Keunikan Linguistik dalam Surat Al-Mujadilah

Mahasiswi PAI Universitas Islam Negeri Malang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Oktavia Ningrum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di antara 114 surat dalam Al-Qur’an, ada satu keunikan yang jarang disadari: sebuah surat yang di setiap ayatnya selalu menyebut lafaz “Allah”. Surat itu adalah Surat Al-Mujadilah—yang berarti “Wanita yang Menggugat”. Keistimewaan ini bukan sekadar kebetulan linguistik, melainkan mengandung pesan teologis dan emosional yang sangat dalam.
Surat Al-Mujadilah terdiri dari 22 ayat. Para ulama tafsir menyoroti bahwa dalam setiap ayatnya, nama Allah (اللَّه) disebut secara eksplisit. Ini menjadikannya satu-satunya surat dalam Al-Qur’an dengan pola pengulangan seperti itu. Dalam kajian ilmu tafsir, pengulangan lafaz ilahi bukan hanya berfungsi sebagai penegasan, tetapi juga sebagai penanda kedekatan dan perhatian Allah terhadap tema yang sedang dibahas.
Lalu, apa tema besar dari surat ini?
Menariknya, bukan tentang kiamat, bukan pula tentang peperangan besar atau peristiwa kosmik. Surat ini justru turun untuk merespons persoalan rumah tangga—sesuatu yang tampak sederhana, bahkan sangat personal.
Kisahnya berpusat pada seorang perempuan bernama Khaulah binti Tsa'labah. Ia datang kepada Nabi Muhammad dalam keadaan sedih dan tertekan. Suaminya telah mengucapkan zihar, sebuah tradisi jahiliyah di mana seorang suami menyamakan istrinya dengan punggung ibunya. Dalam budaya Arab pra-Islam, ucapan ini berarti pemutusan hubungan suami-istri, tetapi tanpa kejelasan hukum yang adil bagi perempuan.
Khaulah tidak hanya terluka secara emosional, tetapi juga berada dalam posisi yang tidak pasti secara sosial. Ia datang mengadu kepada Nabi dengan suara yang sangat pelan, penuh kehati-hatian agar tidak membuka aib rumah tangganya. Bahkan Aisyah binti Abu Bakar yang berada di dekatnya, terhalang tirai, mengaku hanya mendengar sebagian kecil percakapan itu.
Situasi ini menunjukkan betapa lirih dan tertahannya suara seorang perempuan yang sedang memperjuangkan keadilan.
Saat itu, Nabi Muhammad belum bisa memberikan keputusan karena belum ada wahyu yang turun. Namun Khaulah tidak berhenti. Dalam keputusasaannya, ia mengangkat tangan dan langsung mengadu kepada Allah. Ia “menggugat” bukan dalam arti menentang, tetapi memohon keadilan dengan sepenuh hati.
Lalu turunlah ayat pertama dari Surat Al-Mujadilah:
“Sungguh, Allah telah mendengar ucapan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu...”
Ayat ini menjadi penegasan bahwa tidak ada suara yang terlalu pelan untuk didengar oleh Allah. Bahkan ketika manusia di sekitarnya tidak mampu menangkap seluruh kata-katanya, Allah mendengar dengan sempurna.
Dari sudut pandang ilmiah dalam tafsir, pengulangan nama Allah di setiap ayat dalam surat ini memiliki beberapa hikmah. Pertama, sebagai penegasan bahwa Allah hadir dalam setiap detail persoalan manusia, termasuk yang paling privat sekalipun. Kedua, sebagai bentuk penguatan psikologis—seolah setiap ayat menjadi pengingat berulang bahwa Allah tidak absen dari kehidupan hamba-Nya. Ketiga, sebagai simbol keadilan ilahi: bahwa bahkan masalah yang dianggap kecil oleh manusia tetap mendapatkan perhatian penuh dari Tuhan.
Surat ini juga menjadi tonggak penting dalam reformasi sosial Islam. Praktik zihar yang sebelumnya merugikan perempuan diatur ulang dengan hukum yang jelas dan adil. Ini menunjukkan bahwa wahyu tidak hanya berbicara tentang hal-hal besar, tetapi juga turun untuk memperbaiki relasi sosial yang timpang.
Lebih jauh, kisah Khaulah mengandung pesan universal. Ia bukan tokoh besar dalam sejarah politik atau militer, melainkan seorang perempuan biasa. Namun keberaniannya untuk bersuara dan keyakinannya untuk mengadu kepada Allah menjadikannya bagian dari sejarah wahyu.
Di sinilah letak kekuatan utama Surat Al-Mujadilah: ia mengajarkan bahwa tidak ada persoalan yang terlalu kecil untuk didengar oleh Allah, dan tidak ada suara yang sia-sia ketika disampaikan dengan kejujuran.
Bagi pembaca modern, terutama generasi muda, surat ini relevan dalam konteks kesehatan emosional dan spiritual. Di tengah dunia yang serba cepat dan seringkali tidak memberi ruang untuk didengar, surat ini menawarkan perspektif bahwa selalu ada tempat untuk mengadu—kepada Dzat yang tidak pernah absen mendengar.
Dengan demikian, keunikan linguistik dalam Surat Al-Mujadilah bukan hanya keindahan bahasa, tetapi juga refleksi dari kedalaman makna: sebuah jaminan bahwa setiap keluh kesah manusia, sekecil apa pun, berada dalam pengetahuan dan perhatian Allah.
