Konten dari Pengguna

Antara Ibu dan Istri: Ketika Bakti Disalahpahami Menjadi Ketidakadilan

Oktavia Ningrum

Oktavia Ningrum

Mahasiswi PAI Universitas Islam Negeri Malang

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Oktavia Ningrum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

 (Dok. Pribadi/Oktavia)
zoom-in-whitePerbesar
(Dok. Pribadi/Oktavia)

Dalam banyak percakapan tentang keluarga, ada satu kalimat yang sering diulang: surga anak laki-laki ada pada ibunya. Kalimat ini bukan sekadar ungkapan kultural, tetapi berakar dari ajaran dalam Islam yang menempatkan posisi ibu begitu tinggi. Berbakti kepada ibu adalah kewajiban yang tidak memiliki masa kedaluwarsa—ia berlaku sepanjang hidup, bahkan setelah seorang anak menikah.

Namun, di sinilah persoalan sering muncul. Banyak yang memahami prinsip ini secara parsial, bahkan keliru. Seolah-olah, untuk membahagiakan ibu, seorang laki-laki harus mengorbankan istrinya. Seolah-olah, ketaatan kepada ibu bisa dibenarkan meski harus mengabaikan hak-hak pasangan. Padahal, pemahaman seperti ini tidak hanya menyederhanakan ajaran agama, tetapi juga berpotensi melahirkan ketidakadilan dalam rumah tangga.

Dalam ajaran Islam, hubungan anak dengan ibu manak temang bersifat unconditional—tidak bersyarat. Seorang anak tetap wajib berbakti, menghormati, dan menjaga perasaan ibunya dalam kondisi apa pun. Tetapi pada saat yang sama, Islam juga mengatur dengan tegas hak dan kewajiban dalam pernikahan. Seorang suami memiliki tanggung jawab untuk melindungi, menafkahi, dan memperlakukan istrinya dengan adil dan penuh kasih.

Masalahnya, sebagian orang memosisikan kedua hal ini seolah-olah saling bertentangan. Ketika ibu tidak menyukai menantu, misalnya, suami merasa harus “memilih”. Ketika ibu menginginkan sesuatu yang bertentangan dengan kepentingan rumah tangga, suami merasa wajib menurut tanpa mempertimbangkan dampaknya. Di titik ini, bakti berubah menjadi bias—dan sering kali, yang menjadi korban adalah istri.

Padahal, membahagiakan ibu tidak identik dengan menyakiti istri. Keduanya bukan dua kutub yang harus dipertentangkan. Justru, kemampuan seorang laki-laki untuk menyeimbangkan peran sebagai anak dan suami adalah bentuk kedewasaan yang sesungguhnya.

Dalam banyak kasus, konflik antara ibu dan istri tidak selalu bermula dari niat buruk. Ia bisa muncul dari perbedaan generasi, pola asuh, atau ekspektasi yang tidak terkomunikasikan. Ibu yang terbiasa menjadi pusat perhatian anak laki-lakinya mungkin merasa kehilangan setelah anaknya menikah. Sementara istri berharap mendapatkan prioritas dalam rumah tangga yang baru dibangun. Ketika tidak ada komunikasi yang sehat, kesalahpahaman pun mudah terjadi.

Di sinilah peran suami menjadi krusial. Ia bukan sekadar “penengah”, tetapi juga pemimpin dalam rumah tangga. Ia harus mampu bersikap adil—bukan berarti selalu membagi rata secara matematis, tetapi menempatkan sesuatu pada porsinya. Ada hal-hal yang menjadi hak ibu, dan ada pula yang menjadi hak istri. Mengabaikan salah satunya bukanlah bentuk ketaatan, melainkan kegagalan memahami tanggung jawab.

Lebih jauh lagi, penting untuk memahami bahwa Islam tidak pernah membenarkan kezaliman, dalam bentuk apa pun. Jika seorang suami membiarkan istrinya disakiti—baik secara verbal, emosional, maupun sosial—dengan alasan “berbakti kepada ibu”, maka yang terjadi bukanlah ibadah, melainkan penyimpangan dari nilai keadilan itu sendiri.

Sebaliknya, berbakti kepada ibu bisa dilakukan dalam banyak cara yang tidak merugikan siapa pun: menjaga komunikasi, memenuhi kebutuhan, meluangkan waktu, dan menunjukkan penghormatan. Semua itu bisa berjalan seiring dengan membangun rumah tangga yang sehat dan harmonis.

Yang sering terlupakan adalah bahwa seorang ibu yang benar-benar bijak tidak akan menginginkan anaknya hidup dalam konflik. Kebahagiaan seorang ibu seharusnya tidak dibangun di atas penderitaan orang lain, termasuk menantunya sendiri. Jika ada tuntutan yang mengarah pada ketidakadilan, maka yang perlu dilakukan adalah dialog, bukan kepatuhan buta.

Pada akhirnya, persoalan ini bukan tentang memilih antara ibu atau istri, melainkan tentang bagaimana memahami peran secara utuh. Seorang laki-laki tetap anak bagi ibunya, tetapi ia juga telah menjadi suami bagi istrinya. Kedua peran ini tidak saling meniadakan, melainkan saling melengkapi—jika dijalankan dengan bijak.

Maka, sudah saatnya kita berhenti menyederhanakan ajaran menjadi slogan. Karena dalam kehidupan nyata, yang dibutuhkan bukan sekadar hafalan, tetapi pemahaman. Dan dalam konteks ini, membahagiakan ibu tidak pernah menuntut kita untuk menzalimi istri.