Geowisata: Rekonsiliasi Hubungan Manusia dengan Alam

Earthscientist & researcher #SainsAsyikFGMI
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari oka agastya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah krisis ekologi global, manusia diingatkan kembali bahwa kemajuan teknologi dan ekonomi tidak dapat dipisahkan dari bumi yang menopangnya. Namun, hubungan manusia dengan alam kini sering kali terdistorsi—terbatas pada konsumsi visual dan pengalaman instan. Di sinilah geowisata (geotourism) hadir bukan hanya sebagai bentuk pariwisata alternatif, tetapi juga sebagai sarana refleksi dan edukasi, mengajak manusia memahami bumi secara lebih mendalam dan penuh empati.
Dari Pariwisata Alam ke Pariwisata Kesadaran
Istilah geowisata pertama kali dipopulerkan oleh ahli geowisata asal Australia, Ross Dowling, yang mendefinisikannya sebagai tourism that sustains and enhances the identity of a territory, including its geology, environment, culture, aesthetics, heritage, and the well-being of its residents (Dowling & Newsome, 2010). Dengan kata lain, geowisata bukan sekadar “berkunjung ke tempat indah,” melainkan memahami kisah geologis dan ekologis di balik keindahan itu.
Di Indonesia, konsep ini berkembang pesat seiring pengakuan UNESCO Global Geopark (UGGp) di berbagai daerah, seperti Batur di Bali, Ciletuh–Palabuhanratu di Jawa Barat, dan Merangin di Jambi. Dalam konteks Batur, misalnya, geowisata menghadirkan pengalaman yang menyatukan keilmuan, budaya, dan spiritualitas: wisatawan bukan hanya mendaki kaldera atau menikmati danau, tetapi juga memahami dinamika vulkanik, mitigasi bencana, dan peran masyarakat lokal dalam menjaga keseimbangan alam (Agastya dkk., 2024).
Membaca Bumi, Mengenal Diri
Salah satu kekuatan geowisata adalah kemampuannya mengubah cara pandang. Menurut Dowling (2018), geowisata mengajak manusia “membaca bumi” seperti membaca buku kehidupan: setiap lapisan batu, setiap lembah, setiap jejak erupsi adalah halaman sejarah panjang planet ini. Melalui interpretasi ilmiah yang dikemas menarik, wisatawan dapat memahami bagaimana gunung terbentuk, bagaimana air mengalir, atau mengapa tanah longsor bisa terjadi.
Di Australia, konsep ini diterapkan dengan sangat kuat. Blue Mountains dan Naracoorte Caves menjadi contoh bagaimana situs geologi dapat dikelola secara edukatif dan partisipatif. Wisatawan diajak menyelami kisah evolusi bumi, bukan sekadar berfoto. Interpretasi dilakukan melalui papan informasi interaktif, pemandu lokal terlatih, hingga pusat edukasi yang memadukan sains dan budaya. Seperti dikemukakan oleh Newsome dan Dowling (2018), geotourism encourages people to see nature not as a backdrop, but as a story of which humans are a part.
Geowisata dan Rekonsiliasi Ekologis
Dalam konteks yang lebih luas, geowisata berperan sebagai medium rekonsiliasi ekologis—upaya manusia untuk memperbaiki hubungan dengan alam setelah sekian lama mengeksploitasinya. Di banyak tempat di Indonesia, hubungan ini mulai dipulihkan lewat pendekatan lokal dan ilmiah.
Di Batur UNESCO Global Geopark, misalnya, komunitas lokal mulai memadukan narasi spiritual dengan narasi geologis: pura-pura di tepi kaldera dijelaskan bukan hanya sebagai situs religius, tetapi juga sebagai bagian dari lanskap geologi yang merekam letusan purba (Agastya dkk, 2024). Pendekatan ini membuat wisatawan memahami bahwa spiritualitas dan sains dapat berdampingan dalam menjaga alam.
Sementara itu, di Ciletuh Geopark, pemandu lokal kini dilatih untuk menjelaskan formasi batuan tua yang berasal dari dasar laut purba, memperlihatkan bahwa bumi adalah entitas hidup yang terus berubah. Pendekatan seperti ini membangun sense of place—perasaan keterikatan terhadap alam yang mendalam—yang menjadi fondasi penting dalam membentuk perilaku berkelanjutan (Newsome & Dowling, 2010).
Dari Interpretasi Menuju Tindakan
Namun, geowisata tidak berhenti pada aspek pengetahuan. Nilai sejatinya terletak pada perubahan perilaku. Melalui pengalaman langsung, geowisata membantu wisatawan memahami konsep mitigasi bencana dan konservasi sumber daya secara kontekstual. Misalnya, dengan melihat bekas aliran lava di Gunung Batur, pengunjung bisa memahami risiko letusan sekaligus pentingnya perencanaan ruang yang memperhitungkan dinamika geologi.
Lebih jauh lagi, geowisata dapat menjadi platform pembelajaran kolektif antara ilmuwan, pemerintah, dan masyarakat. Sebagaimana dijelaskan oleh Farsani dkk (2012), geowisata membuka peluang bagi citizen science—di mana masyarakat lokal terlibat dalam pengumpulan data geologi, konservasi geosite, hingga pengembangan narasi interpretatif. Model ini bukan hanya memberdayakan masyarakat, tetapi juga memperkuat kapasitas lokal dalam menghadapi risiko lingkungan.
Menjaga Keseimbangan antara Wisata dan Konservasi
Tantangan utama geowisata justru terletak pada keberhasilannya sendiri. Ketika suatu lokasi geologi menjadi populer, tekanan terhadap lingkungan bisa meningkat. Hal ini menuntut sistem pengelolaan yang bijak agar konservasi tetap menjadi prioritas. Dowling (2018) menegaskan bahwa the best geotourism is slow, small-scale, and sensitive to the landscape—geowisata terbaik adalah yang berjalan lambat, berskala kecil, dan peka terhadap lanskap. Artinya, pengunjung diajak menikmati, bukan menguasai.
Di Indonesia, hal ini bisa diterapkan melalui sistem pembatasan kunjungan, penataan jalur wisata berbasis konservasi, serta pelatihan pemandu geowisata bersertifikasi. Pendidikan publik melalui museum geologi, interpretasi digital, dan integrasi dengan kurikulum sekolah dapat memperluas pemahaman masyarakat tentang pentingnya bumi sebagai rumah bersama.
Menemukan Kembali Hubungan yang Hilang
Pada akhirnya, geowisata mengajak manusia untuk menemukan kembali hubungan yang hilang dengan bumi. Ia bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin—mengenal diri melalui geologi. Dengan memahami bagaimana bumi bekerja, manusia belajar rendah hati dan sadar bahwa keberadaan kita hanyalah bagian kecil dari sistem besar kehidupan.
Di era perubahan iklim dan degradasi lingkungan, geowisata menawarkan jembatan: antara sains dan budaya, antara ekonomi dan ekologi, antara manusia dan bumi itu sendiri.
Referensi
Agastya, I.B.O., Paripurno, E.T., Prastistho, B., Murwanto, H., Prasetya, J.D., & Nugraho, A.R.B. (2024). Model media learning for disaster risk reduction in the Batur UNESCO Global Geopark. International Journal of Geoheritage and Parks.
Dowling, R.K. & Newsome, D. (2010). Geotourism: The Tourism of Geology and Landscape. Goodfellow Publishers, Oxford.
Dowling, R.K. (2018). Global Geotourism Perspectives. Channel View Publications.
Farsani, N.T., Coelho, C., & Costa, C. (2012). Geotourism and Geoparks: New Approaches to Sustainability for the 21st Century. BrownWalker Press.
Newsome, D. & Dowling, R.K. (2018). Geotourism: A Global Activity for Sustaining Geodiversity. Geoheritage Journal, 10(2), 1–9.
