Konten dari Pengguna

FOMO atau JOMO? Antara Ikut Tren dan Menikmati Hidup

Olifiaa

Olifiaa

Mahasiswi - Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang

ยทwaktu baca 4 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Olifiaa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Media sosial telah mengubah cara masyarakat berinteraksi, memperoleh informasi, hingga mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai tren dapat muncul dan menyebar dalam hitungan jam melalui platform digital. Mulai dari makanan viral, konser, gaya berpakaian, hingga produk teknologi terbaru, semuanya dapat dengan cepat menjadi pusat perhatian publik. Di tengah kondisi tersebut, muncul fenomena yang semakin akrab di kalangan generasi muda, yaitu Fear of Missing Out (FOMO).

Istilah FOMO pertama kali diperkenalkan oleh Patrick J. McGinnis pada tahun 2004 melalui artikelnya di majalah mahasiswa Harvard Business School, The Harbus. Sebelum menggunakan istilah FOMO, McGinnis sempat memperkenalkan istilah Fear of Better Options (FOBO), namun kemudian menyadari bahwa rasa takut tertinggal pengalaman atau momen yang sedang terjadi lebih relevan untuk menggambarkan kondisi masyarakat modern.

Secara sederhana, FOMO dapat diartikan sebagai perasaan cemas atau takut ketika merasa tertinggal informasi, pengalaman, atau tren yang sedang dialami orang lain. Fenomena ini semakin sering dikaitkan dengan Generasi Z yang tumbuh bersama internet dan media sosial sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Di era digital saat ini, seseorang dapat melihat aktivitas orang lain hampir tanpa batas. Unggahan foto liburan, makanan yang sedang viral, konser musik, hingga gaya hidup tertentu terus bermunculan di layar ponsel setiap hari. Paparan tersebut secara tidak langsung membentuk dorongan untuk ikut mencoba agar tidak merasa tertinggal.

Fenomena ini terlihat dari berbagai kebiasaan yang kini semakin umum dilakukan. Banyak orang rela mengantre panjang untuk membeli makanan yang sedang viral, membeli produk terbaru meskipun belum terlalu dibutuhkan, atau mengikuti tren tertentu hanya karena ramai dibicarakan di media sosial. Dalam kondisi seperti ini, keputusan yang diambil sering kali tidak lagi sepenuhnya berdasarkan kebutuhan, tetapi dipengaruhi oleh rasa ingin tetap relevan dan diterima dalam lingkungan sosial.

Perkembangan teknologi informasi membuat proses penyebaran tren berlangsung semakin cepat. Apa yang populer hari ini dapat berganti hanya dalam beberapa hari. Akibatnya, sebagian orang merasa harus terus mengikuti perkembangan agar tidak dianggap tertinggal. Tidak sedikit pula yang akhirnya membandingkan kehidupannya dengan apa yang dilihat di media sosial.

Meski sering dipandang negatif, FOMO tidak selalu memberikan dampak buruk. Dalam beberapa situasi, keinginan untuk ikut terlibat dapat memperluas relasi sosial dan membuat seseorang lebih aktif mencoba pengalaman baru. Banyak anak muda yang akhirnya menemukan komunitas, memperluas jaringan pertemanan, atau mendapatkan pengalaman menarik karena keberaniannya mengikuti perkembangan yang sedang terjadi.

Namun, ketika dorongan tersebut dilakukan secara berlebihan, FOMO dapat menimbulkan berbagai konsekuensi. Seseorang bisa menjadi lebih impulsif dalam berbelanja, sulit menentukan prioritas, merasa mudah cemas, bahkan mengalami tekanan karena terus membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Kebiasaan ingin selalu mengikuti tren juga dapat berdampak pada kondisi finansial dan produktivitas sehari-hari.

Ilustrasi seseorang menikmati waktu di dunia nyata tanpa distraksi media sosial. Konsep ini menggambarkan pergeseran dari Fear of Missing Out (FOMO) menuju Joy of Missing Out (JOMO). (Gambar dibuat menggunakan AI & ChatGPT)

Di tengah meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan mental dan keseimbangan hidup, muncul konsep yang menjadi kebalikan dari FOMO, yaitu Joy of Missing Out (JOMO). Istilah ini mulai dikenal sejak diperkenalkan oleh Anil Dash pada tahun 2012 sebagai bentuk pendekatan yang menekankan kebahagiaan karena memilih untuk tidak selalu ikut dalam setiap tren atau aktivitas yang sedang ramai.

Berbeda dengan FOMO yang didorong rasa takut tertinggal, JOMO mengajak seseorang untuk merasa nyaman dengan pilihan yang diambil tanpa tekanan sosial. Konsep ini tidak berarti menolak perkembangan zaman atau menutup diri dari lingkungan sekitar, melainkan lebih pada kemampuan memilih mana yang benar-benar penting dan sesuai dengan kebutuhan diri sendiri.

Fenomena JOMO mulai terlihat dari meningkatnya minat masyarakat terhadap aktivitas yang lebih sederhana dan personal, seperti membaca buku, menikmati waktu bersama keluarga, berolahraga, berjalan santai, atau mengurangi penggunaan media sosial. Banyak orang mulai menyadari bahwa tidak semua tren harus diikuti dan tidak semua pengalaman perlu dibagikan secara daring.

Perubahan pola perilaku ini juga mulai mendapat perhatian dalam kajian perilaku konsumen digital. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa FOMO cenderung mendorong keputusan konsumsi yang lebih impulsif karena adanya tekanan sosial digital. Sebaliknya, JOMO dinilai membantu seseorang mengambil keputusan yang lebih sadar, reflektif, dan sesuai dengan kebutuhan pribadi.

Pada akhirnya, fenomena FOMO dan JOMO menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak hanya mengubah cara masyarakat berkomunikasi, tetapi juga memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri. Di tengah arus informasi yang terus bergerak cepat, kemampuan untuk memilih kapan harus ikut dan kapan cukup menikmati dari kejauhan menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan hidup di era digital.

Karena mungkin, tidak semua hal yang sedang ramai memang harus kita jalani. Kadang, melewatkan sesuatu juga bisa menjadi pilihan yang membawa ketenangan.