Banyak Orang Sekarang Bingung Harus Cerita ke Siapa

Dosen, penulis, dan pemerhati pendidikan. Aktif menulis tentang dunia kampus, kehidupan mahasiswa, literasi, pengembangan diri, dan fenomena sosial yang dekat dengan keseharian.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Oni Tarsani (Arsa Kalam) tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini saya sering menemukan satu jawaban yang sama dari banyak mahasiswa ketika ditanya kabarnya.
"Baik, Pak."
Jawaban itu terdengar biasa. Namun setelah obrolan berlangsung lebih lama, sering kali muncul cerita yang berbeda. Ada yang sedang kelelahan menghadapi tuntutan kuliah. Ada yang cemas memikirkan masa depan. Ada pula yang merasa sendirian meskipun setiap hari dikelilingi banyak orang.
Dari situ saya menyadari bahwa banyak orang hari ini terlihat baik-baik saja, padahal sebenarnya sedang berjuang sendirian. Mereka tetap datang ke kampus, tetap bercanda di tongkrongan, dan tetap aktif di media sosial. Namun di balik semua itu, tidak sedikit yang sebenarnya sedang memendam banyak hal.
Yang membuat saya heran, mereka tidak kekurangan teman. Mereka hanya kekurangan tempat untuk benar-benar bercerita.
Banyak Orang Terlihat Baik-Baik Saja
Ada mahasiswa yang lebih mudah mengunggah lagu galau daripada mengaku sedang lelah. Ada yang selalu menjadi tempat curhat bagi teman-temannya, tetapi bingung harus bercerita kepada siapa ketika dirinya sendiri sedang tidak baik-baik saja.
Hari ini banyak orang terlihat kuat bukan karena hidupnya baik-baik saja, melainkan karena sudah terbiasa menyimpan semuanya sendiri. Mereka tetap tersenyum, tetap bercanda, dan tetap menjawab "aman" ketika ditanya kabar. Padahal isi kepalanya sedang penuh.
Ketika Diam Terasa Lebih Aman
Saya mulai sadar bahwa banyak anak muda sebenarnya bukan tidak ingin bercerita. Mereka hanya takut pada respons yang akan diterima.
Takut dianggap berlebihan. Takut disebut terlalu sensitif. Takut ceritanya menjadi bahan pembicaraan setelah itu. Akibatnya, diam terasa lebih aman.
Padahal tidak semua orang yang bercerita sedang mencari solusi. Kadang mereka hanya ingin didengarkan.
Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022 menunjukkan bahwa sekitar 34,9 persen remaja Indonesia usia 10–17 tahun mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir.
Angka itu setara dengan sekitar 15,5 juta remaja. Data tersebut menunjukkan satu hal sederhana: banyak anak muda sedang tidak baik-baik saja, hanya saja mereka pandai menyembunyikannya.
Ramai di Layar, Sepi di Dalam Diri
Di sisi lain, media sosial membuat semua orang terlihat lebih bahagia daripada kenyataannya. Kita terbiasa melihat foto liburan, senyum terbaik, dan berbagai momen menyenangkan yang dibagikan setiap hari. Padahal hidup tidak selalu seindah yang tampil di layar.
Laporan Digital 2025 Indonesia dari We Are Social menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia menghabiskan lebih dari tiga jam setiap hari di media sosial. Ironisnya, semakin ramai dunia digital, tidak sedikit orang yang justru merasa semakin kesepian.
Kita bisa mengetahui aktivitas banyak orang dalam hitungan detik. Namun kita belum tentu tahu apa yang sebenarnya sedang mereka rasakan. Ada orang yang terlihat paling ceria di media sosial, tetapi merasa kosong ketika sendirian.
Ada yang aktif dalam berbagai kegiatan, tetapi tetap merasa tidak memiliki tempat untuk berbagi cerita. Kesepian hari ini tidak selalu berarti hidup sendirian. Kadang seseorang berada di tengah keramaian, tetapi tetap merasa tidak benar-benar dipahami.
Didengarkan Adalah Kemewahan Baru
Karena itu, mungkin sudah saatnya kita belajar mendengarkan lebih baik. Tidak setiap keluhan harus dijawab dengan nasihat. Tidak setiap kesedihan harus segera dicari solusinya.
Terkadang orang hanya membutuhkan seseorang yang mau diam sejenak dan mendengarkan sampai selesai. Mendengarkan bukan berarti harus selalu memiliki jawaban.
Mendengarkan berarti memberi ruang bagi seseorang untuk merasa diterima, dipahami, dan tidak sendirian menghadapi apa yang sedang ia rasakan. Mungkin yang dibutuhkan banyak orang hari ini bukanlah nasihat yang panjang atau solusi yang sempurna.
Mereka hanya membutuhkan satu tempat yang aman untuk bercerita tanpa takut dihakimi. Sebab di tengah dunia yang semakin ramai, ada banyak orang yang tidak kekurangan teman, tetapi kekurangan tempat untuk didengarkan. Dan sering kali, didengarkan tanpa dihakimi adalah bentuk kepedulian yang paling sederhana sekaligus paling berharga.
