Survei Toko Bangunan di Bantul: Mengapa Harga Karbit Bervariasi?

Mahasiswa Manajemen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Menulis tentang ekonomi, bisnis, dan dunia kerja dari sudut pandang mahasiswa
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Oktianda Nada Ramadhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh: Oktianda Nada Ramadhani (Mahasiswi Manajemen UMY, Magang di KPPU Kanwil VII Yogyakarta)
Cuma Nanya Harga Karbit, Kok Bisa Beda Jauh Gini?
Awalnya kupikir tugas magangku simpel banget. Sebagai mahasiswi yang lagi magang di Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Kanwil VII Yogyakarta, aku disuruh survei harga karbit di beberapa toko bangunan di Bantul. Modalnya cuma catatan dan rasa penasaran. Aku datengin toko satu per satu dengan pertanyaan yang sama: “Pak, karbit satu kilo berapa?”
Barangnya sama persis, yaitu karbit merek MQD ukuran 1 kg. Wilayahnya juga sama, sama-sama di Bantul. Tapi jawabannya beda-beda, dan aku sampai garuk-garuk kepala.
Tiga Toko, Tiga Harga
Di Toko A, karbit dijual Rp33.000 per kilogram, naik Rp2.000 dari tahun lalu. Di Toko B harganya Rp30.000, yang paling murah di antara semuanya. Harga di sini naik pelan-pelan, dari Rp27.500 di 2024, jadi Rp29.000 di 2025, lalu Rp30.000 tahun ini. Nah, di Toko C aku nemu angka paling tinggi, yaitu Rp38.000 per kilogram, juga naik Rp2.000 dari tahun lalu.
Selisih toko termurah dan termahal sampai Rp8.000 per kilogram, atau sekitar 27 persen. Buat bengkel las atau yang beli dalam jumlah banyak, selisih segitu lumayan banget kerasa. Jadi muncul pertanyaan di kepalaku: kenapa bisa sejauh ini? Jangan-jangan ada yang nggak beres?
Beda Harga Belum Tentu Curang
Dari bangku kuliah Manajemen, aku belajar bahwa harga jual nggak muncul begitu aja. Ada harga modal, biaya operasional, dan untung yang diincar penjual. Dari situ aku coba bedah kemungkinan penyebabnya.
Pertama, rantai distribusi. Toko yang beli langsung dari distributor besar biasanya dapat harga modal lebih murah dibanding toko yang belinya lewat agen atau pengepu
l, karena tiap perantara pasti ngambil untung.
Kedua, volume pembelian. Toko yang barangnya laris biasanya beli dalam jumlah besar, jadi daya tawarnya lebih kuat.
Ketiga, strategi margin. Ada pemilik toko yang milih untung tipis biar pelanggan rame, ada juga yang pasang untung lebih gede karena karbit bukan jualan utamanya.
Terakhir, biaya operasional seperti ongkos angkut, sewa tempat, dan lokasi toko yang beda-beda.
Kalau dilihat dari sudut pandang persaingan usaha, perbedaan harga kayak gini sebenarnya wajar. Selama harganya terbentuk dari kondisi biaya dan keputusan masing-masing pelaku usaha, bukan hasil kesepakatan di antara mereka, pasarnya dianggap masih sehat.
Naiknya Barengan, Selisihnya Tetap Ada
Ada satu hal yang bikin aku tertarik. Ketiga toko sama-sama naikin harga dalam setahun terakhir dengan besaran yang mirip, sekitar Rp1.000 sampai Rp2.000. Ini ngasih petunjuk bahwa tekanan kenaikannya kemungkinan datang dari hulu, misalnya harga dari pemasok atau biaya distribusi, bukan karena ulah masing-masing toko. Sementara itu, selisih harga antar toko tetap bertahan dari tahun ke tahun, artinya perbedaan harganya lebih banyak dijelaskan faktor di tingkat toko seperti yang aku sebutin tadi.
Tapi perlu diingat, survei ini baru mencakup tiga toko, jadi belum bisa mewakili seluruh pasar karbit di Bantul. Penjelasanku juga masih analisis awal yang perlu diuji lebih jauh, misalnya lewat wawancara yang lebih dalam dengan pemilik toko dan distributor.
Pelajaran Buat Kita Para Konsumen
Dari survei ini aku sadar bahwa harga yang lebih tinggi belum tentu berarti pedagangnya ngambil untung kebanyakan, dan harga yang lebih murah belum tentu ada yang janggal. Yang jelas, kita sebagai konsumen punya peran. Karbit jarang dibandingin harganya karena nilainya kecil dan butuhnya sering mendadak, padahal banding-bandingin harga di dua sampai tiga toko cuma butuh sedikit waktu. Kalau beli dalam jumlah banyak, nggak ada salahnya nanya harga khusus. Dan pastiin merek serta ukurannya sama sebelum dibandingin ya.
Dari satu tugas magang kecil di toko bangunan, aku belajar bahwa paham gimana harga terbentuk itu sama pentingnya dengan nyari harga yang murah.
