Kunjungan Dairy Farm: Mahasiswa USC Dalami Sistem Terintegrasi Peternakan

Gerakan Sosial Penciptaan Lapangan Kerja Berbasis Kewirausahaan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari OK OCE tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sukabumi — Program Global Applied Research hasil kolaborasi OK OCE Indonesia dan USC Marshall School of Business memulai rangkaian dairy farm visit melalui kunjungan ke Taurus Dairy Farm di Sukabumi, Jawa Barat, pada 16 Maret 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran lapangan bagi mahasiswa USC untuk memahami secara langsung operasional peternakan sapi perah terintegrasi di Indonesia.
Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa USC (Jesse Hutchinson, Lauditya Malik, dan Lucas Oliveira), berdiskusi langsung dengan Nugroho selaku Operational Director Fajar Taurus Dairy Farm. Melalui diskusi ini, mahasiswa memperoleh gambaran menyeluruh mengenai pengelolaan peternakan modern, mulai dari kualitas susu, manajemen produksi hingga strategi peningkatan produktivitas ternak.
Sebagai salah satu peternakan terintegrasi berskala besar, Taurus Dairy Farm mengelola sekitar 350 ekor sapi perah serta ratusan kambing perah jenis Ettawa. Peternakan ini menerapkan manajemen profesional dengan sistem produksi yang terhubung dari hulu ke hilir, mulai dari penyediaan pakan hingga pengolahan susu di fasilitas sendiri sehingga mampu menjaga kualitas produk secara konsisten.
Dalam praktik operasionalnya, peternakan menggunakan sistem total mixed ration dengan bahan baku seperti rumput Napier, konsentrat, dan kedelai. Proses pemerahan susu juga telah terotomatisasi untuk meningkatkan efisiensi. Dengan sistem tersebut, produksi susu rata-rata mencapai sekitar 15 liter per ekor per hari, dengan potensi puncak hingga 42 liter pada kondisi optimal.
Untuk menjaga keberlanjutan produksi, peternakan juga menerapkan pengelompokan ternak berdasarkan siklus produksi, seperti sapi perah aktif, sapi kering, dan sapi bunting. Pendekatan ini memungkinkan pengelolaan yang lebih terarah, di mana setiap sapi dapat melalui hingga enam siklus produksi dengan jeda tertentu untuk proses reproduksi.
Namun demikian, dalam diskusi juga terungkap sejumlah tantangan yang dihadapi dalam operasional peternakan. Salah satunya adalah pengaruh kondisi iklim tropis yang memicu heat stress pada ternak, yang dapat menurunkan produksi susu hingga sekitar 30 persen. Untuk mengatasi hal tersebut, peternakan mengadopsi teknologi sederhana seperti penggunaan kipas guna menjaga kestabilan suhu kandang.
Selain faktor lingkungan, mahasiswa juga menyoroti pentingnya pencatatan data ternak sebagai dasar pengambilan keputusan. Taurus Dairy Farm telah menerapkan sistem pencatatan berbasis database untuk memantau berbagai indikator, seperti riwayat kesehatan, produksi susu, berat badan, hingga efisiensi pakan. Namun, praktik ini masih menjadi tantangan bagi peternak skala kecil yang umumnya belum menerapkan sistem pencatatan secara optimal.
Sejalan dengan hal tersebut, diskusi turut berkembang pada peran teknologi dalam pengembangan peternakan ke depan. Pemanfaatan teknologi seperti genomic testing, embrio transfer, serta sistem analisis data dinilai dapat meningkatkan kualitas genetik dan produktivitas ternak. Di sisi lain, dukungan program pemerintah, seperti vaksinasi dan pelatihan, tetap menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan ternak dan keberlanjutan usaha.
Melalui kunjungan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman teknis mengenai operasional peternakan, tetapi juga wawasan strategis mengenai tantangan dan peluang pengembangan sektor peternakan di Indonesia. Kolaborasi lintas negara ini diharapkan dapat mendorong pertukaran pengetahuan dan inovasi dalam menciptakan sistem peternakan yang lebih efisien, modern, dan berkelanjutan.
