Bali dan Kerentanannya terhadap Banjir: Perspektif Geologi Populer

Earthscientist & researcher #SainsAsyikFGMI
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari oka agastya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pulau Bali tidak hanya dikenal karena panorama alam dan budayanya, tetapi juga menyimpan kompleksitas geologi yang mempengaruhi kerentanannya terhadap bencana, termasuk banjir. Secara geomorfologi, Bali dibentuk oleh aktivitas vulkanik yang Panjang sejak 15 juta tahun yang lalu, dengan kehadiran gunungapi aktif seperti Gunung Agung dan Gunung Batur, serta gunungapi purba yang kini sudah tidak aktif. Proses vulkanik ini melahirkan bentang alam yang khas berupa dataran tinggi vulkanik dan dataran rendah aluvial di bagian selatan. Material vulkanik seperti lava, tuff, dan abu telah menyusun sebagian besar tubuh pulau, menciptakan lereng-lereng curam dan dataran subur (Tarubali, 2024). Dalam artikel Geomorfologi Bali: Memahami Pembentukan Lanskap yang Kaya Ragam, proses vulkanisme inilah yang membentuk "batuan beku dan vulkanik klastik yang menjadi fondasi utama lanskap Bali".
Karakter geologi ini sangat berpengaruh terhadap sistem sungai di Bali. Sungai-sungai utama, seperti Ayung, Unda, dan Petanu, mengalir dari kawasan pegunungan vulkanik menuju dataran rendah. Bentuk dan morfologi aliran sungai banyak ditentukan oleh litologi, struktur geologi, serta ketinggian lereng. Sungai Ayung, misalnya, merupakan sungai terpanjang di Bali yang berhulu di pegunungan bagian tengah antara Kaldera Buyan Beratan dan Kaldera Batur. Menurut catatan, "perbedaan curah hujan antara hulu dan hilir cukup signifikan, dengan wilayah hulu menerima curah hujan lebih tinggi dibandingkan daerah hilir" (Wikipedia, Ayung River). Kondisi ini menegaskan bahwa topografi dan elevasi berperan penting dalam distribusi hujan dan volume aliran air di Bali.
Selain faktor hidrologi alami, penggunaan lahan juga mempengaruhi dinamika banjir. Studi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Ayung menunjukkan bahwa risiko bencana hidrometeorologi seperti longsor dan banjir bandang ditentukan oleh kombinasi kemiringan lereng, jenis tanah, bentuk lahan, serta pola penggunaan lahan (Feronika, Osawa & Merit, 2023). Dalam penelitian tersebut disebutkan bahwa "parameter geomorfologi, curah hujan, dan konversi lahan pertanian menjadi non-pertanian meningkatkan potensi kerusakan ekologis di DAS Ayung". Artinya, faktor geologi dan geomorfologi tidak bisa dipisahkan dari dinamika sosial-ekonomi dan pembangunan.
Faktor iklim juga memperbesar risiko. Data dari Stasiun Klimatologi Bali – BMKG menunjukkan bahwa curah hujan di Bali sangat bervariasi secara spasial dan temporal. Dalam laporan analisis curah hujan, BMKG mencatat adanya pola hujan ekstrem musiman yang sering kali berasosiasi dengan fenomena global seperti La Niña, sehingga meningkatkan risiko banjir di wilayah-wilayah dengan alih fungsi lahan yang tinggi. Dengan kata lain, meskipun faktor geologi membentuk kerangka kerentanan, faktor iklim memperbesar kemungkinan terjadinya banjir.
Kajian geologi di beberapa lokasi wisata, seperti Tanah Lot dan Uluwatu, juga memberikan gambaran bahwa material batuan di Bali bervariasi dari lava basaltik hingga sedimen karbonat (Suwandana, 2014). Penelitian tersebut menekankan bahwa variasi litologi memengaruhi respon daerah terhadap proses erosi dan limpasan permukaan. Implikasi dari temuan ini adalah, kawasan dengan batuan mudah lapuk atau sedimen lepas lebih rentan terhadap banjir bandang karena air tidak terserap optimal ke dalam tanah.
Namun, ancaman terbesar saat ini justru datang dari masifnya pembangunan. Dataran rendah Bali, khususnya di Denpasar, Badung, dan Tabanan, mengalami konversi lahan pertanian dan resapan menjadi kawasan terbangun seperti permukiman, hotel, dan infrastruktur wisata. Lahan yang semula berfungsi sebagai daerah resapan kini berubah menjadi permukaan kedap air, sehingga air hujan langsung mengalir ke sungai tanpa diserap tanah. Menurut laporan BMKG, alih fungsi ini memperburuk kapasitas sungai dalam menampung debit air ketika hujan ekstrem terjadi. Kondisi tersebut sejalan dengan peringatan akademik bahwa "pengurangan tutupan vegetasi dan penggantian lahan dengan bangunan memperbesar limpasan permukaan dan meningkatkan risiko banjir" (Feronika et al., 2023).
Kombinasi antara bentang alam vulkanik yang curam, variasi litologi, intensitas hujan musiman, dan tekanan pembangunan telah menempatkan Bali pada posisi rawan terhadap banjir. Bila pada masa lalu aliran sungai lebih terkontrol oleh kondisi geologi dan vegetasi, kini faktor antropogenik memainkan peran dominan dalam memperbesar risiko. Oleh karena itu, strategi mitigasi banjir di Bali tidak bisa hanya mengandalkan rekayasa teknis seperti pelebaran sungai atau pembangunan drainase, tetapi juga harus mempertimbangkan pemulihan daerah resapan, pengelolaan DAS berbasis geologi, dan perencanaan tata ruang yang berkelanjutan.
Bali, dengan segala keindahan dan kerentanannya, memberi kita pelajaran bahwa bencana tidak hanya datang dari alam, tetapi juga dari bagaimana manusia memanfaatkan ruang. Untuk itu, memahami aspek geologi dan geomorfologi Bali bukan hanya kepentingan akademis, tetapi juga landasan praktis untuk menyelamatkan masa depan pulau ini dari ancaman banjir yang semakin sering terjadi.
Daftar Referensi
• Tarubali. (2024). Geomorfologi Bali: Memahami Pembentukan Lanskap yang Kaya Ragam. Pemerintah Provinsi Bali. https://tarubali.baliprov.go.id/geomorfologi-bali-memahami-pembentukan-lanskap-yang-kaya-ragam/
• Wikipedia. (2024). Ayung River. https://en.wikipedia.org/wiki/Ayung_River
• Feronika, N., Osawa, T., & Merit, I. (2023). Spatial Analysis of Landslide Potential on Agriculture in the Ayung Watershed, Bali Province. ResearchGate
• Stasiun Klimatologi Bali – BMKG. (2024). Analisis Curah Hujan. https://staklim-bali.bmkg.go.id/?page_id=1722
• Suwandana, E. (2014). Sedimentology of Bali Touristic Locations: Tanah Lot and Uluwatu. FOSI Journal, IAGI. https://journal.iagi.or.id/index.php/FOSI/article/view/174
