Konten dari Pengguna

Geopark: Laboratorium Alam dan Benteng Mitigasi Perubahan Iklim

oka agastya

oka agastya

Earthscientist & researcher #SainsAsyikFGMI

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari oka agastya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar harmoni keragaman geo, bio dan budaya di Geopark Batur
zoom-in-whitePerbesar
Gambar harmoni keragaman geo, bio dan budaya di Geopark Batur

Perubahan iklim bukan lagi bayangan di masa depan, melainkan kenyataan yang kita hadapi sekarang. Cuaca ekstrem, gelombang panas, hujan yang semakin tak menentu, hingga kenaikan muka laut menjadi ancaman nyata bagi manusia dan seluruh makhluk hidup. Setiap tahun, berita tentang bencana alam yang dipicu oleh iklim semakin sering kita dengar: banjir bandang, kekeringan panjang, abrasi pantai, hingga kebakaran hutan. Di tengah guncangan global ini, sebuah konsep bernama geopark hadir bukan hanya sebagai kawasan wisata atau tempat belajar geologi, tetapi juga sebagai salah satu solusi untuk menghadapi krisis iklim.

Geopark didefinisikan UNESCO sebagai area geografis tunggal, berskala besar, yang memiliki warisan geologi penting secara internasional dan dikelola dengan pendekatan holistic meliputi konservasi, edukasi, dan pembangunan berkelanjutan (UNESCO, 2025). Di balik definisi yang tampak teknis itu, geopark sejatinya adalah ruang hidup yang mengintegrasikan tiga pilar utama: geo (warisan geologi), bio (keanekaragaman hayati), dan culture (warisan budaya). Tiga pilar ini saling terkait erat, membentuk ekosistem unik yang sangat rentan terhadap perubahan iklim.

Mari kita bayangkan sebuah geopark di pesisir. Pilar geo-nya berupa tebing karst yang menjulang, pantai berpasir putih, dan gua yang terbentuk ribuan tahun lalu. Pilar bio-nya adalah hutan mangrove yang rapat, tempat burung migran singgah dan ikan kecil mencari makan. Sementara pilar culture-nya adalah masyarakat pesisir yang hidup dengan tradisi bahari, dari ritual laut hingga sistem nelayan tradisional. Ketika perubahan iklim mempercepat abrasi pantai, pilar geo tergerus. Ketika suhu laut naik dan polanya berubah, mangrove dan biota pesisir terganggu. Dan pada akhirnya, masyarakat kehilangan sumber pangan, pendapatan, bahkan identitas budaya mereka. Inilah bukti nyata bahwa kerentanan iklim tidak pernah berdiri sendiri; merusak satu pilar berarti mengganggu keseimbangan keseluruhannya.

UNESCO menegaskan bahwa geopark dirancang untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai isu besar dunia, termasuk penggunaan sumber daya secara berkelanjutan, mitigasi dampak perubahan iklim, dan pengurangan risiko bencana alam (UNESCO, 2025). Saat ini ada 229 UNESCO Global Geopark (UGGp) di 50 negara, dan jumlahnya terus bertambah. Indonesia sendiri sudah memiliki hampir 20 kawasan geopark, termasuk Gunung Sewu, Batur, Rinjani, hingga yang terbaru diresmikan pada 2025: Meratus di Kalimantan Selatan dan Kebumen di Jawa Tengah (Antara, 2025). Jumlah ini menegaskan bahwa geopark bisa menjadi garda terdepan mitigasi iklim, baik secara lokal maupun global.

Lantas, bagaimana geopark menjalankan peran tersebut? Salah satu jawabannya terletak pada aktivitas penghijauan atau reforestasi. Pohon-pohon yang ditanam tidak hanya memperindah lanskap, tetapi juga berfungsi sebagai penyerap karbon dioksida. Namun, yang lebih penting, pemilihan jenis pohon lokal mendukung keberlangsungan flora endemik yang sekaligus menjaga ekosistem. Contohnya, di beberapa geopark Eropa, proyek stabilisasi bukit pasir dilakukan dengan menanam vegetasi pantai untuk melawan abrasi akibat kenaikan muka laut (UNESCO, 2022). Praktik sederhana ini sekaligus melindungi warisan geologi, keanekaragaman hayati, dan masyarakat pesisir.

Selain penghijauan, isu transportasi di kawasan geopark juga menjadi perhatian. Banyak geopark kini mendorong pengurangan kendaraan berbahan bakar fosil di dalam kawasan. Wisatawan diajak menggunakan transportasi umum, sepeda, atau kendaraan listrik. Meski tampak sepele, langkah ini penting mengingat pariwisata sering kali menghasilkan emisi besar. Di sisi lain, penggunaan energi terbarukan juga makin berkembang. Beberapa geopark memanfaatkan tenaga surya, angin, bahkan panas bumi untuk menggerakkan fasilitas kawasan. Implementasi energi bersih ini tidak hanya bermanfaat lokal, tetapi juga memberi contoh nyata bagi masyarakat sekitar dalam transisi menuju energi ramah iklim (UNESCO, 2023).

Kehidupan sehari-hari masyarakat dalam geopark juga menjadi kunci. Pertanian intensif, penggunaan pupuk berlebihan, atau pariwisata massal bisa menambah emisi gas rumah kaca. Sebaliknya, praktik pertanian organik, agroforestry, perikanan ramah lingkungan, dan ekowisata mampu menekan emisi sekaligus meningkatkan ketahanan ekosistem. Di Indonesia, banyak kearifan lokal justru telah lama mengajarkan keberlanjutan. Sistem subak di Bali, misalnya, bukan hanya sistem irigasi, melainkan juga filosofi menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas. Mengangkat kembali kearifan lokal seperti ini di kawasan geopark membuat aksi iklim lebih mudah diterima masyarakat, sekaligus memperkuat identitas budaya.

Dalam konteks pariwisata, banyak geopark mulai memperkenalkan kalkulator karbon. Dengan alat ini, jejak karbon wisatawan dihitung berdasarkan aktivitas mereka. Hasilnya bisa menjadi dasar untuk kompensasi, seperti menanam pohon atau mendukung proyek energi terbarukan. Praktik ini sekaligus menjadi alat edukasi, mengingatkan wisatawan bahwa setiap perjalanan membawa dampak, dan bahwa mereka bisa menjadi bagian dari solusi.

Pendidikan memang menjadi salah satu senjata utama geopark. Program edukasi yang dilakukan bisa menyasar siswa sekolah, masyarakat lokal, hingga wisatawan mancanegara. Isinya tidak hanya tentang geologi atau sejarah alam, tetapi juga tentang perubahan iklim, mitigasi bencana, hingga peran kecil yang bisa dilakukan setiap individu. Dengan demikian, geopark berfungsi layaknya laboratorium alam sekaligus ruang kelas terbuka yang membentuk generasi sadar iklim.

Potensi ini semakin menarik bila melihat konteks Indonesia. Beberapa geopark di Tanah Air memiliki ekosistem pesisir dan hutan mangrove yang kaya akan potensi blue carbon. Mangrove dan lamun adalah ekosistem yang mampu menyerap karbon dalam jumlah besar, jauh lebih efektif dibandingkan hutan daratan. Di Geopark Belitong dan Ciletuh-Palabuhanratu, misalnya, mangrove bukan hanya benteng alami dari abrasi, tetapi juga penyimpan karbon yang signifikan (Geoparks Investment Advisory Council, 2023). Bahkan di Geopark Meratus, penelitian menunjukkan bahwa batuan ultramafik di kawasan itu bisa digunakan untuk proyek penyimpanan karbon melalui mineralisasi, teknologi yang menyimpan karbon dalam bentuk stabil di dalam batuan (Irzon et al., 2024).

Namun, tentu saja jalan ini tidak tanpa tantangan. Pengelola geopark sering kali kekurangan dana, teknologi, atau sumber daya manusia. Perubahan iklim juga sangat lokal: pola curah hujan di satu geopark bisa berbeda drastis dengan geopark lain, sehingga solusi yang berhasil di satu tempat belum tentu cocok di tempat lain. Selain itu, keberhasilan upaya mitigasi sangat bergantung pada koordinasi banyak pihak—pemerintah, masyarakat adat, akademisi, hingga sektor swasta. Tanpa sinergi, sulit membangun ketahanan jangka panjang.

Meski demikian, geopark tetap menawarkan harapan. Ia menghadirkan model nyata keberlanjutan yang bisa ditiru, ruang observasi untuk memahami dampak iklim, dan wadah pemberdayaan masyarakat. Di dunia yang sering terjebak pada jargon besar, geopark memberi contoh konkret: bagaimana penghijauan bisa menyelamatkan tebing dari abrasi, bagaimana energi terbarukan bisa menyalakan lampu desa, atau bagaimana sebuah ritual lokal bisa menjadi inspirasi kampanye iklim global. Dengan kata lain, geopark bukan hanya tentang batu, fosil, atau gunung, melainkan juga tentang manusia dan masa depan bumi.

Referensi

• UNESCO. UNESCO Global Geoparks: using geological heritage … mitigating the effects of climate change and reducing natural hazard-related risks.

• UNESCO. UNESCO Global Geoparks on the forefront of climate change action.

• UNESCO. UNESCO Global Geoparks using the Earth’s heat.

• UNESCO. Climate change vulnerability and risk in UNESCO Global Geoparks and Biosphere Reserves in Latin America and the Caribbean.

• Antara News. Two Indonesian sites gain UNESCO Global Geopark status.

• Geoparks Investment Advisory Council. New Opportunities in Critical Blue Carbon Ecosystems in Geoparks.

• Irzon, R. et al. (2024). Prospecting CCS Project in Indonesia: A Case Study in Meratus Mountains, South Borneo. Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral.