Konten dari Pengguna

Menagih Janji Aksesibilitas JIS: Ambisi Versus Realitas

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Olinsius Lousio Josephin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Potret lanskap kawasan Jakarta International Stadium. (Foto: Vecteezy.com)
zoom-in-whitePerbesar
Potret lanskap kawasan Jakarta International Stadium. (Foto: Vecteezy.com)

Pertunjukan besar musisi dunia Abel Makkonen Tesfaye, atau yang dikenal sebagai The Weeknd, dalam rangkaian After Hours Til Dawn Tour di Jakarta International Stadium (JIS) pada akhir September 2026 lalu menyimpan dua pesan. Di satu sisi, keberhasilan konser dua hari itu membuktikan besarnya minat pasar hiburan di Indonesia dan juga menunjukkan bahwa Jakarta mampu menjadi salah satu pusat pertunjukan musik internasional di Asia Tenggara. Namun di sisi lain, masalah lama yang kembali muncul di luar stadion menunjukkan kenyataan pahit bahwa Jakarta masih belum mampu mengatur akses massa ke mega-infrastruktur miliknya sendiri.

Pengalaman berdesak-desakan, kemacetan panjang yang berlangsung hingga larut malam, dan keputusan mendadak seperti penutupan JPO penghubung Stasiun JIS yang membuat penumpang menumpuk di armada transit lanjutan, bukanlah hal baru. Pola ketidaknyamanan yang terus terjadi sejak konser Dewa 19, Piala Dunia U-17, sampai konser-konser besar sebelumnya menunjukkan bahwa masalah di JIS bukan hanya akibat kejadian di lapangan yang sesaat. Masalah ini muncul karena salah perhitungan kebijakan tata ruang dan ego sektoral yang belum selesai.

Isu mobilitas JIS tidak boleh lagi dianggap sebagai keluhan penonton konser yang lelah berjalan kaki. Masalah ini menjadi ujian penting bagi kesiapan Jakarta yang sedang berubah dari Ibu Kota Negara menjadi Kota Global.

Secara teori, JIS sebenarnya dirancang dengan filosofi Transit-Oriented Development (TOD). Stadion berkapasitas 82.000 penonton ini sengaja membatasi ruang parkir kendaraan pribadi untuk mendorong masyarakat menggunakan transportasi massal. Konsep ini tentu sangat modern, ramah lingkungan, dan sejalan dengan praktik terbaik kota metropolitan dunia. Namun, penerapan filosofi TOD di JIS punya kelemahan logika, yaitu membatasi akses kendaraan pribadi sebelum membangun jaringan transportasi publik yang matang dan terintegrasi sepenuhnya.

Ketika ribuan penonton dipaksa beralih ke transportasi umum, infrastruktur pendukung yang tersedia terbukti belum mampu menampung jumlah orang sebanyak itu. Penutupan akses langsung JPO Stasiun JIS ke kawasan stadion saat hari pertunjukan memaksa puluhan ribu orang memadati rute shuttle bus dan area penjemputan ojek online. Akibatnya, arus mobilitas tidak lancar. Titik kemacetan hanya berpindah ke jalan-jalan arteri di sekitarnya yang sempit.

Inilah paradoks pembangunan infrastruktur kita. Negara bisa mengalokasikan anggaran triliunan rupiah untuk membangun karya arsitektur megah berstandar FIFA. Namun, negara terlihat setengah hati dan terbatas saat memikirkan bagaimana orang keluar dan masuk dari bangunan itu dengan efisien dan bermartabat. Stadion megah berdiri terpisah di tengah jaringan jalan lingkungan yang terbatas. Stadion itu menanti janji integrasi rel KRL Commuter Line dan LRT yang belum juga selesai sepenuhnya.

Pengabaian terhadap pembenahan permanen aksesibilitas JIS membawa dua dampak sistemik yang sangat merugikan:

Pertama, ada kerugian pada reputasi dan daya saing ekonomi pariwisata. Pertunjukan musik internasional bukan hanya soal hobi, tapi sudah menjadi industri ekonomi kreatif besar yang memberi pemasukan bagi daerah dan negara. Jika akses menuju stadion utama Jakarta terus dikenal sebagai pengalaman buruk dan penuh kemacetan, Jakarta bisa kalah bersaing dengan kota tetangga seperti Singapura, Bangkok, atau Kuala Lumpur yang punya pengelolaan tempat acara jauh lebih lancar.

Kedua, dan yang paling penting, ada ancaman terhadap keselamatan publik. Penumpukan puluhan ribu orang di area terbatas tanpa sistem evakuasi yang cukup adalah resep pasti menuju bencana kerumunan. Pengelolaan pergerakan massa yang buruk bukan lagi soal kenyamanan saja. Hal ini sudah menyentuh keselamatan nyawa. Membiarkan ribuan orang terdampar di luar arena sampai dini hari tanpa kepastian transportasi adalah bentuk pengabaian keselamatan yang tidak boleh dibiarkan.

Solusi yang ditawarkan pengelola maupun pemerintah daerah sejauh ini sering bersifat reaktif dan sementara. Contohnya adalah menambah armada bus, menyediakan kantong parkir darurat di kawasan Ancol, atau mengatur lalu lintas saat hari pertunjukan. Pendekatan tambal sulam ini terbukti tidak pernah bisa menyelesaikan akar masalah.

Untuk mengakhiri kekacauan berulang ini, Pemprov DKI Jakarta bersama kementerian terkait dan pengelola kawasan harus mengambil langkah konkret dan terukur:

1. Percepatan Tuntas Akses Berbasis Rel: Integrasi Stasiun KRL JIS dan kelanjutan rute LRT ke area stadion harus selesai tanpa penundaan lagi. Akses pejalan kaki dari stasiun ke pintu stadion harus langsung, memadai, dan terhubung tanpa pemblokiran insidental yang bisa membingungkan alur orang.

2. Pembangunan Koridor Pejalan Kaki Skala Besar (Pedestrian Mall): Kawasan di sekitar stadion perlu mengubah jalur pejalan kaki menjadi jauh lebih lebar dan aman. Pejalan kaki harus menjadi prioritas utama dengan ruang gerak yang luas menuju titik-titik transit utama. Dengan begitu, pergerakan orang akan tersebar secara alami tanpa menyebabkan penumpukan di jalan.

3. Penerapan Crowd Management Plan Berbasis Digital: Pengelola dan promotor harus menjalankan pengelolaan kerumunan dengan data riil atau data waktu nyata. Informasi tentang tingkat kepadatan rute, perkiraan kedatangan bus transit, serta panduan alur keluar harus ditampilkan di layar petunjuk pintar dan aplikasi yang mudah diakses semua pengunjung.

4. Sterilisasi Zona Khusus (Event-Day Car-Free Zone): Saat ada acara besar, area di sekitar JIS harus benar-benar bebas dari kendaraan pribadi. Jalan hanya dipakai untuk bus umum berkapasitas besar dan pejalan kaki. Tujuannya agar lalu lintas tidak macet.

Jakarta International Stadium adalah aset penting yang seharusnya menjadi simbol kemajuan kota Indonesia. Namun, kebanggaan atas bangunan yang megah akan terasa kosong jika mengabaikan kenyamanan dan keselamatan warga yang datang. Keberhasilan sebuah tempat besar tidak diukur dari seberapa keras suara musik di dalamnya. Keberhasilan diukur dari seberapa aman dan mudah orang-orang di dalamnya bisa datang dan pulang ke rumah mereka.

Pemerintah Daerah dan semua pemangku kepentingan terkait tidak boleh lagi saling melempar tanggung jawab. Janji aksesibilitas JIS harus segera dipenuhi sepenuhnya. Hal ini penting untuk membuktikan bahwa Jakarta tidak hanya ingin menjadi Kota Global di atas kertas, tetapi juga benar-benar siap dan ramah dalam melayani masyarakat secara nyata.

DAFTAR PUSTAKA

Detikcom. (2024). JPO Stasiun-JIS Ditutup saat Konser The Weeknd, Penonton Bisa Naik Shuttle. https://news.detik.com/berita/d-8676244/jpo-stasiun-jis-ditutup-saat-konser-the-weeknd- penonton-bisa-naik-shuttle/amp

Republika. (2024). Penonton Puji Konser The Weeknd di JIS Meski Catat Kendala Akses dan Teknis. https://ameera.republika.co.id/berita/tm1fij8030000/penonton-puji-konser-the- weeknd-di-jis-meski-catat-kendala-akses-dan-teknis

BPS Provinsi DKI Jakarta. (2023). Statistik Transportasi DKI Jakarta 2023. BPS Provinsi DKI Jakarta. https://jakarta.bps.go.id

Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta. (2022). Rencana Induk Transportasi Jakarta dan Integrasi Moda Kawasan JIS. Pemprov DKI Jakarta. https://dishub.jakarta.go.id

PT Jakarta Propertindo. (2022). Spesifikasi Teknis dan Aksesibilitas Jakarta International Stadium. Jakpro. https://www.jakpro.id