Vitamin D Perkuat Imun Tubuh, Bisa Cegah Covid-19?

Mahasiswa Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia
Tulisan dari oliviaputritianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
![Diabetes.co.uk, 2019. Vitamin D And Diabetes. [image] Available at: <https://www.diabetes.co.uk/food/vitamin-d.html> [Accessed 9 January 2021].](https://blue.kumparan.com/image/upload/fl_progressive,fl_lossy,c_fill,f_auto,q_auto:best,w_640/v1610260061/a8uqwlzvu6pp43lwl3xp.jpg)
Pandemi COVID-19 membuat kita sebagai masyarakat menjadi lebih memperhatikan kesehatan dengan memperkuat sistem imun. Salah satu topik yang sempat menjadi tren di masyarakat Indonesia adalah berjemur di pagi atau siang hari untuk mendapatkan vitamin D. Sebenarnya paparan sinar matahari memang membantu tubuh mensintesis vitamin D, namun untuk menjaga level vitamin D dalam tubuh tetap optimal, tubuh juga harus mendapat asupan makanan sumber vitamin D yang cukup. Jika kita hanya mengkonsumsi vitamin D saja dan kulitnya tidak pernah terpapar sinar matahari, maka vitamin D tidak dapat dihasilkan oleh tubuh, dan begitupun sebaliknya.
Sebuah penelitian (The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism) menemukan bahwa 80% dari 216 pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit di Spanyol kekurangan vitamin D. Sedangkan penelitian lain (Jurnal Plos One) mengklaim kecukupan vitamin D dapat mengurangi kebutuhan oksigen pada COVID-19 dan mempercepat proses pengobatan. Dari kedua penelitian tersebut dapat dikatakan bahwa imunitas tubuh, salah satunya dengan kecukupan vitamin D, dapat mempengaruhi kesembuhan seseorang dari penyakit COVID-19. Namun akan lebih baik jika kita tetap melakukan pencegahan dengan meningkatkan level Vitamin D tubuh untuk mempertahankan imunitas dibandingkan pengobatan di kemudian hari.
Vitamin D dan Sinar Matahari
Vitamin D adalah prohormon yang diproduksi di kulit selama paparan sinar matahari dan dalam jumlah yang lebih kecil diperoleh dari makanan. Vitamin D yang berasal dari kulit dan saluran pencernaan saat memasuki darah bentuknya belum aktif. Untuk menjadi aktif, harus melalui proses perubahan biokimiawi berurutan berupa penambahan dua gugus hidroksil (-OH) terlebih dahulu dan di dalamnya terdapat peranan penting dari sinar matahari. Reaksi pengaktifan vitamin D terjadi di hati dan ginjal. Hasil akhirnya adalah bentuk aktif vitamin D berupa 1,25-(OH)2-D atau kalsitriol.
Hasil penelitian kolaborasi di Kuala Lumpur dan Jakarta menemukan bahwa defisiensi vitamin D di Indonesia sebesar 63%. Jadi, dapat dikatakan bahwa tinggal di negara yang beriklim tropis atau sering terpapar sinar matahari, tidak sepenuhnya menjamin terpenuhinya status vitamin D tubuh masyarakatnya. Maka dari itu, penting juga untuk memenuhi kebutuhan vitamin D tubuh kita dengan asupan oral.
Asupan Makanan untuk Vitamin D
Vitamin D tentunya belum terbukti secara ilmiah dapat dijadikan sebagai “obat” untuk mencegah atau menyembuhkan COVID-19. Namun, kebutuhan asupan vitamin D perlu kita perhatikan untuk menjadi bagian dari strategi gaya hidup sehat demi menjaga imun tubuh kita. Jumlah asupan vitamin D harian yang direkomendasikan adalah 400 unit internasional (IU) untuk anak-anak hingga usia 12 bulan, 600 IU untuk usia 1 hingga 70 tahun, dan 800 IU untuk orang-orang di atas 70 tahun. Untuk memenuhi kebutuhan asupan vitamin D, kita sebagai masyarakat Indonesia dapat mengonsumsi berbagai bahan makanan yang mengandung vitamin D cukup tinggi. Beberapa bahan makanan lain yang dapat menjadi sumber asupan vitamin D adalah ikan laut (sarden, tuna, mackerel) , ikan air tawar, minyak ikan, kuning telur, belut, susu, sereal terfortifikasi. Selain dari makanan, asupan oral vitamin D juga dapat dipenuhi dengan konsumsi suplemen vitamin D. Suplemen vitamin D yang dijual untuk publik biasanya mengandung antara 400-2000 IU per tablet. Namun perlu diketahui konsumsi 2000 IU vitamin D per hari dapat menyebabkan keracunan vitamin D. Konsumsi suplemen tanpa rekomendasi dari ahli kesehatan cukup dibatasi hingga standar rekomendasi asupan per hari.
Kesimpulan
Paparan sinar matahari ketika kita berjemur membantu kulit mensintesis vitamin D. Selain terkena paparan sinar matahari, asupan vitamin D dari makanan juga perlu diperhatikan. Kedua hal ini sebaiknya dilakukan bersamaan agar sintesis vitamin D di dalam tubuh maksimal. Jika kadar vitamin D dalam tubuh kita cukup, maka sistem imunitas tubuh akan mendapat support untuk mencegah datangnya penyakit. Walaupun perlu diingat bahwa belum terdapat bukti ilmiah jika vitamin D dapat secara langsung mencegah terpapar COVID-19. Menjaga level vitamin D dalam tubuh kita tetap menjadi hal penting untuk menjaga fungsi tubuh yang optimal.
Penulis:
Olivia Putri T.
Andrea Maria K.
