Konten dari Pengguna

Manifesto Gen Z: Mengakhiri Rantai Kemiskinan dan Stunting

Olifiaa

Olifiaa

Mahasiswi - Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Olifiaa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar di ambil menggunakan Chat GPT / AI
zoom-in-whitePerbesar
Gambar di ambil menggunakan Chat GPT / AI

Kemajuan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari pembangunan yang terlihat, tetapi juga dari bagaimana negara memastikan setiap anak memiliki kesempatan untuk tumbuh sehat dan meraih masa depan.

Kami adalah Generasi Z yang tumbuh di tengah perubahan besar. Teknologi berkembang pesat, informasi semakin mudah diakses, dan berbagai peluang baru mulai terbuka. Namun, di balik kemajuan tersebut, masih ada persoalan yang harus mendapat perhatian serius, salah satunya adalah stunting pada anak. Bagi kami, stunting bukan hanya persoalan kesehatan. Stunting adalah gambaran dari masalah yang lebih luas, seperti keterbatasan ekonomi keluarga, kurangnya pengetahuan tentang gizi, serta akses kesehatan yang belum merata.

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada masa 1.000 hari pertama kehidupan, yaitu sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Dampaknya tidak hanya terlihat pada pertumbuhan fisik, tetapi juga dapat memengaruhi perkembangan otak, kemampuan belajar, dan produktivitas seseorang di masa depan.

Berdasarkan data, stunting masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Jika dilihat dari jumlah balita yang mengalami stunting, provinsi dengan jumlah kasus tertinggi banyak berada di wilayah dengan populasi besar seperti Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Sementara itu, berdasarkan prevalensi atau persentase, Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi salah satu daerah dengan angka stunting tertinggi, yaitu sekitar 37 persen, diikuti oleh Sulawesi Barat sebesar 35,4 persen dan Papua Barat Daya sekitar 30,5 persen.

Bagi kami, angka tersebut bukan hanya data statistik. Di balik angka tersebut terdapat cerita keluarga yang setiap hari berjuang memenuhi kebutuhan hidup. Kami melihat bahwa salah satu penyebab utama stunting berkaitan dengan kondisi ekonomi keluarga. Banyak orang tua sebenarnya ingin memberikan makanan bergizi kepada anaknya, tetapi keterbatasan pendapatan membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan gizi secara optimal.

Di beberapa wilayah pedesaan, masih banyak keluarga yang bekerja sebagai petani, buruh, atau pekerja harian dengan penghasilan tidak selalu tetap. Dalam kondisi tertentu, mereka harus memilih makanan berdasarkan kemampuan ekonomi. Makanan yang mengenyangkan sering menjadi prioritas utama, sementara kebutuhan protein, vitamin, dan mineral belum selalu terpenuhi.

Misalnya, sebuah keluarga petani dengan pendapatan terbatas mungkin tetap mampu menyediakan makanan setiap hari, tetapi belum tentu mampu memberikan makanan bergizi seperti ikan, telur, susu, atau sumber protein lainnya secara rutin. Jika kondisi ini berlangsung dalam waktu lama, anak berisiko mengalami gangguan pertumbuhan.

Selain kebutuhan pangan, keterbatasan ekonomi juga dapat memengaruhi akses terhadap layanan kesehatan. Sebagian keluarga mengalami kesulitan untuk melakukan pemeriksaan rutin, mendapatkan informasi kesehatan, atau menyediakan lingkungan dengan sanitasi yang baik.

Menurut kami, stunting harus dipahami sebagai masalah pembangunan manusia. Kemiskinan dapat menyebabkan anak mengalami kekurangan gizi, sementara stunting yang tidak ditangani dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Hal ini dapat memperpanjang rantai kemiskinan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Karena itu, penyelesaian stunting tidak cukup hanya melalui bantuan makanan. Dibutuhkan langkah yang lebih luas, seperti pemberdayaan ekonomi keluarga, peningkatan keterampilan masyarakat, pengembangan usaha lokal, serta edukasi mengenai kesehatan dan gizi.

Sebagai Generasi Z, kami percaya bahwa generasi muda memiliki peran dalam menghadirkan perubahan. Kami dapat memanfaatkan teknologi untuk menyebarkan informasi kesehatan, membangun kesadaran masyarakat, dan ikut terlibat dalam kegiatan sosial yang memberikan manfaat nyata.

Bagi kami, politik bukan hanya tentang jabatan atau kekuasaan. Politik adalah keberanian untuk melihat persoalan yang terjadi di masyarakat dan memperjuangkan perubahan. Ketika masih ada anak yang kehilangan kesempatan untuk tumbuh sehat karena keterbatasan ekonomi, maka masih ada tanggung jawab yang harus diperjuangkan.

Manifesto politik Gen Z adalah komitmen untuk membangun Indonesia yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga kuat melalui kualitas manusianya.

Kami adalah Generasi Z. Kami tidak ingin hanya menjadi generasi yang melihat masalah, tetapi generasi yang berani menjadi bagian dari solusi untuk menciptakan Indonesia yang lebih sehat dan kuat.

Referensi:

1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Potret Stunting di Indonesia: Gambaran Prevalensi, Penyebab, dan Upaya Percepatan Penurunan Stunting.

(Sumber data prevalensi stunting Indonesia, termasuk kondisi stunting berdasarkan wilayah.)

2. Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI). Stunting: Pengertian, Penyebab, dan Cara Pencegahannya.

(Sumber mengenai definisi stunting, penyebab, dampak, serta langkah pencegahan melalui pemenuhan gizi dan kesehatan anak.)