Dakwah di Kolom Komentar: Niat Baik yang Sering Salah Tempat

Mahasiswi PAI Universitas Islam Negeri Malang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Oktavia Ningrum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fenomena “dakwah di kolom komentar” kini semakin sering ditemui di media sosial. Niatnya mungkin baik—ingin mengingatkan atau mengajak pada kebaikan. Namun, tidak sedikit cara penyampaiannya justru menimbulkan resistensi, bahkan antipati terhadap agama itu sendiri. Di sinilah pentingnya memahami bahwa dakwah bukan hanya soal isi pesan, tetapi juga tentang konteks, cara, dan dampak.
Dalam Islam, konsep amar ma’ruf nahi munkar (mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran) memang merupakan ajaran penting. Namun, prinsip ini tidak berdiri sendiri tanpa kaidah. Salah satu prinsip yang sering terlupakan adalah fikih prioritas—yakni kemampuan menimbang mana yang lebih utama, lebih mendesak, dan lebih membawa maslahat.
Sebuah kisah yang sering dijadikan rujukan adalah tentang Ibnu Taimiyah. Diceritakan bahwa beliau pernah melewati sekelompok orang yang sedang meminum khamr. Muridnya ingin menegur mereka, tetapi beliau justru melarang. Alasannya sederhana namun dalam: jika mereka sadar, dikhawatirkan mereka justru melakukan kejahatan yang lebih besar, seperti merampok atau mengganggu orang lain. Dalam situasi tersebut, dipilih mudarat yang lebih ringan daripada membuka peluang mudarat yang lebih besar.
Dari kisah ini, terlihat jelas bahwa tidak semua kemungkaran harus langsung diubah, apalagi tanpa pertimbangan. Ada situasi di mana menegur justru memperburuk keadaan. Prinsip ini sangat relevan jika kita tarik ke konteks media sosial saat ini.
Misalnya, ketika seseorang mengunggah foto “outfit of the day”, lalu muncul komentar yang langsung menyinggung soal aurat dengan nada menghakimi. Alih-alih menyentuh hati, komentar seperti ini sering kali justru memicu defensif, rasa malu, atau bahkan penolakan. Dalam beberapa kasus, orang yang semula sedang berproses menjadi lebih baik justru mundur karena merasa diserang.
Hal serupa juga terjadi dalam kasus lain, misalnya ketika seseorang mengaku menemukan pelipur lara melalui hiburan—entah itu film, musik, atau anime. Alih-alih dipahami sebagai bagian dari proses bertahan hidup, respon yang muncul justru menghakimi dan menyederhanakan bahwa “penyelamat hanya Allah” tanpa empati terhadap kondisi psikologis orang tersebut. Padahal, bisa jadi hal-hal sederhana itulah yang menjadi perantara seseorang untuk tetap bertahan dan tidak terpuruk lebih dalam.
Di titik ini, dakwah yang kehilangan empati berpotensi kehilangan makna. Sebab, tujuan utama dakwah bukan sekadar menyampaikan kebenaran, tetapi juga menghadirkan kebaikan yang bisa diterima. Cara yang keliru bisa membuat pesan yang benar menjadi tidak efektif, bahkan kontraproduktif.
Dalam fikih Islam sendiri terdapat kaidah penting: jika menghilangkan satu kemungkaran justru menimbulkan kemungkaran yang lebih besar, maka tindakan tersebut sebaiknya tidak dilakukan. Kaidah ini menekankan pentingnya melihat dampak jangka panjang, bukan hanya kepuasan sesaat karena merasa telah “menegur”.
Contoh nyata lainnya adalah dalam menegur perempuan yang sedang belajar berhijab. Jika teguran disampaikan dengan cara yang kasar atau terus-menerus, bukan tidak mungkin yang muncul justru kelelahan emosional hingga akhirnya ia memilih melepas hijabnya. Dalam kondisi seperti ini, niat baik justru menghasilkan dampak yang sebaliknya.
Oleh karena itu, dakwah membutuhkan lebih dari sekadar semangat. Ia memerlukan hikmah, empati, dan kecerdasan sosial. Tidak semua kesalahan harus ditegur dengan cara yang sama. Ada hal-hal yang lebih efektif disampaikan secara pribadi, ada yang membutuhkan pendekatan bertahap, dan ada pula yang cukup didoakan tanpa harus dikomentari secara terbuka.
Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum berdakwah, khususnya di ruang publik digital, antara lain: kondisi orang yang akan ditegur, kesiapan mentalnya, situasi yang melatarbelakangi perilakunya, serta kemungkinan dampak setelah teguran diberikan. Tanpa pertimbangan ini, dakwah bisa berubah menjadi sekadar pelampiasan emosi atau ajang merasa paling benar.
Pada akhirnya, dakwah bukan tentang siapa yang paling cepat menegur, tetapi siapa yang paling bijak dalam menyampaikan. Sebab, tujuan utamanya adalah mendekatkan, bukan menjauhkan. Jika cara yang digunakan justru menimbulkan kebencian atau luka, maka perlu dievaluasi kembali: apakah yang disebarkan benar-benar kebaikan, atau justru sebaliknya.
