Konten dari Pengguna

Menikmati Ikan Bakar Penuh Cinta di Bulukumba

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Suzan Lesmana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagai ilustrasi: Ikan bakar sirasang Syailendra Restaurant. Foto: Kartika Pamujiningtyas/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Sebagai ilustrasi: Ikan bakar sirasang Syailendra Restaurant. Foto: Kartika Pamujiningtyas/kumparan

“Dari Jakarta ke Bulukumba, beli kemeja dibuat parsel.

Jauh di mata ingin berjumpa, para remaja PIR Sulsel”

Sebuah perjalanan dinas dari instansi saya bekerja, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), telah menghantarkan saya ke sebuah Kabupaten di Sulawesi Selatan (Sulsel), Bulukumba. Di sana, saya bertemu dengan para remaja, siswa SMP/SMA dan sederajat dalam acara Pekan Ilmiah Remaja (PIR) Regional Sulsel. Kegiatan berlangsung dari tanggal 25 hingga 29 Maret 2019 di Gd. Sarana Kegiatan Belajar (SKB), Bulukumba.

Kegiatan yang sudah menginjak tahun ke-XIII tersebut adalah kegiatan rutin tahunan Pemerintah Daerah Kabupaten Bulukumba dan merupakan seleksi peserta perwakilan daerah untuk mengikuti Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional (PIRN) di Banyuwangi pada bulan Juni 2019.

Para siswa mendapatkan pelatihan penulisan ilmiah dari peneliti-peneliti LIPI melalui pembelajaran di kelas, pengumpulan data lapangan, penyusunan karya tulis ilmiah, hingga simulasi presentasi karya tulis ilmiah mereka hingga pemilihan kelompok terbaik dari kelas IPA, IPTEK dan IPS.

Baiklah saya ceritakan kembali tugas yang begitu mengesankan di daerah yang baru pertama kalinya saya kunjungi. Begini kisahnya.

Minggu, 24 Maret 2019, saya dan tim yang terdiri dari dua humas LIPI, yakni saya dan Dodi Rosadi serta tiga Peneliti LIPI lainnya, Dr. Obing Katubi, Dr. Toto Sudiro, Dr. Tutik Murniasih berangkat dari Jakarta dan tiba di Makassar di sore hari. Kami dijemput seorang pria dari perusahaan travel yang bernama Daeng Ulla.

Saya tak menduga, perjalanan ditempuh hingga tujuh jam lamanya, tiba di Bulukumba pukul 00.30 WITA. Kami diterima di rumah Ketua Panitia PIR, sang Kepala Sekolah, Surisman Ambo beserta anak istrinya, Bu Hasna, Dini dan Farah.

Rasa lelah selama perjalanan panjang hilang seketika karena luasnya hati Pak Surisman dan keluarganya. Suguhan buah Langsat khas Bulukumba yang memang sedang musimnya, menambah segarnya raga. Akhirnya kami menginap malam itu di Wisma Bira, Bulukumba.

Kajang Kassi dan Pantai Tanjung Bira

Hari pertama, Senin, 25 Maret 2019, Tim LIPI bertambah satu orang lagi, yakni: Kasubbag Fasilitasi Iptek, Yutainten, M.Commun., yang baru tiba menggenapi jumlah kami menjadi enam orang.

Tim LIPI dan ASN Dispora Pemkab. Bulukumba di Kajang. Foto: Dokumentasi Pribadi.

Saya dan tim melakukan survei ke daerah Pelabuhan Kajang Kassi sebagai persiapan lokus penelitian para siswa esok harinya. Hmm, sebuah lokasi yang masih asli dengan riuh rendah nelayan membuang sauh dan bertransaksi di pinggir pantai. Kami bertemu pemilik tambak udang faname yang sangat antusias menerima dan berdialog seputar tambak dan udang faname.

Selesai survei, tak lupa kami diajak melipir sejenak di Pantai Tanjung Bira nan indah. Kata Pak Surisman, tak afdhol kalau sudah ke Bulukumba tapi tak mampir ke Pantai Tanjung Bira. Dan memang benar, begitu indah pantainya yang sudah ditata apik siap menerima para wisatawan dengan spot-spot foto menarik. Kami pun tak menyia-nyiakan kesempatan mengabadikan moment bagus itu.

Pantai Tanjung Bira. Foto: Dokumentasi Pribadi

Hari kedua, Selasa, 26 Maret 2019, kegiatan PIR Sulsel dibuka resmi oleh Wakil Bupati Bulukumba, Tomy Satrio Yulianto, S.IP. pemuda asli daerah Bulukumba. Ia menyatakan output PIR Sulsel adalah munculnya generasi muda yang resisten terhadap hoax dan tidak hanya menjadi juara tetapi kemudian meletakkan cara berpikir yang lebih baik dan menjadi problem solver dari masalah-masalah bukan menambah masalah pada dinamika-dinamika sosial di masyarakat.

Sedangkan Yutainten mengungkapkan peneliti dapat menjadi terkenal dan yang paling penting bermanfaat dan menginspirasi orang lain untuk menjadi lebih baik melalui sains. Ia mengajak para siswa untuk ikut berpartisipasi di PIRN 2019 Banyuwangi dengan mendaftar di www.pirn.lipi.go.id

Sebuah maskot nelayan Bulukumba yang legendaris, yakni miniatur kapal Pinisi dalam kotak kaca menjadi buah tangan yang diberikan sang Wakil Bupati kepada LIPI. Acara seremonial ditutup dengan Ice Breaking dipandu saya sendiri ditemani rekan Dodi Rosadi. Suasana pun menjadi ceria penuh semangat untuk memulai kegiatan pembelajaran.

Tim LIPI bersama Wakil Bupati Bulukumba dan Jajaran. Foto: Dokumentasi Pribadi.

Makan Ikan Bakar Penuh Cinta

Hari ketiga dan keempat, Rabu-Kamis, 27-28 Maret 2019 diisi dengan materi penelitian ke Pusat Pelelangan Ikan Pelabuhan Kajang Kassi dan tambak udang faname yang telah disurvei sebelumnya. Para Peneliti LIPI yang menjadi instruktur masing-masing bidang ilmu yakni IPT, IPA dan IPSK turut mendampingi siswa ke lapangan dengan telaten. Saat bulir keringat satu demi satu menetes, kami disuguhi panitia masing-masing sebutir kelapa muda. Duh betapa segarnya air kelapa muda saat masuk ke kerongkongan dan menjadi penawar dahaga dari teriknya panas mentari Kajang.

Sorenya, saya dan tim diajak mampir ke rumah salah seorang panitia. Kami dijamu lauk ikan bakar khas pesisir laut. Makan ikan bakar bagaikan makan kerupuk saja saking banyaknya. Biasa makan satu ekor ikan untuk sepiring nasi, namun kali ini satu suap sepertinya harus satu ikan. Dan mereka menyediakannya dengan penuh suka cita dan saya yakin penuh cinta demi menghargai para tamu yang dihormati.

Pada dasarnya memang warga bulukumba doyan makan ikan bakar. Selain stocknya melimpah, murah dan mencerdaskan otak supaya sehat. Tak heran, anak-anak Bulukumba cerdas dan berprestasi.

Kegembiraan kami agaknya harus ditahan dulu malam harinya. Faktor kelelahan membuat anggota Tim, Dodi Rosadi drop karena batuk, berlanjut Dr. Toto. Untunglah kami dipertemukan dengan seorang dokter luar biasa, dr. H. Abd. Gaffar, tetangga Pak Surisman, sehingga rumahnya terbuka menerima pasien meski sudah larut.

Esoknya, selepas salat Dzuhur di Masjid Dato' Tiro, Bulukumba, panitia mengajak kami rehat sejenak di halaman masjid menikmati durian lokal, durian Otong namanya. Aneh juga, tapi apalah artinya nama, yang penting durian tetaplah durian, nikmat rasanya.

Malam harinya para siswa tetap melanjutkan pembelajaran. Dan memang setiap hari kegiatan selalu berakhir pukul 22.00 WITA, kadang lewat.

Akhir PIR Regional Sulsel

Akhirnya Jum’at, 29 Maret 2019, berakhirlah kegiatan PIR Regional Sulsel di Bulukumba, menghasilkan enam siswa terbaik dan empat rekomendasi serta juara-juara Kelompok IPT, IPA, dan IPSK.

Bersama Siswa PIR Regional Sulsel, di Bulukumba. Foto: Dokumentasi Pribadi.

Games Kahoot mewarnai keceriaan para siswa sebelum penutupan dengan hadiah dari LIPI sebagai tanda mata. Sesdispora, Andi Muhammad Hamka menutup acara dengan memberikan apresiasi tinggi kepada LIPI. Tak lupa Ketua Panitia, Surisman, M.Pd. memberi motivasi kepada siswa yang belum dapat juara. Jumat malam, saya dan Tim LIPI meninggalkan Bulukumba yang penuh kenangan luar biasa.

Perjalanan menembus malam ditempuh dengan mobil Travel Cahaya Bone. Ibis Hotel Bandara Makassar menjadi pilihan merebahkan raga. Esoknya, Sabtu, 30 Maret 2019, tak terasa kaki sudah menginjak Bandara Soetta kembali. Alhamdulillah.

“Tanjung Bira ada kapalnya, lautnya biru membuat basah.

Hati gembira, sungguh senangnya, jadilah haru saat berpisah”

***

Suzan Lesmana – Pranata Humas LIPI