Konten dari Pengguna

ONE Championship: Kisah Amir Khan Bertarung Demi Sang Ayah Yang Mengidap Kanker

ONE Championship

ONE Championshipverified-green

The Home Of Martial Arts

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari ONE Championship tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tajudeen berada dibelakang Amir Khan saat anaknya berlaga dalam salah satu pertandingan (ONE Championship)
zoom-in-whitePerbesar
Tajudeen berada dibelakang Amir Khan saat anaknya berlaga dalam salah satu pertandingan (ONE Championship)

Dua bulan yang lalu, kehidupan keluarga petarung ONE Championship Amir Khan berjalan seperti biasanya. Namun suatu hari, ada kejanggalan dalam diri ayahnya, Tajudeen.

Khawatir akan kesehatan sang ayah, atlet 25 tahun yang akan menghadapi Rahul “The Kerala Krusher” Raju dalam ajang ONE: REIGN OF DYNASTIES pada 9 Oktober mendatang mencoba membaringkan sang ayah di tempat tidurnya.

Namun ayahnya mendadak kejang.

“Ia mulai gemetar,” kenang Khan.

“Kami memanggil ambulans, dan segera setelah kami sampai di rumah sakit, ia kembali sadar. Para dokter melakukan berbagai pemeriksaan – CT scan, scan otak dan MRI. Lalu, setelah beberapa minggu, ia pun menjalani biopsi.”

Saat menunggu hasil tesnya keluar, mereka hanya bisa berspekulasi tentang apa yang telah menimpa Tajudeen.

“Ibu saya bekerja sebagai perawat di rumah sakit,” kata Amir Khan. “Ibu mengatakan pada saya bahwa hal tersebut bisa berpotensi untuk menjadi tumor otak atau kanker.”

embed from external kumparan

Meski telah mengantisipasi kabar terburuk, keluarga Amir Khan tetap terkejut setelah menerima hasil diagnosa tersebut. Tajudeen mengidap kanker Tahap IV – yaitu limfoma otak, sebuah penyakit yang dengan cepat berdampak pada sistem syaraf pusat. Hal itu dapat menyebabkan perubahan dalam perilaku dan kepribadian, kejang-kejang, serta dalam beberapa bulan kemudian, kematian.

“Saya merasa kalah, hancur,” kata Amir Khan.

“Para dokter memberinya tiga sampai enam bulan, namun mereka tidak mengetahui pasti, kan? Itu estimasi kasarnya. Mereka mengatakan bahwa ia mungkin tak memiliki waktu lama untuk hidup.”

“Ayah tak ingin saya terus hidup dengan depresi atau terdampak oleh kejadian ini, maka saya hanya mencoba membuat tiap hari berarti dan tetap positif. Dan siapa tahu, ia mungkin berusia lebih panjang.”

Berdasarkan statistik, mereka yang didiagnosa mengidap limfoma otak tahap akhir hanya memiliki harapan hidup selama 45 hari jika kanker tersebut tak ditangani. Namun bahkan dengan perawatan, hasilnya pun nampak tak cukup bagus.

embed from external kumparan

Hanya 30 persen orang yang dapat hidup selama lima tahun berikutnya termasuk perjuangan panjang dan menyakitkan melalui kemoterapi. Dampaknya mungkin menjadi lebih buruk, dan ini menjadi faktor yang harus dipertimbangkan ayah Khan saat para dokter bertanya tentang pendapat keluarga.

“Ayah memutuskan untuk tidak menjalani kemo karena prosedurnya menyakitkan,” kata atlet yang berlaga dalam divisi lightweight ONE Championship ini.

“Ia tak ingin menjalani saat-saat terakhirnya dengan penderitaan. Maka, kami menghormati keinginannya dan mencoba untuk memanfaatkannya dengan sangat baik.”

Hal itu merupakan sebuah bentuk optimisme dari pria asal Singapura tersebut, yang dalam satu tahun terakhir berkutat dengan berbagai upaya untuk mengubah hidup yang berdampak pada karier profesionalnya.

Dari serangkaian hasil negatif di atas ring, keterbatasan pergerakan akibat COVID-19, larangan berlatih, sampai diagnosa ayahnya, Amir Khan terpaksa menghadapi kenyataan paling menyakitkan – bahwa seringkali, kehidupan itu tak dapat ditebak.

“Walau kami memiliki momen-momen buruk, kami dapat menerima hal tersebut, lalu beradaptasi dan bertumbuh,” jelasnya.

“Yang Anda harus lakukan adalah mengatasinya dan tidak terjebak karena hal-hal buruk terjadi pada kami. Kami tak dapat melewatkan hal-hal dalam hidup ini.”

Tajudeen adalah sosok yang selalu ada dalam momen penting anaknya, baik saat Khan berjuang dengan Sindrom Tourette ataupun saat mengatasi berbagai tantangan di dalam ring.

Saat Amir Khan berusia 15 tahun, ayahnya ikut terbang ke Thailand, ketika anaknya berlatih selama dua bulan demi laga perebutan gelar Muay Thai di Phuket.

“Saya berlaga selama empat ronde penuh, dan dalam ronde terakhir, saya ingin berhenti karena saya mulai kelelahan,” kata atlet asal Singapura ini.

“Namun tiap kali saya ingin menyerah, saya melihatnya dan ia ada di sana untuk mendukung saya. Ia memberi saya kekuatan untuk melanjutkan, dan akhirnya saya mampu memenangkan laga.”

“Itulah momen kemenangan pertama dalam karier saya bersama dirinya.”

embed from external kumparan

Memegang Rekor di ONE Championship

Usai menjalani karier dalam Muay Thai, Amir Khan bertransisi menuju seni bela diri campuran dan bergabung bersama ONE Championship pada 2014.

Selama enam tahun terakhir, perwakilan Evolve ini meraih selusin kemenangan dan mencetak rekor KO terbanyak sepanjang sejarah ONE Championship dengan delapan angka. Ini merupakan rekor tertinggi yang hanya bisa diimbangi oleh Juara Dunia ONE Lightweight Christian “The Warrior” Lee.

Namun, memecahkan rekor bukanlah hal utama baginya. Yang menjadi motivasi utamanya adalah memberi kebanggaan pada ayahnya tiap kali ia mencetak kemenangan.

“Kapan pun saya berkompetisi, saya akan membawanya ke belakang panggung bersama saya dan membawanya selama minggu pertandingan. Tak ada yang lebih membuatnya berbahagia dari saat saya mencetak KO spektakuler,” kata Khan.

“Kapan pun saya meraih penampilan yang bagus, ia akan menjadi ayah yang paling bangga di dunia. Ia akan memberitahukan keluarga dan teman-temannya, maka saya hanya akan mengulangi hal tersebut di dalam tiap laga. Saya akan selalu mengenang momen bersama dirinya itu.”

Kini, dengan ayahnya yang sedang berjuang demi hidupnya, Khan berjanji bahwa para penggemar bela diri akan kembali melihat pencetak KO ini tampil – bukan karena ia ingin mengungguli Lee dalam meraih KO terbanyak bersama ONE, namun karena ia mungkin hanya memiliki satu kesempatan lagi untuk membahagiakan pria yang selalu memberinya inspirasi itu.

“Saya ingin mendapatkan kemenangan yang bagus bagi ayah saya. Tak hanya sebuah kemenangan, namun menghentikan [Rahul] karena saya tahu itu akan membuatnya bangga dan bahagia,” kata Khan.

“Perasaaab untuk membuatnya berbahagia dan melihat kegembiraan di matanya itu adalah kebahagiaan terbesar bagi saya, karena saya peduli dan menyayangi ayah saya.”

Melewati itu semua, ada sebuah misi yang tetap sama bagi Khan – kecuali hari-hari ini, dimana ada kepentingan yang jauh lebih besar.

“Tujuan saya tetap masih menjadi seorang Juara Dunia,” katanya. “Dan saya harap ia akan ada di sana untuk melihat saya meraih tujuan itu.”

ONE: REIGN OF DYNASTIES dapat disaksikan lewat ONE Super App, Vidio, MAXstream, Kaskus TV, dan SCTV

kumparan post embed