Konten dari Pengguna

Siapa Bilang Fomo Cuma Milik Anak Muda? Intip Fenomena Serupa pada Generasi X!

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Okky Chahyo Nugroho tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siapa Bilang Fomo Cuma Milik Anak Muda? Intip Fenomena Serupa pada Generasi X!
zoom-in-whitePerbesar

Begitu mendengar istilah Fear of Missing Out (FOMO) alias ketakutan akan tertinggal tren, pikiran kita kerap langsung tertuju pada Gen Z atau Milenial. Gambaran yang muncul biasanya identik dengan anak muda yang risau lantaran kehabisan tiket konser, tiada hari tanpa scrolling media sosial, atau rela mengantre panjang demi mencoba makanan yang tengah viral.

Akan tetapi, apakah Generasi X betul-betul kebal dari perasaan cemas ini? Jawabannya: Sama sekali tidak.

Generasi X kelompok kelahiran 1965 hingga 1980 yang kini menginjak rentang usia pertengahan 40an sampai akhir 50an rupanya turut merasakan kekhawatiran serupa. Perbedaannya terletak pada fokus perhatian: bila anak muda cemas akan urusan hiburan dan gaya hidup, Generasi X dihantui oleh topik yang jauh lebih berbobot, seperti stabilitas finansial, keberhasilan anak, hingga kondisi fisik.

Beda Saluran, Beda Pula Pemicunya

Jalur datangnya rasa cemas pun tak sama. Anak muda mungkin terseret FOMO akibat paparan algoritma konten video pendek. Bagi Generasi X, sumber pemicu terbesar justru hadir dari aplikasi perpesanan utama di ponsel pintar mereka: Grup WhatsApp!

Mulai dari grup reuni sekolah, obrolan warga kompleks, hingga grup rekan kantor—di sinilah pamer terselubung (humblebrag) kerap berseliweran tanpa disadari:

"Katanya si Budi baru saja meresmikan cabang usaha barunya, ya?"

"Luar biasa, anaknya Sinta berhasil lolos beasiswa ke luar negeri!"

"Sehabis ikut lari maraton di Bali kemarin, stamina rasanya kembali bugar!"

Pernyataan-pernyataan sederhana di ruang percakapan tersebut sering kali menyulut rasa cemas secara perlahan. Timbul pertanyaan membayang di dalam pikiran: "Apakah pencapaian hidup saya sudah sejajar dengan mereka?"

Ragam FOMO yang Dialami Generasi X

Bila ditelisik lebih jauh, ada tiga bentuk utama FOMO yang kerap menghinggapi Generasi X:

Financial FOMO (Cemas Kalah Sejahtera di Hari Tua)

Memasuki usia puncak karier dan makin dekat dengan masa purnatugas, Gen X kerap merasa waswas. Ketika melihat rekan sejawat gencar membahas opsi investasi baru, aset properti, atau bisnis sampingan, muncul keraguan: "Apakah tabungan pensiun saya sudah memadai? Haruskah saya ikut menanam modal di tren investasi ini?"

Parenting FOMO (Khawatir Anak Tertinggal dalam Persaingan)

Sebagai orang tua, Gen X tentu menggebu-gebu memberikan yang terbaik bagi sang buah hati. Namun, menyaksikan anak kawan seangkatan aktif mengukir deretan prestasi, mengikuti les privat berbiaya tinggi, atau masuk sekolah favorit sering menyisakan penyesalan: "Apakah dukungan yang saya berikan untuk anak sudah maksimal?"

Health & Vitality FOMO (Takut Kalah Bugar)

Menginjak usia 40 dan 50 tahun, perubahan daya tahan tubuh mulai amat terasa. Saat kegiatan olahraga seperti bersepeda road bike, lari maraton, atau padel tenis mendadak populer di pergaulan, Gen X terdorong untuk merapat. Bukan semata demi penampilan, melainkan ada rasa cemas bila dianggap tidak bugar atau lekas menua ketimbang rekan-rekannya.

Mengalihkan FOMO Menjadi JOMO: Saatnya Menikmati Perjalanan Sendiri

Terjebak rasa takut tertinggal di usia matang jelas menguras energi, terlebih Generasi X umumnya mengemban peran ganda sebagai sandwich generation yang menopang orang tua sekaligus membiayai anak-anak.

Lantas, bagaimana solusinya? Langkah terbaik adalah menerapkan konsep JOMO (Joy of Missing Out), yaitu kepuasan dan seni menikmati momen tanpa perlu ikutan tren:

Menyadari Bahwa Garis Start & Finish Setiap Orang Berbeda: Ukuran kesuksesan di usia kepala lima tidak wajib berupa kepemilikan bisnis raksasa atau anak yang menuntut ilmu di mancanegara.

Membatasi Notifikasi Grup Obrolan: Bila ada grup WhatsApp yang justru lebih sering memicu ketidaktenangan ketimbang membawa kehangatan, tak perlu ragu untuk membisukan notifikasinya (mute).

Menghargai Progres Diri Sendiri: Ketenangan batin serta tubuh yang sehat memiliki nilai jauh lebih tinggi ketimbang sekadar terlihat mentereng di mata lingkaran pertemanan.

Rasa takut tertinggal (FOMO) merupakan sifat alamiah manusia yang tidak mengenal batasan umur. Jadi, untuk para Generasi X, sangat wajar apabila Anda tidak menguasai seluruh tren terkini atau tidak berminat mengejar investasi yang sedang riuh di grup WhatsApp.

Sering kali, menyempatkan diri duduk tenang di sore hari menikmati secangkir teh hangat tanpa memusingkan "pencapaian orang lain" adalah wujud kemewahan dan kebahagiaan yang sejati.