Konten dari Pengguna

Mengapa Banyak Mahasiswa Lebih Memilih Bertanya ke AI daripada Membuka Buku?

Olifiaa

Olifiaa

Mahasiswi - Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang

ยทwaktu baca 3 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Olifiaa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perkembangan teknologi digital telah mengubah banyak aspek kehidupan, termasuk cara mahasiswa belajar dan mencari informasi. Jika beberapa tahun lalu buku, jurnal, dan dosen menjadi sumber utama untuk memahami materi perkuliahan, kini banyak mahasiswa memilih menggunakan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sebagai langkah pertama ketika membutuhkan jawaban.

Hanya dalam hitungan detik, AI mampu memberikan penjelasan, merangkum materi, hingga membantu menyusun ide untuk tugas kuliah. Kemudahan tersebut membuat teknologi ini semakin populer di lingkungan akademik. Tidak sedikit mahasiswa yang langsung membuka aplikasi AI ketika menghadapi pertanyaan atau kesulitan memahami suatu topik.

Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan kebiasaan belajar. AI tidak lagi hanya menjadi alat pendukung, tetapi mulai berperan sebagai sumber informasi yang sering digunakan dalam aktivitas perkuliahan sehari-hari. Kecepatan dan kemudahan yang ditawarkan membuat banyak mahasiswa merasa lebih praktis dibanding harus mencari referensi dari berbagai buku atau jurnal.

Mahasiswa memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mencari informasi dan membantu proses belajar di era digital. Foto: Ilustrasi AI & CHAT GPT

Menurut Holmes, pemanfaatan AI dalam pendidikan mengacu pada sistem yang dirancang untuk membantu dan memperlancar proses pembelajaran. Kehadirannya menciptakan pengalaman belajar baru yang lebih menarik dan mudah diakses. Mahasiswa dapat memperoleh gambaran awal mengenai suatu materi tanpa harus menghabiskan banyak waktu mencari sumber informasi secara manual.

Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah kebiasaan membaca buku akan semakin berkurang?

Membaca buku pada dasarnya bukan hanya tentang memperoleh jawaban, tetapi juga melatih kemampuan memahami, menganalisis, dan mengevaluasi informasi secara mendalam. Berbeda dengan AI yang menyajikan jawaban secara instan, membaca membutuhkan proses berpikir yang lebih panjang. Pembaca harus menelusuri argumen, memahami konteks, dan menghubungkan berbagai informasi yang ditemukan.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan AI yang terlalu intensif dapat menimbulkan ketergantungan. Dalam penelitian yang dimuat dalam Didaktika: Jurnal Kependidikan (2025), sebagian mahasiswa mengaku lebih memilih menggunakan AI karena dianggap lebih cepat, praktis, dan mampu memberikan jawaban yang langsung dapat digunakan. Bahkan ada mahasiswa yang mengaku langsung membuka AI ketika mendapat pertanyaan karena merasa kurang percaya diri dengan jawabannya sendiri.

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa sebagian mahasiswa mulai terbiasa mengandalkan AI untuk mencari ide, referensi, hingga memeriksa jawaban sebelum tugas dikumpulkan. Akibatnya, proses berpikir mandiri berpotensi berkurang karena mahasiswa tidak lagi terbiasa melakukan analisis secara mendalam.

Selain itu, ketergantungan terhadap AI juga berisiko memengaruhi kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Padahal, kedua kemampuan tersebut merupakan keterampilan penting yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan maupun dunia kerja. Ketika seluruh proses pencarian jawaban diserahkan kepada AI, kesempatan untuk melatih kemampuan menganalisis masalah dan menemukan solusi secara mandiri menjadi semakin sedikit.

Buku tetap menjadi sumber pembelajaran penting meskipun teknologi AI semakin banyak digunakan oleh mahasiswa. Foto: Ilustrasi AI & CHAT GPT

Meski demikian, bukan berarti AI harus dihindari. Teknologi ini tetap memiliki banyak manfaat apabila digunakan secara bijak. AI dapat membantu mahasiswa memahami materi yang sulit, memberikan gambaran awal suatu topik, serta mempercepat proses pencarian informasi. Dalam konteks ini, AI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu belajar, bukan sebagai pengganti proses belajar itu sendiri.

Banyak mahasiswa juga menggunakan AI sebagai langkah awal sebelum membaca sumber yang lebih lengkap. Mereka memanfaatkan AI untuk memperoleh pemahaman dasar, kemudian melanjutkan dengan membaca buku, jurnal, atau referensi akademik lainnya. Cara seperti ini dapat membantu mahasiswa belajar lebih efektif tanpa kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis.

Pada akhirnya, tantangan terbesar bukanlah keberadaan AI, melainkan bagaimana mahasiswa menggunakannya. Kemajuan teknologi memang menawarkan kemudahan, tetapi kemampuan memahami, menganalisis, dan berpikir kritis tetap tidak dapat digantikan oleh mesin.

AI dapat menjadi teman belajar yang bermanfaat jika digunakan secara proporsional. Namun, buku dan sumber bacaan tetap memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman yang mendalam. Di tengah era serba instan, menjaga keseimbangan antara memanfaatkan teknologi dan mempertahankan budaya membaca menjadi langkah penting agar kualitas proses belajar tetap terjaga.