Pergi ke Neraka Duka Masa Kecil

mahasiswa uin jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari ojan gipari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cerpen "Pergi ke Neraka" menghadirkan makna neraka yang berbeda dari bayangan kebanyakan orang. Melalui kisah dua anak yang dipenuhi luka masa kecil, pengarang mengajak pembaca memahami bahwa neraka tidak selalu dimaknai sebagai tempat setelah kematian, tetapi juga sebagai simbol penderitaan yang dialami seseorang sejak kecil. Analisis cerpen ini menggunakan teori Burhan Nurgiyantoro untuk melihat bagaimana tema dibangun melalui tokoh, konflik, dan rangkaian peristiwa.
“Pergi ke mana?”
“Tempat yang duka”
Jawaban itu bukan sekadar candaan. Di baliknya tersimpan kelelahan, kemarahan, dan keputusasaan seorang anak yang merasa hidupnya tidak pernah memberi alasan untuk berharap.
Lalu, apa sebenarnya gagasan yang ingin disampaikan pengarang melalui cerpen"Pergi ke Neraka" ini?
Untuk memahaminya, kita dapat menggunakan pendekatan Burhan Nurgiyantoro dalam Teori Pengkajian Fiksi. Menurut Nurgiyantoro (2018), tema merupakan gagasan dasar atau makna pokok yang menjadi landasan seluruh cerita. Tema tidak disampaikan secara langsung, melainkan dibangun melalui tokoh, konflik, latar, dan rangkaian peristiwa yang saling berkaitan.
Ketika cerpen Pergi ke Neraka Membuat Seseorang Kehilangan Harapan
Tema mayor dalam cerpen"Pergi ke Neraka" Teori Burhan Nurgiyantoro ini adalah luka masa kecil akibat penolakan dan kurangnya kasih sayang yang membuat seseorang kehilangan harapan terhadap hidupnya.
Hal itu terlihat dari keinginan tokoh bocah lelaki yang terus bersikeras menuju neraka.
“Aku bukan hanya akan singgah ke sana, tetapi menetap! Menetap selamanya!”
Kalimat tersebut menunjukkan bahwa neraka bukan lagi sesuatu yang menakutkan baginya. Justru tempat itulah yang ia anggap pantas menjadi tujuan hidupnya. Keinginan itu lahir bukan karena ia menyukai penderitaan, melainkan karena ia merasa sejak kecil telah hidup dalam penderitaan yang tidak pernah berakhir.
Pandangan tersebut semakin diperjelas ketika bocah perempuan mengungkap latar kehidupan mereka.
“Orang tua kita sama-sama tidak menginginkan kita. Mereka perlakukan kita dengan sangat buruk, seolah kita bukan manusia.”
Kutipan ini menjadi kunci utama untuk memahami keseluruhan cerita. Pengarang ingin menunjukkan bahwa luka terbesar seorang anak sering kali bukan berasal dari dunia luar, melainkan dari rumah yang gagal memberikan rasa aman.
Dalam perspektif Burhan Nurgiyantoro, konflik semacam ini menjadi penguat tema karena seluruh peristiwa dalam cerita bergerak menuju satu gagasan yang sama, yaitu bahwa pengalaman masa kecil akan terus memengaruhi cara seseorang memandang dirinya dan dunia.
Tema Minor dalam Cerpen "Pergi ke Neraka"
Selain tema utama tentang trauma masa kecil, cerpen ini juga menghadirkan tema minor berupa kesetiaan dan kasih sayang yang tidak menuntut balasan.
Hal itu tergambar melalui tokoh bocah perempuan yang terus mengikuti bocah lelaki meskipun berkali-kali ditolak.
“Aku akan berjalan tepat di belakangmu agar kamu tidak meninggalkanku.”
Ia bahkan tetap bertahan ketika diancam dengan berbagai gambaran mengerikan tentang neraka.
“Yang penting aku menemani orang yang kusayangi, walau ia tidak mau tahu perasaanku.”
Sikap tersebut menunjukkan bahwa kasih sayang tidak selalu hadir dalam bentuk kata-kata indah. Kadang, kasih sayang justru hadir melalui kesediaan untuk tetap tinggal ketika semua orang memilih pergi.
Menurut Burhan Nurgiyantoro, tema tidak hanya dibangun oleh konflik, tetapi juga oleh hubungan antartokoh. Kehadiran bocah perempuan menjadi penyeimbang yang memperlihatkan bahwa di tengah luka yang mendalam, masih ada harapan yang datang melalui kepedulian orang lain.
Pergi ke Neraka Ternyata Bukan Tempat Mereka
Bagian paling menyentuh dalam cerpen ini hadir ketika kedua tokoh akhirnya benar-benar tiba di neraka. Selama perjalanan panjang, pembaca mengira tujuan mereka memang untuk menetap di sana. Namun, pengarang justru menghadirkan kejutan melalui percakapan antara bocah perempuan dan malaikat.
“Ini bukan tempat kalian, Nak.”
Kemudian malaikat melanjutkan,
“Surga-lah tempat yang sesuai untuk kalian.”
Adegan ini mengubah cara pembaca memaknai keseluruhan cerita. Ternyata perjalanan menuju neraka bukanlah akhir, melainkan proses untuk menyelesaikan luka yang selama ini membebani hati bocah lelaki.
Ia datang ke sana bukan karena ingin menjadi penghuni neraka, melainkan karena ingin bertemu ayahnya dan mempertanyakan mengapa dirinya harus dilahirkan jika akhirnya dibenci.
Di sinilah letak kekuatan cerpen ini. Neraka berubah menjadi simbol dari trauma masa lalu, sedangkan surga menjadi lambang bahwa setiap anak tetap berhak mendapatkan kasih sayang, seberat apa pun masa kecil yang pernah mereka alami.
Pada akhirnya, cerpen "Pergi ke Neraka" tidak berbicara mengenai neraka sebagai tempat hukuman, melainkan menggambarkan penderitaan batin akibat kurangnya kasih sayang sejak masa kanak-kanak. Melalui teori Burhan Nurgiyantoro, tema cerita tampak menyatu dengan tokoh, konflik, dan latar sehingga menghasilkan makna yang utuh. Pesan Kehidupan dalam Cerpen "Pergi ke Neraka" Teori Burhan Nurgiyantoro mengingatkan pembaca bahwa pengalaman masa kecil dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya maupun dunia. Oleh karena itu, karya ini tidak hanya menarik dari sisi sastra, tetapi juga relevan dengan persoalan sosial yang masih banyak ditemui hingga sekarang.
Daftar Pustaka
Hanggara, K. (2025). Pergi ke Neraka. Kompas.id.
Nurgiyantoro, B. (2018). Teori Pengkajian Fiksi (Cetakan ke-12). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
