Kisah Tentang Perbedaan dan Toleransi yang Mendewasakan Adrian Mattheis

The Home Of Martial Arts
Tulisan dari ONE Championship tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perjuangan dan perbedaan yang ditemui Adrian "Papua Badboy" Mattheis selama hidupnya adalah apa yang mendewasakannya sebagai seniman bela diri dari Indonesia.
Lahir di Ternate, Maluku Utara, pada 1993, petarung yang kini bernaung di bawah Tigershark Fighting Academy itu mungkin tak pernah menyangka sejauh apa dia telah melangkah sebagai salah satu superstar Indonesia di ONE Championship.
Pada masa kecilnya, pria yang dikenal dengan 'lagu kasih slow tempo' sebagai musik pengiringnya ini tumbuh di keluarga yang memiliki berbagai keberagaman. Adrian telah menjungjung tinggi perbedaan sejak usia dini.
"Saya punya mama, adiknya ada yang berbeda agama karena ikut suaminya. Toleransi dalam keluarga sangat besar, kakak," ujar sang Juara Turnamen ONE Strawweight Indonesia tersebut dengan logat timur yang khas.
Namun, masa kecil Adrian yang ceria juga dihiasi oleh kisah pilu, kala kakeknya meninggal akibat ditusuk dalam sebuah konflik.
Kala itu, konflik terjadi di Ambon pada akhir tahun 90an yang juga terjadi di Halmahera, tempat tempat tinggal Adrian bersama keluarga.
"Kalau konflik itu [...] mungkin saya umur 6 tahun," kenangnya.
"Saya lari, kakak," ujar Adrian. "Kan, pasti kita cari tempat yang aman, toh. Memang bapak sudah kerja di Papua dulu, kan. Jadi mengalami hal itu, kasihan. Dari kampung-kampung harus lari kiri kanan, harus cari tempat yang aman kan."
Setelah konflik terjadi, Adrian bersama keluarga berpindah ke Sorong, Papua Barat untuk melanjutkan hidup yang baru.
Dalam ingatan Adrian kecil, kampung halamannya di Desa Akelamo itu merupakan tempat yang damai. Namun, meski kala itu terjadi konflik, mereka yang berbeda keyakinan dengan Adrian menjadi salah satu malaikat penolongnya.
"Harmonis dan toleran juga. Waktu kerusuhan itu juga sempat keluarga abang yang berbeda agama itu nyembunyiin keluargaku di kamar. Orang ada yang nyari, tapi tidak ada tempat sembunyi juga. Begitu ceritanya," ungkap Adrian.
Kerusuhan kala itu disebut Adrian terjadi karena adanya gesekan yang datang dari luar, yang merusak keharmonisan yang sudah terbentuk sejak dulu.
"Tapi puji Tuhan sekarang kita punya kampung sudah baik-baik kembali," sebut Adrian.
Tidak bisa dipungkiri, perjalanan Adrian mungkin lebih keras dari anak sebayanya. Akibat kerusuhan itu, Adrian kecil terpaksa mengungsi ke Papua mengikuti sang ayah yang sudah lebih dulu bekerja di sana.
Teluk Bintuni, yang menjadi lokasi sang ayah bekerja, menjadi pijakan pertama Adrian di tanah Papua sebelum akhirnya ia dan keluarga berpindah ke Sorong dan besar di sana.
"Terpaksa ikut bapak ke Sorong, tapi sebelumnya Bintuni dulu. Sampai besar di Sorong itu karena dulu bapak kerja di PT kayulapis kan," sebutnya.
Mengisi waktu muda di Sorong, Adrian sempat menjajaki dunia sepakbola dengan menjadi pemain bola junior. Namun, hanya perkara waktu hingga Adrian pindah ke Jakarta untuk menempuh studi di STP Perikanan dan mengenal seni bela diri.
"Saat itu saya seringkali dipanggil, karena saya adalah ketua perkumpulan mahasiswa Papua. Setiap kali ada masalah, saya yang dipanggil,” akunya. “Maka itu saya berpikir untuk berlatih bela diri. Tetapi pada akhirnya, sayalah yang membantu kakak senior yang sering memanggil saya itu.”
Pindah ke Jakarta, tak hanya perundungan dari senior yang didapat oleh Adrian. Perbedaan perlakuan juga ia terima karena perbedaan tempat asal juga kerap ditemuinya.
"Kalau kaget, sih kaget. Tapi Adrian selalu bawa itu dalam satu cara untuk ke mana Adrian berpikir lebih dewasa dengan cara seperti ini," ujarnya.
"Ya karena mungkin mereka tidak pernah lihat orang-orang timur seperti itu ya kita harus bersyukur. Masalahnya sekarang orang seperti itu, kita jadi berteman dengan kita juga baik. Bahwa kita orang-orang Timur kita istimewa."
Dihadapkan pada konflik kala kecil hingga mengalami perundungan dan perlakuan tak menyenangkan kala remaja, nyatanya malah membuat Adrian lebih berbesar hati dan tumbuh jadi pribadi yang selalu ceria.
Cobaan demi cobaan dan perlakuan tak menyenangkan yang diterimanya jadi modal Adrian tumbuh sebagai atlet seni bela diri campuran, di saat bersamaan tetap merunduk seperti padi dan tidak tinggi hati.
"Kalau adrian soal menyenangkan atau tidak senang Adrian selalu mengenakkan segala sesuatu kakak, karena Adrian punya moto hidup selalu bersyukur, toh," terang Adrian tentang prinsip hidupnya.
"Orang mau buat Adrian model apa ya Adrian selalu bersyukur, karena kelakuan mereka seperti itu menjadi amplas bagi Adrian agar lebih baik lagi toh kakak. Ini kan jalan hidup saya, jalan ninja saya seperti ini kakak."
Cerita Adrian jadi salah satu kisah akan keberagaman dan toleransi yang ada di Indonesia, bertepatan dengan Hari Toleransi Internasional yang jatuh tiap tanggal 16 November.
