Kisah Chatri Sityodtong, CEO ONE Championship yang Menginspirasi Dunia

The Home Of Martial Arts
Tulisan dari ONE Championship tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jauh sebelum dikenal sebagai CEO dan Founder ONE Championship, kehidupan Chatri Sityodtong lekat dengan rintangan dan pengorbanan.
Tumbuh dalam keluarga serba berkecukupan, kehidupannya berubah drastis saat krisis finansial Asia menghantam bisnis keluarganya hingga membuat sang ayah pergi menelantarkan Chatri Sityodtong bersama ibunya.
Kisah tersebut ia ceritakan dalam sebuah video yang menggambarkan kisah hidup serta perjuangan pria asal Thailand tersebut, dan juga dari mata orang-orang terdekatnya, termasuk sang ibunda.
Chatri Sityodtong menggambarkan bahwa kisah hidupnya penuh dengan pengorbanan dan penderitaan, termasuk saat harus bertahan hidup dengan mengonsumsi frozen food setiap hari pada masa awal kehidupannya saat masih berkuliah di Amerika.
Menggunakan uang simpanan yang tersisa, sang ibu mendorong Chatri Sityodtong untuk melanjutkan kuliah di Universitas Harvard agar bisa mengubah kehidupan keluarga di tengah segala keterbatasan.
Ia sempat bimbang, mengingat pertaruhan besar yang harus ia alami. Biaya hidup dan kuliah di Harvard tidaklah murah, sementara uang yang tersisa pun terbatas.
Ia harus memutar otak, karena berdasarkan kalkulasinya, uang harian maksimal yang bisa ia habiskan per hari adalah 4 USD (sekitar Rp 58 ribu dalam kurs saat ini).
“Angka 4 USD tersebut telah tertanam dalam otak saya selamanya,” tutur Chatri Sityodtong dalam video tersebut.
Mengajar Muay Thai di Kampus
Demi membiayai kuliah dan bertahan hidup di Negeri Paman Sam, Chatri Sityodtong memanfaatkan ilmu bela diri yang dimilikinya untuk mengajar di universitas tempatnya menimba ilmu. Ia pun dikenal sebagai pendiri komunitas Muay Thai di kampusnya pada saat itu.
Muay Thai dan bela diri memang sudah menjadi bagian erat dalam hidupnya. Saat masih kecil, ia diajak ayahnya ke Lumpinee Stadium untuk menyaksikan pertandingan Muay Thai.
Tempat tersebut merupakan kiblat bagi para petarung Muay Thai di Negeri Gajah Putih, dan merupakan salah satu tempat terselenggaranya turnamen Muay Thai paling bergengsi di dunia.
Beranjak remaja, ia berlatih di Sityodtong Gym yang merupakan sasana Muay Thai terbaik pada masanya di Thailand. Hingga kini, nama tersebut melekat dalam dirinya.
Membangun ONE Championship
Setelah lulus dari salah satu universitas terbaik di dunia, Chatri Sityodtong mengaku mendapatkan berbagai tawaran pekerjaan dengan nilai tinggi dari beberapa perusahaan besar.
Ia pun menjadi seorang pengelola dana investasi (Hedge Fund Manager) dan mengelola aset senilai ratusan juta dolar. Namun, ia merasa hal itu tak sesuai dengan panggilan jiwanya.
“Saya ‘sukses’, tapi merasa ada kekosongan dalam diri saya. Dan hal itu membuat saya tak bisa tidur dan berpikir. Pada akhirnya saya memutuskan untuk pensiun sebagai Hedge Fund Manager dan menjadikan seni bela diri diri sebagai jalan hidup saya.”
Pada 2011, ONE Championship resmi berdiri dan menyelenggarakan ajang seni bela diri perdananya di Singapura.
Menurut sang founder, tahun-tahun pertama ONE Championship merupakan periode yang sulit karena banyak yang meragukan potensinya. Alhasil, banyak pihak yang menolak bekerja sama.
Kini, setelah sembilan tahun berlalu, ONE Championship menjadi salah satu organisasi olahraga terbesar di dunia dari segi jumlah penonton dan jumlah Juara Dunia yang berada dalam naungannya.
