Tenun Gadod Buhun, Antara Seni dan Mistik

food and traveller enthusias
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Oki Kurniawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

MAJALENGKA,-Suara rem sepeda motor berderit semakin kencang, seolah tak lagi mampu menahan beban kendaraan di turunan panjang dan curam dengan kontur jalan berbatu. Sepeda motor bebek menukik tajam lalu menantang mesin untuk kembali bekerja keras menaklukan tanjakan terjal.
Sekitar satu jam sudah perjalanan dari pusat kota kabupaten Majalengka menuju selatan tepatnya desa Nunuk Baru, kecamatan Maja, Jawa Barat. Namun, belum juga terlihat permukiman yang dibelah sungai di sebuah lembah seperti yang disebutkan masyarakat yang kami temui di jalan.
Kembali menuruni bukit dengan lebar jalan hanya sekitar dua meter rasa was-was ketika berpapasan dengan mobil, harus penuh konsentrasi, salah-salah bisa jatuh dan entah jurang sebelah kiri atau kanan.
Perasaan bahagia datang ketika jalan yang dilalui sudah beraspal bagus, asap mengepul terlihat dari salah atap atap rumah. Mungkin itu desa Nunuk yang dituju. Sepeda motor dipacu sedikit cepat, agar bisa sejenak berhenti di pinggir sungai untuk beristirahat sejenak melemaskan otot tangan dan ketegangan melewati jalanan ekstrem.
Puas memanjakan mata dengan pemandangan beraroma autentik pedesaan yang seakan melupakan tujuan utama untuk melihat tenun Gadod warisan nenek moyang desa Nunuk yang katanya memiliki aroma mistik disetiap helai benangnya.
Mulai masuk desa disambut gonggongan anjing dari belakang sorang warga. Naluri hewan herbivora itu memang tak pernah salah, yang ditemuinya adalah orang asing. Pantas jika menggonggong. Kami berhenti untuk menanyakan kantor desa. "Lurus teras engke belok ka kanan aya tangkal caringin (lurus nanti belok kanan di depannya ada pohon beringin : red) ujar laki-laki sekira berusia 45 tahunan.
Belum sampai kantor desa, terlihat seorang orang perempuan tua terlihat memilah kapas, satu lainnya seperti memutar roda sederhana dengan gumpalan kapas ditangan kirinya. Setelah berhenti dan menepi ternyata mereka pengerajin tenun Gadod yang sedang membuat benang dari serat kapas.
Setelah disapa dan memperkenalkan diri, seorang nenek bernama Kasmi yang mengaku berusia 90 tahun menjelaskan dengan bahasa sunda apa yang sedang mereka kerjakan, kira-kira ini yang dikatakannya dalam bahasa Indonesia.
"Ini sedang memisahkan kapas dengan bijinya, kemudian dipintal dan dijadikan benang setengah jadi namanya 'Nganteh',"ujar Kasmi.
Kasmi lalu menjelaskan, setelah 'Nganteh', benang lalu digulung pada sebuah rangkai kayu segi empat sederhana gunanya agar benang setengah jadi tersebut tergulung tidak terlalu berhimpitan dan memudahkan proses selanjutnya.
"Ini di 'Kisi' namanya (benang setengah jadi digulung pada rangkai kayu kotak : red) kemudian dibasuh air tajin yang sudah digodog dan mengental, fungsinya agar serat-serat kapas yang terpintal menjadi benang mentah menjadi rekat dan kuat,"jelas Kasmi.
Benang-benang yang sudah melalui tahap 'Kisi' selanjutnya dapat diwarnai dengan pewarna alami yang berasal dari kunyit, mengkudu, air kulit kayu mahoni dan sebagainnya sebelum dilakukan proses inti yaitu menenun atau Ninun, begitu pengerajin Nunuk menyebut.
Pada prosesnya, rekan Kasmi, Maya menjelaskan, Ninun harus dilakukan dengan teknik dan alat trasidional turun-temurun. Serta dengan waktu yang sudah ditentukan seperti yang dilakukan pendahulunya.
"Kalau sudah begini sudah bisa Ninun, namun saat ini tidak bisa dilakukan karena belum perayaan mulud,"tutur Maya.
Lebih jauh Maya memaparkan, leluhurnya memiliki pantangan waktu yang tidak boleh digunakan untuk Ninun. Menurutnya, kegiatan Ninun dilarang pada bulan Mulud atau bulan Rabi'ul Awal pada penanggalan Hijriyah atau sebelum perayaan maulidan (peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW). Jika dilanggar dapat berakibat buruk bagi pengerajin.
"Per bulan Rabi'ul Awal tidak bisa Ninun, menurut leluhur dapat mengakibatkan bencana jika dilanggar,"sebutnya.
Bukan hanya bulan Rabi'ul Awal, pantangan Ninun juga berlaku pada setiap hari Rabu seperti yang diungkapkan Edi, salah satu orang yang mendorong pengerajin di Nunuk sekaligus marketing kain-kaintenun.
Edi menceritakan, sebelumnya tenun Gadod hanya dilakukan oleh segelintir orang itupun sudah lanjut usia. Bahkan, alat-alatnya pun sudah banyak yang dibuang bahkan dibakar oleh pemiliknya. Namun, pada tahun 2015 lalu ada mahasiswa yang sedang melakukan penelitian dan menghidupkan kembali budaya menenun di Nunuk.
"Sebelumnya sudah jarang sekali yang Ninun, sampai pada tahun 2015 ada peneliti yang meneliti tenun kami sampai kini kembali banyak dan dipelajari oleh kaum milenial,"kisahnya.
Termasuk Edi (35) juga terangsang dan terinspirasi untuk mengembangkan tenun Gadod. Edi kemudian menjadi marketing untuk kain-kain tenun Gadod dan membudidayakan kapas jenis honje sebagai bahan baku tenun Gadod. Edi menyebut kini tenun dari desanya memiliki nilai jual yang lebih besar. Jika sebelumnya kain tenun Gadod dibuat hanya untuk kain kafan dan 'Karembong' sejenis kain samping/sarung, kini tenun Gadod dibuat selendang, ikat kepala dan lainnya.
"Sehelai kain berukuran 4×3 meter kita jual sekitar Rp 1 sampai Rp 1.5 juta rupiah jika sebelumnya hanya dibeli warga sekitar Rp 300 ribu saja,"ungkapnya.
Kepala bagian Ekonomi dan Pembangunan Yanto mengatakan kain tenun yang dikenal dengan kain gadod di desanya hampir punah selain tidak ada regenerasi perajin juga masih minimnya pemarasan kain tenun.
Meskipun menurutnya kain tenun buatan warganya relatif lebih kuat dan awet, terbukti, kain tenun tersebut bisa digunakan hingga belasan tahun. Namun, kini kain tersebut tergeser oleh kain yang kualitasnya tidak sebagus kain tenun Gadod, dan jumlahnya banyak karena diproduksi oleh pabrik.
Saat ini, produksi kain tenun terbatas dan untuk kebutuhan kain kafan dan 'Karembong' i warga desa. kebutuhan kain kafan bagi warga yang keluarganya meninggal masih menggunakan kain tenun buatan sendiri. Selain regenerasi.
“Padahal secara kualitas sangat baik, perajin kain memproduksinya secara manual dan tradisional mulai menanam pohon kapas sendiri sampai membuatnya menggunakan alat tradisional,”tukas Yanto.
