Raih Kemenangan Submission Terbanyak di ONE, Aoki Buktikan Usia Hanyalah Angka

The Home Of Martial Arts
Tulisan dari ONE Championship tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mematahkan berbagai prediksi bisa jadi adalah salah satu hal yang lekat Shinya “Tobikan Judan” Aoki, atlet vetaran ONE Championship dengan kemenangan submission terbanyak sejauh ini.
Pada usia 37 tahun, ia telah mengalahkan para lawan terbaik dari berbagai generasi dalam olahraga kombat, dan nampaknya, tren itu akan terus berlanjut.
Bintang asal Jepang ini telah memulai kariernya di awal era 2000an, dan kemenangan terakhirnya atas James Nakashima di ONE: UNBREAKABLE bulan lalu menunjukkan bahwa ia masih berada dalam level terbaiknya.
Lewat kuncian neck-crank, Aoki berhasil menyudahi perlawanan Nakashima pada ronde pertama yang menambah jumlah kemenangan kuncian menjadi delapan (8), angka tertinggi dalam sejarah ONE Championship sejauh ini.
Padahal, Nakashima bukanlah lawan sembarangan. Pada laga sebelumnya, ia menghadapi Juara Dunia ONE Welterweight Kiamrian Abbasov.
Terlepas dari pencapaian fenomenalnya itu, grappler legendaris ini tak ingin menerima pujian apapun.
“Saya hanya beruntung, itu saja. Itu adalah kemenangan karena keberuntungan,” kata Aoki.
Selain itu, atlet yang tinggal di Tokyo ini pun menolak anggapan jika usia menjadi kendala bagi dirinya untuk tetap kompetitif.
“Saya tidak terlalu peduli. Usia bukanlah permasalahan,” tegasnya.
“Saya berada di dalam Circle hanya dengan celana pendek dan tanpa baju, dan kami mengenakan sarung tangan untuk memukul satu sama lain. Orang dewasa macam apa itu? [Usia] hanyalah angka.”
Dalam berbagai aspek, penampilan Aoki saat melawan atlet asal Amerika tersebut memang sangat spektakuler. Nakashima berhasil memberi perlawan sengit pada Abbasov dan hampir merebut sabuk sang juara bertahan.
Namun, “Tobikan Judan” mampu mendominasi laga dan nyaris tampil tanpa cela. Ia mendaratkan beberapa tendangan solid di area stand-up dan menghindari pukulan kiri Nakashima yang kuat, sebelum masuk ke posisi clinch.
Dari posisi itu, Aoki segera beralih ke punggung lawannya dan mengendalikan atlet AS ini sembari mengincar kesempatan untuk mencetak penyelesaian. Hal itu tiba pada menit 2:42, dimana Aoki pun mengakui itu lebih cepat dari yang ia duga, walau game plan itulah yang ia jalankan.
“James memiliki pertahanan takedown dan teknik gulat yang bagus, maka saya kira sangat pentng untuk menendang dengan tendangan kuat ke tengah tubuh dan menunjukkan kuda-kuda yang bagus,” kata bintang Jepang ini.
“Itu cukup sulit, namun saya sangat terkejut melihat submission cepat itu, itulah mengapa saya merasa sangat beruntung.”
Penyelesaian itu juga menjadi pengakuan bagi elemen lain yang tetap membuat Aoki nampak segar di dalam Circle — keinginannya untuk belajar dan menjadi seniman bela diri yang lebih baik.
“Sebenarnya, pada akhir 2020, saya mempelajari [kuncian neck crank] dari Mr [Antonio] Inoki. Saya melatihnya, dan mempelajarinya dengan baik, maka saya hanya menunjukkan itu dalam laga ini,” ungkapnya.
“Saya memiliki perasaan yang berbeda terkait tiap [kemenangan] submission. Sulit untuk memberi peringkat pada mereka. Namun dalam laga ini, saya merasa itu adalah sebuah penampilan bela diri campuran yang sangat baik, maka pada titik ini, itu mungkin menjadi salah satu yang terbaik.”
Karena “Tobikan Judan” masih mengalahkan nama-nama besar, mematahkan rekor dan bersenang-senang, ia sangat berbahagia untuk dapat terus bertarung.
Namun, bahkan pada kemenangan ketiga beruntunnya – dan dua sabuk emas ONE dalam dua laga berbeda di masa lalu – seluruh gelar Juara Dunia itu tak lagi menjadi motivasi terbesarnya.
Sebaliknya, ia hanya ingin tetap menyibukkan diri – dan mungkin menghadapi sesama atlet ikonik asal Asia lainnya.
“Jika saya mendapatkan perebutan gelar, saya akan melakukannya, namun yang terpenting adalah saya menginginkan tawaran berikutnya dengan segera. Saya hanya menginginkan laga berikutnya secepat mungkin,” kata Aoki.
“Tak ada banyak hal yang ingin saya capai lagi. Satu-satunya yang memotivasi saya adalah bahwa saya mencintai olahraga ini dan tak ada yang lebih membangkitkan semangat selain seni bela diri.”
“Tidak ada seseorang yang sangat ingin saya hadapi, namun jika itu adalah petarung Jepang, saya tertarik melawan Akiyama.”
Cara Menyaksikan ONE: FISTS OF FURY
Selanjutnya, ONE Championship akan menggelar ONE: FISTS OF FURY pada Jumat, 26 Februari di Singapore Indoor Stadium.
Ajang ini dapat disaksikan lewat ONE Super App, Vidio, Kaskus TV, MAXstream dan SCTV.
