Konten dari Pengguna

Manik-Manik Kaca Gudo, Kerajinan Tangan Asal Jombang yang Mendunia

OK OCE

OK OCE

Gerakan Sosial Penciptaan Lapangan Kerja Berbasis Kewirausahaan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari OK OCE tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Nur Wakid, Pionir Manik-manik kaca asal Jombang saat diwawancarai tim media OK OCE beberapa waktu lalu, 2021.
zoom-in-whitePerbesar
Nur Wakid, Pionir Manik-manik kaca asal Jombang saat diwawancarai tim media OK OCE beberapa waktu lalu, 2021.

Kabupaten Jombang memiliki sentra industri kecil yang mendunia sejak puluhan tahun lalu. Kerajinan manik-manik kaca dari Desa Plumbon, Gambang. Nur Wakid, anggota OK OCE Ina Makmur ini adalah salah satu pionir dan tetap bertahan menjalankan bisnisnya, Beads Flower.

Nur Wakid sudah gemar berbisnis ketika duduk di bangku Sekolah Dasar. Dirinya memberanikan diri untuk berjualan ketika duduk di bangku SMA kelas tiga.

Pada 1990, ketika banyak orang yang mencari pekerjaan, Wakid memilih untuk menciptakan pekerjaan sendiri daripada mencari pekerjaan. Pada tahap itulah Wakid mulai berusaha dengan berdagang keliling ke Bali, meninggalkan kota kelahirannya Jombang, tanpa mengenal wilayah tersebut sebelumnya. Siapa sangka, Wakid bertemu dengan pembeli pertamanya yang berasal dari Jakarta.

Produk pertama yang dijual di Bali adalah replika manik-manik payet. Dirinya juga mengirim produk yang berupa aksesoris, seperti cincin, liontin, permata. Pada saat itu pasarnya masih ditingkat lokal, seperti Surabaya dan Gresik.

Tantangan yang ditemukan dirinya ketika memutuskan untuk berjualan ke Bali adalah di mana pada saat sudah membawa banyak barang, namun ditolak oleh pasar. Ada juga calon pembeli di mana mereka sudah memesan produknya, tiba-tiba pesanannya dibatalkan begitu saja. Namun, bagi beliau itu merupakan hal yang paling berkesan.

Wakid mulai mengekspor produk-produknya di tahun 1993, ketika berjualan di Bali. Beliau bertemu seorang turis yang sama sekali tidak paham bahasa Indonesia, hanya sekadar sapa menyapa dan di samping itu pun Wakid juga tidak memahami bahasa yang mereka gunakan. Namun, turis tersebut tertarik dengan produk yang ditawarkan Wakid. Turis tersebut ikut melihat produksi langsung di Jombang hanya untuk meyakinkan produk. Mulai dari situlah turis tersebut menaruh kepercayaan kepada Wakid dan membawa barang produksi asal Jombang walaupun jumlahnya tidak banyak.

Kiat dalam keberhasilan mengekspor barang produksi pun dilakukan Wakid dengan cara mengikuti pameran, seperti di Malaysia. Di situlah Wakid mengenalkan produk-produknya hingga dikenal mulai dari luar daerah hingga luar negeri. Menurut catatan dunia, pembeli terbesar adalah Malaysia, tepatnya di Serawak yang isinya merupakan orang-orang pecinta manik-manik.

Manik-manik historis yang diproduksi oleh Wakid.

Warga desa di tempat Wakid tinggal merasa sangat bersyukur dengan adanya limbah kaca yang dapat diolah ini. Karena dari olahan limbah kaca inilah beberapa warga desa tersebut dapat memberikan pendidikan kepada anaknya hingga ke jenjang kuliah, bahkan juga ada yang dapat memberikan pendidikan yang lebih tinggi dari itu. Limbahan kaca yang menjadi manik-manik ini menjadi sumber mata pencaharian Wakid, Beads Flower.

Wakid terus menjalankan usahanya hingga pada saat ketika temannya mengajaknya untuk bergabung dalam OK OCE Ina Makmur dan beliau menerima tawaran tersebut. Wakid merupakan anggota OK OCE Ina Makmur, dan dirinya menjelaskan bahwa dengan bergabung dalam sebuah komunitas menambah relasi. Prinsip kolaborasi dan silaturahmi lah yang ia temukan dalam OK OCE.

Salah satu produk Beads Flower yang dapat dilihat di Instagram Beads.flower

Selama pandemi, usaha Wakid yakni Beads Flower sangat berdampak. Bukan hanya pada usahanya, namun juga masyarakat di kampung halamannya. Seperti yang kita ketahui, Kabupaten Jombang memiliki sentra industri kecil yang telah mendunia. Kerajinan –manik kaca di Desa Plumbon Gambang, Kecamatan Gudo. Sekitar 124 unit tidak dapat beroperasional untuk sementara, dikarenakan toko-toko yang ditutup dan juga sepinya pengunjung, terutama para wisatawan yang tidak dapat berkunjung.

Namun, untuk mempertahankan usahanya di masa pandemi, Wakid rela untuk menggadaikan beberapa sertifikat. “Sebelum pandemi’ ungkap Wakid saat dihubungi oleh Tim Media OK OCE beberapa hari lalu. Dari seluruh pengrajin, satu unit dapat menghabiskan lebih dari 100-200 produk perharinya, namun sejak pandemik turun drastis. Bertahan agar usahanya tetap berjalan, cara yang Wakid tempuh adalah aktif dalam mengirimkan contoh manik-manik kepada customer-nya.

“Saya juga yang online 24 jam. Alasan saya adalah melayani customer 24 jam , karena customer-nya banyak yang dari luar negeri, di mana terdapat perbedaan waktu antara luar negeri, terutama di Eropa. Jadi menyesuaikan aja demi mencari sesuap nasi,” ungkapnya.

Sebagai wirausahawan, menurutnya ketika kita menjalankan wirausaha, kita harus mencintai usaha yang kita lakukan tersebut. Sehingga kalau kita tidak mencintai usaha kita sendiri, bagaimana orang dapat mencintai usaha kita. “Misal, jika kita memproduksi aksesoris, paling tidak kita harus menjiwai, menekuni, dan menyukainya, juga memakainya. Kalau kita sendiri saja malu, bagaimana orang lain dapat kita suruh untuk memakai produk kita?,” ungkapnya.

Apa pun yang dilakukan untuk memulai usaha, harus dengan senang hati dalam menggelutinya hingga nanti pada di titik keberhasilan. Karena tidak memungkinkan dalam sekali usaha kita langsung berhasil. Harus dilakukan dengan tekun, dengan ketekunan itulah yang nantinya akan membuahkan hasil pada usaha kita.

Beads Flower dapat ditemukan di beberapa media sosial, seperti Facebook dan Instagram, beads.flower, untuk pemesanan dari luar daerah dapat menghubungi Whatsapp di 081331879001.