Dampak Media Sosial pada Kepribadian Remaja: Analisis Teori Erik Erikson

Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Onik Dwi Widyatama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Remaja di Indonesia saat ini sulit dipisahkan dari smartphone dan platform digital. Tiktok, Instagra, hingga WhatsApp menjadi bagian utama kehidupan sehari-hari mereka. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2025 mencatat bahwa pengguna internet mencapai 229,4 juta jiwa, dengan Generasi Z mendominasi akses media sosial.

Penggunaan ini membawa pengaruh besar pada pembentukan kepribadian, terutama dalam pencarian identitas diri. Para ahli seperti psikolog Vera Itabiliana dari Universitas Indonesia menyoroti bahwa media sosial mengubah cara remaja mengenali diri mereka sendiri.
Manfaat Positif : Ruang Ekspresi dan Koneksi
Media sosial membantu remaja mengeksplorasi minat, berbagi kreativitas, dan bergabung dengan komunitas online. Banyak yang menemukan dukungan emosional dari teman virtual, terutama di daerah terpencil, yang mendukung perkembangan sosial dan rasa percaya diri.
Risiko Negatif : Krisis Identitas dan Kesehatan Mental
Di sisi lain, paparan konten “ideal” memicu perbandingan diri, FOMO, serta cyberbullying. Riset menunjukkan peningkatan kecemasan dan depresi pada remaja akibat penggunaan berlebih.
Perspektif Teori Psikososial Erik Erikson
Erik Erikson menggambarkan masa remaja sebagai tahap Identity vs Role Confusion. Remaja mencari jawaban “Siapa aku?” melalui eksplorasi peran dan nilai.
Kondisi Ideal Menurut Erikson: Proses berlangsung melalui interaksi nyata dengan keluarga, teman, dan masyarakat. Dukungan autentik membantu membentuk identitas kuat dan resilien.
Kenapa Kondisi Sekarang Tidak Ideal?: Media sosial menggeser eksplorasi ke dunia virtual. Validasi dari like dan komentar membuat identitas rapuh, sementara perbandingan dan cyberbullying memperburuk kebingungan peran. Remaja sering membangun topeng, menyebabkan fragmentasi diri dan masalah mental jangka panjang.
Rekomendasi Solusi
Orang tua dan sekolah perlu mendampingi dengan literasi digital serta kegiatan offline. Guru Bimbingan dan Konseling bisa menerapkan pendekatan Erikson melalui workshop refleksi diri.
Media sosial bisa menjadi alat positif jika seimbang. Namun, tanpa pengawasan bisa menghambat pembentukan kepribadian ideal. Generasi muda butuh bimbingan untuk tumbuh autentik di era digital.
