Konten dari Pengguna

Gempabumi: Ketika Bumi Bergerak dan Apa yang Bisa Kita Lakukan

oka agastya

oka agastya

Earthscientist & researcher #SainsAsyikFGMI

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari oka agastya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrai kejadian gempa besar (sumber Gemini AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrai kejadian gempa besar (sumber Gemini AI)

Gempabumi sering datang tanpa tanda yang jelas. Tidak seperti hujan deras atau badai yang bisa diprediksi dari awan gelap, gempa muncul tiba-tiba, mengguncang tanah di bawah kaki kita hanya dalam hitungan detik. Karena itulah gempa kerap menimbulkan kepanikan dan kerusakan besar. Padahal, gempa bumi bukanlah peristiwa misterius. Ia adalah bagian alami dari cara bumi melepaskan energi, dan dengan pemahaman yang tepat, risikonya bisa dikurangi.

Secara sederhana, gempabumi adalah getaran tanah akibat pelepasan energi di dalam bumi. Energi ini tersimpan karena kerak bumi tidak diam. Kerak bumi tersusun atas potongan-potongan besar yang disebut lempeng. Lempeng-lempeng ini bergerak sangat lambat—sekitar beberapa sentimeter per tahun—mirip kuku manusia yang tumbuh. Namun ketika pergerakan ini terhambat, energi menumpuk. Saat batuan tidak lagi mampu menahan tekanan, energi dilepaskan secara tiba-tiba, dan kita merasakannya sebagai gempa.

Salah satu penyebab utama gempa adalah patahan. Patahan bisa dibayangkan seperti retakan pada lantai keramik. Selama retakan itu diam, tidak ada masalah. Tetapi jika dua sisi retakan saling mendorong atau menarik, lalu tiba-tiba bergeser, maka terjadilah hentakan. Dalam geologi, hentakan inilah yang memicu gempa bumi. Indonesia, yang berada di pertemuan beberapa lempeng besar dunia, memiliki banyak patahan aktif, sehingga gempa menjadi bagian dari realitas hidup.

Jenis-jenis patahan dari atas ke bawah : a. Patahan mendatar (transform fault); b. Patahan turun menghasilkan bentuk horst dan graben; dan c. Patahan naik (Thrust fault). Istilah sesar atau patahan adalah hal yang sama.

Ada beberapa jenis patahan yang penting dikenali. Jenis pertama adalah patahan naik. Pada patahan ini, satu blok batuan terdorong naik menindih blok lainnya. Perumpamaannya seperti dua tangan yang saling mendorong, lalu satu tangan naik ke atas tangan lainnya. Patahan jenis ini umumnya terjadi di wilayah dengan tekanan besar, seperti zona tumbukan lempeng, dan sering menghasilkan gempa kuat.

Jenis kedua adalah patahan turun. Di sini, satu blok batuan justru turun relatif terhadap blok di sebelahnya. Bayangkan sebuah papan yang ujungnya tiba-tiba amblas ke bawah karena ditarik gaya dari dalam. Patahan turun sering dijumpai di wilayah yang mengalami peregangan kerak bumi, dan dapat membentuk lembah atau cekungan.

Jenis ketiga adalah patahan mendatar. Pada jenis ini, dua blok batuan bergeser ke samping secara horizontal. Perumpamaannya seperti dua orang yang saling bersenggolan bahu saat berjalan berlawanan arah. Tidak ada yang naik atau turun, tetapi geserannya bisa sangat kuat. Banyak gempa merusak terjadi akibat patahan mendatar karena guncangannya terasa langsung di permukaan.

Selain berdasarkan penyebabnya, gempa juga bisa dibedakan berdasarkan kedalamannya. Gempa dangkal (kedalaman kurang dari 60 km) biasanya paling merusak karena sumber guncangannya dekat dengan permukaan. Gempa menengah dan dalam cenderung terasa lebih luas tetapi dampaknya di permukaan relatif lebih kecil. Inilah sebabnya mengapa dua gempa dengan magnitudo sama bisa terasa sangat berbeda dampaknya.

Penting dipahami bahwa gempa bumi tidak membunuh manusia—bangunan yang runtuhlah yang melakukannya. Oleh karena itu, mitigasi gempa berfokus pada bagaimana kita mempersiapkan diri dan lingkungan agar tetap aman saat guncangan terjadi.

Ada beberapa langkah mitigasi sederhana yang bisa dilakukan masyarakat. Pertama, kenali lingkungan sekitar. Ketahui apakah rumah berada dekat patahan aktif atau berada di zona rawan gempa. Informasi ini kini banyak tersedia dari lembaga resmi. Kedua, perhatikan struktur bangunan. Rumah yang sederhana tetapi mengikuti prinsip bangunan tahan gempa—ringan, simetris, dan memiliki pengikat yang baik—jauh lebih aman dibanding bangunan berat tanpa perkuatan.

Ketiga, amankan interior rumah. Lemari tinggi, rak buku, dan televisi sebaiknya dipasang pengait agar tidak roboh saat gempa. Keempat, siapkan tas siaga berisi air minum, makanan ringan, obat-obatan, senter, dan dokumen penting. Tas ini sering diabaikan, padahal sangat krusial setelah gempa besar.

Kelima, pahami apa yang harus dilakukan saat gempa terjadi. Prinsip paling sederhana adalah “Drop, Cover, and Hold On”: merunduk, berlindung di bawah meja atau struktur kuat, dan bertahan hingga guncangan berhenti. Hindari berlari keluar saat gempa masih berlangsung, karena risiko tertimpa benda jauh lebih besar.

Pada akhirnya, gempabumi adalah pengingat bahwa kita hidup di planet yang dinamis. Kita tidak bisa menghentikan pergerakan bumi, tetapi kita bisa mengurangi dampaknya dengan pengetahuan dan kesiapsiagaan. Semakin kita memahami bagaimana gempa terjadi, semakin kecil rasa panik, dan semakin besar peluang kita untuk selamat. Mitigasi bukan soal takut pada gempa, melainkan soal menghormati cara bumi bekerja dan menyesuaikan hidup kita dengannya.

Referensi Bacaan

BMKG. (2020). Pengenalan Gempa Bumi dan Mitigasinya.

USGS. (2019). Earthquake Hazards Program: Earthquake Basics.

Bolt, B. A. (2004). Earthquakes. W.H. Freeman and Company.

Irsyam, M. et al. (2017). Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia. Kementerian PUPR.

Fowler, C. M. R. (2005). The Solid Earth: An Introduction to Global Geophysics. Cambridge University Press