Mengapa Resesi Ditakuti Dunia?

Olyvia Hendarwati, MSi
Alumna: Higher School of Economics, Moscow 2020 London School of Public Relations, Jakarta 2017 (International Relations Studies)
Konten dari Pengguna
15 Juli 2022 18:04 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Olyvia Hendarwati, MSi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Global financial crash - Economic crisis worldwide    ID 179012002 © Keport | Dreamstime.com
zoom-in-whitePerbesar
Global financial crash - Economic crisis worldwide ID 179012002 © Keport | Dreamstime.com
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Apakah krisis ekonomi perang dunia 2 datang menghantui ekonomi global saat ini?
ADVERTISEMENT
Dunia saat ini sedang memperbincangkan melemahnya pertumbuhan ekonomi dunia yang secara perlahan akan mengalami resesi, lalu apa itu resesi ekonomi dan bagaimana resesi itu bias terjadi?
Situasi global ekonomi ini memperkirakan negara zona Eropa dan Amerika akan mengalami resesi. Indonesia yang saat ini berusaha untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi akibat pandemi sekarang harus ikut terkena dampak perlambatan pertumbuhan ekonomi. Dan jika Amerika mengalami resesi, Indonesia sebagai negara pengimpor terbesarnya akan mengalami perlambatan ekonomi.
Para ekonom mendefinisikan, resesi sebagai penurunan PDB yang dialami selama 2 kuartal dan berkelanjutan. Hal ini sudah tampak tahun 2020 saat dunia mengalami krisis kesehatan akibat Covid-19. Berdasarkan Congressional Research Service, menyatakan bahwa penyebab resesi antara lain, overheated economy, assest bubble dan black swan events.
ADVERTISEMENT
Overheated economy, singkatnya disebabkan karena demand pasar yang tinggi dibandingkan product supply atau rendahnya ketersediaan produksi suatu barang dan jasa. Situasi kelangkaan dan kebutuhan energi yang meningkat ini yang sedang menimpa Negara bagian eropa dan Amerika karena sebagian ketersediaan energi dari negara tersebut bersumber dari Rusia.
Kementerian luar negeri Indonesia menyatakan bahwa pada pertemuan G20 tahun 2022 yang berlangsung di Bali menjadi prioritas pembahasan yang salah satunya pemulihan ekonomi global. Selain itu, melonjaknya harga pasaran rumah atau housing market menimbulkan inflasi dan mengakibatkan pengangguran meningkat sehingga seperti yang dikatakan Sri Mulyani setelah pertemuan G20 pada pers bahwa, generasi muda sekarang dikhawatirkan tidak mampu untuk membeli properti karena harga yang sangat tinggi.
ADVERTISEMENT
Asset bubble, Melonjaknya harga kebutuhan pangan, energy dan lainya membebankan suatu perusahaan untuk menaikkan upah buruh dan jika perusahaan tidak dapat mampu menaikkan upah buruh maka akan ada pemecatan masal dan perusahaan pun berada di situasi rawan kebangkrutan. Tingkat pengangguran yang tinggi sangat berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi negara dan persentase kemiskinan juga akan meningkat.
Jason Snipe, Founder Investment Officer Odyssey Capital Advisor, mengatakan, "resesi dapat juga menguntungkan jika kita memahami mekanisme investasi dan mengalokasi sebagian uang kita untuk investasi saham". Faktor perlambatan ekonomi lainya adalah black swan event, peristiwa yang tidak dapat kita prediksi seperti saat kita harus melewati masa pandemi selama kurang lebih 2 tahun sejak 2020 yang diikuti krisis pangan dan perang geopolitik antara Rusia dan Ukraina.
ADVERTISEMENT