Bukan Hafidz, Bukan Pamer Iman, Cuma Lagi Pengen Baca Qur’anan

Mahasiswi PAI Universitas Islam Negeri Malang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Oktavia Ningrum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu momen yang sering bikin orang pengen pindah planet. Lagi duduk tenang baca Al-Qur’an di tempat umum, tiba-tiba ada yang nyeletuk:
“Udah hafal berapa juz, Mbak?”
Dan di situ, iman goyah bukan karena godaan dunia, tapi karena malu sosial. Bukan malu dosa. Bukan malu agama. Tapi malu karena ekspektasi.
Seolah-olah kalau seseorang baca Qur’an di ruang publik, otomatis statusnya naik kelas jadi hafidz/hafidzah. Minimal hafal Juz 30. Kalau nggak, dianggap “nggak level”. Seolah tanda tanya besar menggantung, kenapa murojaah sebegitunya kalau bukan hafidz/hafidzah?
Padahal realitanya sederhana. Ada orang yang cuma pengen baca.
Nggak semua yang baca Qur’an itu penghafal. Nggak semua yang buka mushaf itu lagi setor hafalan. Nggak semua yang megang Qur’an itu lagi lomba pahala.
Ada yang baca karena lagi pengen tenang, lagi butuh pegangan batin, lagi pengen reconnect, lagi pengen ngadem, lagi pengen healing versi langit, atau ya… cuma pengen baca aja.
Simple. Tapi kenapa jadi ribet?
Di Indonesia, membaca Al-Qur’an sering terjebak dalam hierarki simbolik. Ada level-level tidak tertulis:
Hafidz → kasta tinggi
Santri → kasta menengah
Muslim biasa → kasta rakyat jelata spiritual
Muslim awam → kasta “jangan sok alim”
Akibatnya, aktivitas sederhana seperti baca Qur’an berubah jadi simbol status. Bukan lagi ibadah personal, tapi identitas sosial.
Kalau hafidz, dianggap pantas. Kalau bukan, jadi terasa “nggak pantes tampil”.
Ini problem budaya, bukan problem agama.
Secara teologis, tidak ada syarat hafalan untuk membaca Al-Qur’an. Tidak ada dalil yang bilang:
“Yang boleh baca Qur’an di ruang publik hanya penghafal/hafidz quran”
Tidak ada ayat:
“Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu membaca kitab-Ku kecuali jika hafal minimal 5 juz.”
Yang ada justru prinsip dasar Islam. Ibadah itu hak setiap muslim, bukan hak elite spiritual.
Membaca Qur’an itu ibadah personal, bukan kompetisi prestasi. Bukan CV keimanan. Bukan portofolio akhlak. Bukan branding religius.
Tapi budaya kita kadung membentuk framing sosial:
kalau baca Qur’an → harus jago
kalau nggak jago → jangan tampil
kalau tampil → siap dinilai
Akhirnya muncul generasi muslim yang takut baca Qur’an di publik, minder buka mushaf, merasa “tidak cukup pantas”, takut dinilai sok alim, takut ditanya hafalan, takut dikira pamer. Ini ironi.
Padahal secara psikologis, ibadah publik yang sehat justru bisa menormalkan spiritualitas sebagai bagian dari hidup sehari-hari. Bukan sesuatu yang eksklusif, sakral berjarak, dan hanya boleh dilakukan oleh kelas tertentu.
Kalau kita bisa normalisasi orang nongkrong sambil ngopi, orang baca novel di halte, orang scroll TikTok di kereta, orang main game di ruang tunggu, Kenapa baca Qur’an harus terasa seperti aktivitas kelas elit?
Kenapa harus ada tekanan performatif?
Masalahnya bukan pada orang yang hafidz. Mereka nggak salah. Masalahnya pada budaya penilaian. Budaya yang bikin ibadah jadi ajang identitas. Budaya yang bikin orang takut jadi “muslim biasa”.
Padahal mayoritas umat Islam itu bukan hafidz. Bukan santri. Bukan ustaz. Bukan kyai. Bukan akademisi agama.
Mayoritas itu ya… umat biasa. Yang imannya naik turun. Yang kadang rajin, kadang bolong. Yang kadang dekat, kadang jauh. Yang kadang baca Qur’an, kadang cuma niat.
Dan itu normal.
“Semua orang berhak membaca Qur’an.”
Tanpa label. Tanpa kasta. Tanpa tekanan. Tanpa penghakiman. Karena relasi dengan kitab suci itu seharusnya intim, bukan intimidatif. Personal, bukan performatif. Tenang, bukan tegang.
Kalau ada orang baca Qur’an di tempat umum,
respons paling sehat itu bukan: “Udah hafal berapa juz?”
Cukup diam. Karena nggak semua ibadah perlu dikomentari. Kadang orang cuma mau baca. Bukan mau dinilai. Bukan mau diuji. Bukan mau diklasifikasi.
Dan itu sepenuhnya sah.
Karena jadi muslim itu bukan lomba. Bukan ranking. Bukan kasta. Bukan kelas sosial spiritual. Kadang cuma soal satu hal sederhana: punya hubungan personal dengan Tuhan, dengan cara masing-masing. Dan itu sudah cukup.
