Konten dari Pengguna

Menyiasati Food Neophobia Sayuran pada Anak

Suzan Lesmana

Suzan Lesmana

Pranata Humas, ASN BRIN, ASNation

·waktu baca 4 menit

comment
9
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Suzan Lesmana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi anak tak suka sayuran. Sumber foto: freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak tak suka sayuran. Sumber foto: freepik.com

Saat pandemi begini, semua orang fokus meningkatkan imunitas alias ketahanan tubuh. Semua berlomba-lomba mengejar sumber imunitas baik dari nutrisi makanan sehat yang dikonsumsi sehari-hari maupun dari vitamin-vitamin essensial seperti A, B, B6, C, D, dan E berbentuk kapsul atau cairan.

Bicara makanan sehat, saya jadi teringat saat masih sekolah. Dulu ada sebuah program pemerintah bernama 4 sehat 5 sempurna. Saat itu para guru mengajarkan murid-muridnya apa itu 4 sehat 5 sempurna—yang terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayur-sayuran, buah-buahan dan juga susu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh. Namun tak mudah bagi setiap anak mengonsumsi semua unsur 4 sehat 5 sempurna tersebut. Salah satunya sayur-sayuran.

Dari berbagai referensi yang saya baca, ketaksukaan ini disebut food neophobia, yakni fobia atau rasa takut terhadap makanan yang baru dirasakan saat anak berusia enam bulan sampai enam tahun—termasuk sayuran. Seperti diketahui anak-anak lebih familier dengan rasa manis tinimbang rasa sayur yang tawar bahkan pahit. Makanya buah-buahan yang manis lebih disukai anak-anak dibanding sayur-sayuran.

Lalu yang sering menjadi pertanyaan adalah apakah buah-buahan dapat menggantikan sayur-sayuran? Kalau merujuk Badan Kesehatan Dunia (WHO), tetap menganjurkan kita mengonsumsi keduanya, baik buah-buahan maupun sayur-sayuran sebanyak 400-600 gram per hari. Jumlah tersebut terdiri dari 250 gram sayur dan 150 gram buah.

Dan di dalam buah terdapat karbohidrat sederhana seperti fruktosa yang tak dimiliki sayuran. Maka sayuran tetap wajib hukumnya dikonsumsi. Perlu disiasati memang, agar sayuran tetap dikonsumsi anak-anak kita, ya Bunda. Maka sayuran tak cukup hanya dibuat bening saja kuahnya, beberapa cara berikut dapat para bunda praktekkan agar anak senang mengonsumsi sayur-sayuran. Berikut beberapa cara yang sudah istri saya praktekkan ke anak-anak dan saya bagi ke bunda semua. Mudah-mudahan bermanfaat dengan teruslah berbuat baik karena kebaikan itu menular. Check it out, Bun.

Disop

Sayur disop adalah favorit istri saya selain sayur bening. Beberapa campuran sayuran untuk jadi bahan sop adalah brokoli, seledri, wortel, buncis, kembang kol dan daun kolnya. Sedangkan bumbunya adalah bawang prei, bawang putih, bawang merah, merica, garam, minyak untuk menumis dan air secukupnya.

Ditumis

Jenis sayuran yang cocok buat ditumis adalah kangkung, labu siam, dan toge. Bumbu-bumbunya terdiri dari campuran bawang merah, bawang putih, cabai merah besar, cabai rawit ditumis jadi satu. Lalu tambahkan tomat, udang goreng, gula, garam, lada bubuk, dan kaldu ayam.

Disemur

Sayuran yang dapat disemur adalah tahu, toge, daun seledri, dan tomat. Bumbu-bumbunya adalah daun bawang, bawang putih, bawang merah, daun jeruk purut, cabai merah besar, lengkuas, merica, garam, gula, kecap manis, kaldu ayam, minyak untuk menumis dan air secukupnya.

Dicapcay

Namanya capcay ya sudah pasti campuran berbagai sayur sehat seperti daun kol, kembang kol, jamur bundar, wortel, sawi, cabai merah, bawang putih, bawang merah, gula pasir, penyedap rasa, garam, cumi, bakso potong, udang, saos tiram, minyak untuk menumis dan air secukupnya.

Digulai

Sayuran yang pas buat digulai adalah daun singkong rebus dan nangka muda. Campuran lainnya adalah daging tetelan dan santan kelapa. Bumbu-bumbunya terdiri dari serai, daun salam, daun jeruk purut, lengkuas, garam, penyedap rasa, gula, merica, ketumbar, bawang putih, bawang merah, cabe merah, kunyit, jahe, kencur, minyak untuk menumis dan air secukupnya.

Dipecak

Biasanya yang kita tahu pecak lele, namun sesungguhnya ada sayuran yang dapat dipecak yakni terong, lazimnya terong ungu—yang sudah dibelah. Bumbu-bumbunya antara lain kencur, terasi, bawang putih, bawang merah, kemiri, cabai merah, cabai rawit, garam, gula, kaldu bubuk dan air secukupnya.

Dijus

Variasi yang sangat disukai tak hanya anak-anak namun juga orang dewasa adalah jus sayuran. Mulai bayam, wortel, seledri, timun, brokoli, hingga buncis dapat dibuat jus baik secara tersendiri maupun dicampur semuanya. Biasanya dicampur dengan kurma atau madu supaya lebih manis.

Di-Ice Cream-kan

Naah, khusus yang ini istri saya belum nyoba karena butuh mesin pembuat ice cream. Yang anti mainstream tak ada salahnya mencoba resep ala Sisca Kohl ini, yakni sayuran dicampur ice cream. Hmmm, gimana? Anak siapa yang tak suka ice cream? Namun kali ini sayuran menjadi salah satu isinya.

Gimana, Bun? Seru, ‘kan? Dan jangan lupa, orang tua membiasakan diri juga di depan anak-anaknya mengonsumsi sayur-sayuran. Selamat mencoba, Bun.

***

Suzan Lesmana – Pranata Humas BRIN