Konten dari Pengguna

Tradisi Sado: Awal Mula adanya Tradisi Sado atau Upacara Minum Teh

Oktavianus Jaka

Oktavianus Jaka

Mahasiswa Teknik Elektro Universitas Pamulang

·waktu baca 1 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Oktavianus Jaka tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : Gambar di ambil dari pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Gambar di ambil dari pixabay

Awal mula adanya tradisi Sado (茶道) atau upacara minum teh Jepang berakar dari Tiongkok, kemudian berkembang dan menjadi bagian penting dari budaya Jepang

Tradisi minum teh pertama kali muncul di Tiongkok sekitar abad ke-8. Saat itu teh digunakan oleh para biksu Buddha untuk membantu mereka tetap terjaga saat bermeditasi.

Teh bubuk hijau (matcha) juga berasal dari Tiongkok pada masa Dinasti Song (960–1279 M).

Sekitar abad ke-9, seorang biksu Jepang bernama Eisai membawa biji teh dan ajaran minum teh dari Tiongkok ke Jepang. pada awalnya, teh hanya diminum oleh kaum bangsawan dan kalangan biara sebagai bagian dari ritual keagamaan.

Sumber : Gambar di ambil dari pixabay

Pada abad ke-14 hingga 15, minum teh mulai menjadi kegiatan sosial di kalangan samurai dan bangsawan.

Saat itu muncul kegiatan “Tocha”, yaitu pertandingan menebak jenis teh — lebih bersifat hiburan dan mewah.

Sekitar abad ke-16, muncul tokoh penting bernama Sen no Rikyū (1522–1591). Beliau mengubah kegiatan minum teh menjadi seni dan jalan hidup (Chadō / Sado). Rikyū menekankan prinsip kesederhanaan (wabi-sabi), ketenangan, kerendahan hati, dan hubungan batin antara tuan rumah dan tamu. Sejak saat itulah Sado menjadi tradisi spiritual dan budaya Jepang yang mendalam.