Ahli Geologi di Era Mitigasi Bencana dan Konservasi Lingkungan

Earthscientist & researcher #SainsAsyikFGMI
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari oka agastya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika bencana alam melanda Indonesia seperti gempa bumi, letusan gunung api, longsor, hingga banjir bandang, sering muncul satu profesi di balik layar yang bekerja senyap namun krusial: ahli geologi. Mereka bukan sekadar pembaca peta batuan atau pencari sumber daya, tetapi juga penjaga keseimbangan antara manusia dan bumi. Di era perubahan iklim dan pembangunan masif, peran ahli geologi menjadi semakin vital untuk memastikan pembangunan tidak mengabaikan dinamika alam yang membentuk negeri ini.
Dari Ilmu Batuan ke Mitigasi Bencana
Geologi selama ini sering diasosiasikan dengan eksplorasi tambang dan migas. Padahal, bidang ini jauh lebih luas. Inti dari ilmu geologi adalah memahami bagaimana bumi bekerja bagaimana gunung terbentuk, sungai mengalir, gempa terjadi, dan tanah berubah. Dalam konteks Indonesia, negara dengan lebih dari 129 gunung api dan berada di pertemuan tiga lempeng tektonik besar, pengetahuan ini bukan sekadar akademis, tapi menyangkut keselamatan manusia (Hamilton, 1979; Katili, 1989).
Ahli geologi berperan penting dalam memetakan potensi bahaya (hazard mapping) menentukan zona rawan gempa, longsor, atau letusan gunung api. Mereka juga berkontribusi dalam desain infrastruktur agar tahan terhadap kondisi geoteknik yang kompleks, serta dalam mendukung sistem mitigasi berbasis data geospasial (BNPB, 2021). Misalnya, pemetaan bahaya di sekitar Gunung Semeru dan Batur yang membantu menentukan jalur evakuasi dan tata ruang berbasis risiko.
Geologi dan Konservasi: Menjaga Alam dari Hulu
Peran ahli geologi tak berhenti pada kebencanaan. Dalam konteks konservasi lingkungan, mereka berperan memahami “jiwa” lanskap: bagaimana air mengalir, tanah menyimpan air, dan mineral membentuk ekosistem. Di kawasan danau, pesisir, dan karst, para geolog membantu menentukan batas aman pembangunan dan kapasitas lingkungan.
Konsep geoheritage atau warisan geologi kini juga menjadi bagian dari konservasi modern. Kawasan geopark seperti Batur, Ciletuh, dan Meratus dikembangkan bukan hanya untuk wisata, tetapi untuk melestarikan proses geologi dan meningkatkan kesadaran masyarakat (Dowling & Newsome, 2018). Dalam hal ini, ahli geologi bukan hanya ilmuwan lapangan, tetapi juga “penerjemah bumi” yang menghubungkan sains dengan kebijakan publik dan pendidikan masyarakat.
Tantangan: Indonesia yang Kepulauan dan Geopolitis
Indonesia memiliki tantangan unik sebagai negara kepulauan. Banyak daerah terisolasi, rentan bencana, dan memiliki akses data geologi yang terbatas. Dari Aceh hingga Papua, variasi geologi sangat tinggi membuat perencanaan pembangunan harus berbasis peta geologi yang akurat dan mutakhir.
Selain itu, konteks geopolitik memperkuat pentingnya peran geologi. Sumber daya alam di laut dalam, seperti minyak, gas, dan mineral kritis, kini menjadi arena strategis. Penguasaan ilmu geologi kelautan menjadi penting untuk memperkuat kedaulatan wilayah dan ekonomi biru (Widodo et al., 2022). Artinya, ahli geologi masa depan harus siap bekerja lintas disiplin dari darat hingga dasar laut, dari mitigasi bencana hingga diplomasi sumber daya.
Peluang bagi Lulusan Geologi
Lulusan geologi kini tidak hanya dibutuhkan di sektor energi, tetapi juga di bidang yang lebih luas dan berkelanjutan. Pemerintah, lembaga internasional, dan sektor swasta mulai mencari geolog yang mampu menjawab tantangan perubahan iklim, tata ruang, dan konservasi sumber daya air.
Beberapa bidang yang berkembang cepat antara lain:
Geologi kebencanaan dan mitigasi risiko – Bekerja dengan BNPB, BMKG, dan lembaga penelitian untuk mengembangkan sistem peringatan dini dan peta bahaya.
Geologi lingkungan dan hidrogeologi – Mengelola air tanah, konservasi danau, serta remedia lahan terdegradasi akibat tambang atau urbanisasi.
Geopark dan pariwisata berkelanjutan – Mengembangkan destinasi berbasis edukasi dan konservasi geologi.
Geologi kelautan dan energi terbarukan – Eksplorasi mineral laut dalam dan pemetaan potensi energi panas bumi (geothermal).
Keterampilan digital seperti pemodelan 3D, penginderaan jauh, dan GIS kini menjadi syarat penting bagi geolog modern. Kombinasi antara kemampuan teknis dan sensitivitas sosial menjadikan lulusan geologi salah satu profesi kunci di masa depan pembangunan Indonesia yang berkelanjutan.
Dari Lapangan ke Kebijakan: Geolog Sebagai Penjaga Masa Depan
Ke depan, ahli geologi tidak cukup hanya memetakan bumi mereka harus mampu memetakan masa depan. Dengan perubahan iklim yang memperburuk risiko bencana dan degradasi lingkungan, ilmu geologi harus hadir di meja perencanaan pembangunan, bukan hanya di laporan akademik.
Ketika pemerintah berbicara tentang ibu kota baru, energi bersih, atau mitigasi banjir, suara ahli geologi harus menjadi bagian dari percakapan. Mereka tahu bahwa bumi selalu berubah, dan manusia harus beradaptasi dengan perubahan itu, bukan menentangnya.
Sebagaimana dikatakan oleh geolog legendaris Sir Charles Lyell (1830) dalam Ager (1993), “The Present is The Key to The Past.” Dalam konteks Indonesia, para geolog menjadi penjaga kunci itu memastikan bahwa dari sejarah bumi, kita belajar untuk hidup lebih selaras dengan alam, bukan menentangnya.
Referensi
Ager, D.V. (1993). The Nature of the Stratigraphical Record. John Wiley & Sons.
BNPB. (2021). Rencana Induk Penanggulangan Bencana Nasional 2020–2044. Badan Nasional Penanggulangan Bencana.
Dowling, R., & Newsome, D. (2018). Handbook of Geotourism. Edward Elgar Publishing.
Hamilton, W. (1979). Tectonics of the Indonesian Region. USGS Professional Paper 1078.
Katili, J.A. (1989). Geotektonik Indonesia. Bandung: ITB Press.
