapakku.Dan si Kunyit pun turut disalahkan karena membersamaiku saat pertikaian terjadi. Untunglah berakhir damai setelah kami saling berjabat tangan.

***

Menginjak tahun kedua, Kunyit bermetamorfosis menjadi anjing kampung yang bersih, langsing dan gagah, khas anjing rumahan. Seiring itu pula hasrat seksualnya bergejolak bersamaan musim anjing kawin. Ia pun mulai sering menghilang. Kadang 3 hari baru pulang ke rumah. Pernah 5 hari Kunyit baru pulang dengan tubuh kurus akibat kurang makan. Meski demikian, aku tetap menerima Kunyit kembali ke pelukan.

Tak lama setelah kembali ke rumahku, si Kunyit tiba-tiba mempunyai kebiasaan baru yang begitu menyebalkan dan membuat bapakku marah. Kunyit jadi hobi gigit sendal. Sendalku, sendal ibu dan sendal baru bapak, bahkan sendal tetangga pun tak luput dari gigitannya. Akhirnya pada suatu hari, bapak bilang bahwa ada temannya yang tertarik memelihara anjing. Dan bapak menawarkan Kunyit untuk dipelihara temannya tersebut. “Sepertinya kebiasaan baru si Kunyit, gigitin sendal, bikin bapak harus mengganti sendal tetangga yang rusak. Teman Bapak ada yang mau merawat si Kunyit, Can. Orangnya baik dan sayang sama anjing. Dia baru kehilangan anjingnya,” ungkap bapak.

Bapak sepertinya serius pada ucapannya. Sepekan kemudian, teman bapak yang dimaksud datang. Kunyit pun dibawa. Deru mobil lamat-lamat meninggalkan rumah. Seiring bayangan Kunyit yang kian menghilang dalam pandangan. Bapak berusaha menghiburku. “Memberikan yang terbaik dari kita juga salah satu bentuk kebaikan, Can,” terang bapakku. “Yang penting teruslah berbuat baik, karena kebaikan itu menular,” imbuh bapakku. Aku pun tak membantah bapak. Patuh pada orang tua lebih utama pikirku. Aku pun berdoa dalam hati: “Semoga kau baik-baik saja dengan tuanmu yang baru, Kunyit."Aamiin.

***

Suzan Lesmana – Pranata Humas BRIN