Konten dari Pengguna

Pengembangan Ekonomi Maritim: Potensi Raksasa yang Beluh Dikelola Maksimal

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Francissco Oktorio Susanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://www.pexels.com/search/?q=ekonomi%20indonesia
zoom-in-whitePerbesar
https://www.pexels.com/search/?q=ekonomi%20indonesia

Kekayaan Laut Kita — Janji yang Indah, Langkah yang Belum Tiba

Lihatlah peta negeri ini. Hampir dua pertiganya adalah air. Laut bukan sekadar batas wilayah atau tempat mencari ikan — ia adalah wajah kita, jiwa bangsa ini. Sejak zaman dahulu, kejayaan Sriwijaya dan Majapahit lahir dari penguasaan lautan. Kita berdiri di persimpangan jalur perdagangan dunia, dikelilingi kekayaan yang tak ternilai. Namun satu hal yang menyakitkan: mengapa justru di saat wilayah laut kita begitu luas, kita sendiri masih menjadi penonton di rumah sendiri?

Laut Bukan Sekadar Angka — Ia Adalah Siapa Kita

Kita sering berbicara tentang laut dalam hitungan rupiah, tonase, dan barel. Padahal, laut adalah identitas. Dulu nenek moyang kita berlayar, menghubungkan pulau-pulau, menjalin persaudaraan di atas gelombang. Kini, banyak dari kita lebih bangga menyebut diri bangsa yang mengandalkan daratan, seolah lupa bahwa lautlah yang menyatukan kita. Mungkin inilah akar segala hal — kita mulai mencintai tanah tempat berpijak, tetapi lupa mencintai laut yang memberi kehidupan.

"Potensi Raksasa" — Kata yang Membuat Kita Terlena

Sudah puluhan tahun kita mendengar kalimat itu diucapkan berulang-ulang: laut kita kaya, potensinya luar biasa. Namun kata "potensi" itu sendiri artinya — belum menjadi kenyataan. Kita membiarkan kapal asing bebas mengambil ikan di perairan kita, sementara nelayan kita masih berlayar dengan perahu kecil dan jaring sederhana. Pelabuhan kita tertinggal, sehingga mengirim barang ke luar negeri justru lebih murah daripada mengantar dari satu pulau ke pulau lain di negeri sendiri. Kekayaan yang tidak dikelola bukanlah kebanggaan — itu kerugian yang terus berulang setiap harinya.

Yang Paling Dekat Justru Yang Paling Tertinggal

Ada pemandangan yang menyentuh hati: orang yang setiap hari melawan ombak, yang paling mengenal laut, justru yang paling miskin. Nelayan dan masyarakat pesisir adalah pemilik sah kekayaan ini, namun mereka hidup di garis sulit. Keuntungan terbesarnya justru dinikmati pihak lain — yang punya modal besar, koneksi luas, akses ke pasar jauh. Jika kemakmuran laut hanya jatuh ke tangan segelintir orang, seberapa kaya pun perairan ini, tidak akan bermakna bagi bangsa. Mengelola laut bukan berarti mengambil sebanyak-banyaknya secepat mungkin — melainkan memastikan mereka yang menjaganya pun sejahtera. Tanpa keadilan, semua rencana hanyalah tulisan di atas kertas.

Mengambil Tanpa Menjaga = Menjual Masa Depan

Kita sering berpikir: ambil dulu, nikmati sekarang, perbaiki nanti. Padahal laut yang rusak tidak akan memberi apa-apa lagi kepada anak cucu. Terumbu karang memutih, hutan bakau menyusut, pantai tertutup sampah — semua ini tanda bahwa kita mengambil lebih dari yang mampu laut berikan. Pembangunan yang merusak bukan kemajuan; itu pencurian terhadap masa depan. Kekayaan sejati bukan diukur dari seberapa cepat kita mengeruk, melainkan seberapa bijak kita menjaga agar laut tetap memberi, tahun demi tahun.

Poros Maritim Dunia — Lebih Dari Sekadar Slogan

Gagasan menjadikan Indonesia Poros Maritim Dunia sudah benar arahnya. Namun pelaksanaannya masih terpotong-potong — satu pihak menyusun rencana, pihak lain berjalan ke arah berbeda, dan tidak ada yang memastikan semuanya berjalan selaras. Kita butuh satu tujuan yang tetap tegak, meski pimpinan berganti. Membangun ekonomi maritim bukan proyek satu periode pemerintahan — ini perjuangan yang melintasi generasi. Tanpa kesepakatan nasional yang kuat dan tata kelola yang bersih, kapal-kapal kita akan terus berlayar tanpa arah yang pasti.

Penutup: Laut Tidak Akan Menunggu Kita

Pada akhirnya, bukan soal kita belum mampu — kita punya kekayaan, lokasi, dan rakyat yang cukup. Yang masih dipertanyakan adalah kemauan dan keseriusan. Kita berdiri di persimpangan: apakah akan membiarkan kekayaan ini terus diambil orang lain, rusak, dan hilang perlahan? Atau kita bangkit, menyatukan langkah, dan mengelola warisan ini dengan tanggung jawab?

Laut tidak menunda. Kekayaan yang hilang sulit dikembalikan. Ini bukan tugas pemerintah saja — menjaga pantai, tidak membeli hasil laut curian, menuntut kebijakan yang adil dan berkelanjutan — itu kewajiban kita semua. Kekayaan raksasa ini sudah ada di depan mata. Sekaranglah waktunya kita mengambilnya dengan cara yang benar: bermartabat, adil, dan tetap menjaganya untuk mereka yang akan datang sesudah kita.