Konten dari Pengguna

Krisis Ekologi dan Keberislaman Kita Hari Ini

Okta Firmansyah
Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas
6 Oktober 2025 17:00 WIB
·
waktu baca 7 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Krisis Ekologi dan Keberislaman Kita Hari Ini
Tulisan ini membahas perihal gagasan Islam Kosmik sebagai jalan spiritual dan cara untuk membantu lingkungan. Kita diingatkan bahwa krisis bukan hanya masalah teknis, tetapi juga spiritual.
Okta Firmansyah
Tulisan dari Okta Firmansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi krisis ekologi (Foto: Tom Fisk/pexels.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi krisis ekologi (Foto: Tom Fisk/pexels.com)
ADVERTISEMENT
Hari ini, krisis ekologi di Indonesia semakin menjadi dan terasa dekat dengan setiap orang. Dulu orang mengira Bali disangsikan dari banjir dan tanah longsor, tapi sekarang hal itu terjadi di sana pada September 2025. Sungai Kapuas, Mahakam, dan Barito di Kalimantan juga tercemar lumpur pertambangan dan limbah kelapa sawit karena banyaknya pohon yang ditebang guna memberi ruang bagi lebih banyak kelapa sawit dan pertambangan batubara. Di lain tempat, bencana juga dialami oleh masyarakat pesisir utara Jawa karena erosi pantai.
ADVERTISEMENT
Tiga kejadian bencana tadi hanyalah beberapa contoh betapa rentannya lingkungan kita. Segala bencana ini bukan hanya peristiwa alam, melainkan juga hasil dari perspektif pembangunan yang menempatkan manusia, terutama kepentingan ekonomi dan politik segelintir elit, sebagai pusat kehidupan dan melihat alam sebagai alat yang dapat digunakan.
Misalnya, deforestasi skala besar di Kalimantan dan Papua menunjukkan bagaimana hutan yang telah menjadi rumah bagi masyarakat setempat selama berabad-abad ditebang untuk memberi jalan bagi investasi dalam minyak sawit, kayu, atau pertambangan. Proyek pertambangan nikel di Sulawesi, yang seharusnya membantu dunia beralih ke energi yang lebih bersih, malah merugikan laut, menggusur nelayan dan petani lokal, serta menghilangkan pekerjaan masyarakat. Ini semua menunjukkan bahwa fokus pembangunan pada manusia dan kapitalisme sebenarnya semakin merusak lingkungan dan masyarakat.
ADVERTISEMENT
Dalam keadaan ini, Islam yang dipeluk sebagian besar orang Indonesia seringkali tampak tidak pasti. Kesalehan terbatas pada ibadah pribadi—seperti salat, puasa, dan sedekah—dan hubungan antarpribadi, sedangkan kesalehan ekologis, yang mencakup kepedulian dan tanggung jawab terhadap alam sebagai ciptaan Tuhan, diabaikan. Faktanya, kerusakan ekologis juga merupakan krisis bagi Islam: bagaimana seorang Muslim bisa saleh jika mereka tidak menghormati alam, yang Alquran sebut sebagai tanda-tanda (ayat-ayat) Allah?
Di sinilah gagasan Muhammad Al-Fayyadl tentang "Islam Kosmik" relevan dibicarakan. Fayyadl, aktivis Forum Nasional Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) dan Lingkar Studi Filsafat (LSF) Nahdliyyin, menyebut Islam Kosmik sebagai keberislaman dan korelasinya dengan kesadaran dan keberpihakan pada lingkungan hidup. Di berbagai tulisannya serta di banyak ceramahnya yang berserak di media daring, Fayyadl menyebutkan bahwa Islam Kosmik adalah eksperimentasi gagasan tentang keberislaman yang ditawarkan sebagai kritik sekaligus problem solver atas berbagai persoalan sosial yang cenderung diabaikan umat Islam, salah satunya adalah persoalan sosial ekologis (Fayyadl, 2020).
ADVERTISEMENT
Islam kosmik mencoba memulihkan hubungan triadik antara Tuhan, alam, dan manusia yang sejauh ini tereduksi oleh cara pandang antroposentrisme yang melihat manusia sebagai agensi dan subjek sentral dalam kehidupan. Dalam pandangan antroposentrisme, segala unsur yang ada di bumi ini, seperti flora, fauna, air, udara, dan lanskap alam lainnya hanya dilihat dan ditempatkan sebagai instrumen manusia semata dalam rangka melindungi keberlanjutan hidup manusia itu sendiri.
Lingkungan hidup dilestarikan bukan karena kepentingan lingkungan hidup itu sendiri sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsiknya, tapi lebih karena kepentingan manusia. Cara pandang antroposentrisme demikian, selain telah menempatkan keber-ada-an alam sebagai entitas yang melayani eksistensi manusia, juga sekaligus akan membenarkan segala tindakan manusia pada alam, baik yang bersifat pelestarian maupun eksploitasi atau perusakan. Daerah aliran sungai perlu dikonservasi, misalnya, agar pemukiman manusia tidak dilanda banjir. Atau bukit karst perlu dieskplorasi demi menjaga suplai semen sebagai salah satu bahan bangunan kebutuhan manusia (Fayyadl, 2021; Suryajaya, 2022; Naes, 1978).
ADVERTISEMENT
Di sini, Fayyadl menolak pandangan antroposentrisme semacam ini dalam wacana ekologi. Penolakan Fayyadl ia kemukakan melalui tesis yang ia formulasikan sebagai Islam kosmik. Melalui Islam kosmik, Fayyadl menekankan pentingnya kebertuhanan sekaligus keberislaman dalam menjaga tatatan kosmos. Kosmos yang dimaksud Fayyadl adalah senada dengan pengertian alam semesta beserta segala unsur yang membentuknya.
Bila antroposentrisme cenderung mereduksi keberadaan Tuhan sekaligus alam yang sejatinya menjadi bagian dalam kehidupan manusia—bahkan jika kehidupan beragama manusia yang menganggap Tuhan itu ada, maka dalam praktik beragama bagi subjek antroposentrisme, Tuhan pun direduksi pada hubungan antar manusia semata—maka Islam kosmik yang mencoba menggeser pandangan antroposentrisme ini akan menyatakan bahwa berislam adalah selain bertuhan, juga ber-alam dan ber-manusia.
ADVERTISEMENT
Hubungan ketiganya akan membentuk tatanan kosmos (al-kawn) yang etis. Dengan demikian, Fayyadl menyebut Islam kosmik adalah syarah filosofis yang didasarkan atas nama Allah Swt., Rabb al-‘alamin, Tuhan kosmos (Fayyadl, 2021).
Jika ditelisik lebih lanjut, Islam Kosmik pada dasarnya juga menyiratkan penolakan tidak hanya pada antroposentrisme saja, melainkan juga menolak cara pandang biosentrisme dan ekosentrisme dalam konteks filsafat lingkungan. Jika antroposentrisme lebih mengedepankan prinsip-prinsip etis mengenai lingkungan hidup yang ditentukan oleh kepentingan manusia, maka biosentrisme memperluas prinsip-prinsip etis tersebut dengan menekankan ketentuan pelestarian lingkungan hidup adalah juga untuk kepentingan seluruh organisme (non-manusia); dan semakin diperluas oleh ekosentrisme yang turut menyertakan unsur anorganik (tak hidup/lanskap alam seperti gunung, sungai, udara, cahaya) sebagai yang juga berkepentingan dalam ekosistem.
ADVERTISEMENT
Fayyadl menolak, selain antroposentrisme secara langsung, juga pandangan biosentrisme dan ekosentrisme dalam wacana pelestarian ekologi secara tidak langsung. Penolakan ini dapat dilihat melalui penekanan Islam kosmik pada kepentingan kebertuhanan dan keberagamaan (keberislaman) dalam pelestarian ekologi. Di sini, gagasan Islam Kosmik turut menyertakan dimensi spiritualisme Islam dalam menjaga tatanan kosmos setelah manusia (dalam antroposentrisme), organisme non-manusia (dalam biosentrisme), dan anorganisme/lanskap alam (dalam ekosentrisme) (Suryajaya, 2022; Naes, 1978).
Mengapa kebertuhanan dan keberislaman diperlukan dalam agenda pelestarian lingkungan hidup atau kosmos (secara lebih luas)? Sebab berislam kosmik, menurut Fayyadl adalah koeksistensi dan koevolusi keberislaman manusia dan alam sebagai sesama hamba dan ciptaan Allah Swt (Fayyadl, 2021). Ada hubungan dan kepentingan yang mesti dijalankan secara berdampingan antara manusia, alam, dan Tuhannya.
ADVERTISEMENT
Ketakwaan seorang dalam Islam Komsik tidak hanya diukur berdasarkan akumulasi ibadah atau amal salehnya kepada Allah Swt. dan sesama manusia saja, tapi juga kepada alam. Di hadapan Tuhan, alam dan manusia mesti menjalin hubungan eksistensial yang dekat sebab ia sama-sama subjek yang bergerak dalam kosmos. Kesadaran bahwa manusia dan alam adalah entitas yang sama-sama mewujud ada (being) di dalam kosmos (al-Wujud fi al-Kawn) inilah yang coba disemai oleh Islam Kosmik. Kesadaran semacam ini diperlukan demi berlangsungnya kehidupan yang lebih egaliter dan bertanggung jawab pada Tuhan, manusia, dan alam sekaligus. Mengapa alam mesti diperhitungkan dalam hubungan dan kesadaran ini? Fayyadl berargumen:
ADVERTISEMENT
Beramal saleh dalam Islam semestinya juga mempertanyakan persoalan-persoalan ekologis, tentang perubahan iklim, tentang kapitalisme yang tidak bersolidaritas pada alam, tentang rasisme dalam gerakan sosial-ekologis, tentang kampanye energi terbarukan yang alih-alih ramah lingkungan malah justru mengeksploitasi alam secara radikal, dan lain sebagainya. Dengan kata lain, alam mesti dijaga dengan agama (ad-din) sebab Allah SWT adalah pencipta manusia sekaligus alam.
Menjaga alam berarti menjaga hubungan baik dengan Allah SWT, Tuhan Semesta Alam. Hal ini tentu berbeda dengan paradigma modernisme Barat yang antroposentris yang hanya berpusat pada manusia dan mereduksi keberadaan Tuhan sekaligus agama. Atau berbeda dengan orang-orang yang selama ini berislam tapi justru disibukkan dengan kesalehan pribadi pada Allah Swt. atau pada sesama manusia, dan abai dengan kesalehan pada alam yang sejatinya juga menghantarkan ketakwaan kepada Allah Swt.
ADVERTISEMENT
Islam Kosmik, dengan demikian juga mencakup kesadaran ekologis. Islam Kosmik adalah berislam yang merenungkan alam sebagai subjek kosmos, sebagai bagian dari gerak sejarah kehidupan di muka bumi (Fayyadl, 2021).

Menjalankan Islam Kosmik

Bencana ekologi yang terus berlanjut di Indonesia menjadi pengingat akan kecenderungan kita untuk mengabaikan hubungan kita dengan alam dan yang ilahi. Gagasan Islam Kosmik mencoba mengingatkan bahwa Islam bukan hanya tentang shalat dan ibadah, tetapi juga tentang menjaga bumi tempat kita tinggal.
Beberapa cara sederhana untuk membantu lingkungan adalah menanam pohon sebagai cara untuk membalas budi, membersihkan sungai sebagai cara beribadah, dan menjadikan masjid serta pesantren sebagai pusat gerakan lingkungan, dan lain sebagainya. Sebab kerusakan lingkungan di Indonesia bukan hanya akibat perilaku individu, melainkan juga hasil dari praktik oligarki—persekutuan antara modal, kuasa politik, dan kebijakan yang abai pada keberlanjutan hidup.
ADVERTISEMENT
Islam bukan hanya simbol; ia juga kekuatan nyata yang membantu kehidupan berkembang. Islam Kosmik memberi kita cara untuk hidup: bersama Tuhan dan alam pada saat yang sama, sehingga bumi tetap sehat dan kehidupan tetap bermartabat.